Oleh : Ari Dharma – Dosen, Akademisi
Beberapa waktu belakangan ini, hari hari diramaikan oleh beragam tanggapan rakyat terhadap sentilan Bu Mega kepada ibu ibu pengajian. Tanggapan dilontarkan bukan hanya oleh ibu ibu, tapi juga bapak bapak. Dilontarkan oleh yang senang banYaget, senang saja, hingga tak senang mengikuti pengajian. Yang tak diperbolehkan menjadi peserta pengajian pun turut pula memberi tanggapan.
Bahkan, beberapa hari lalu tersebar kabar Bu Mega dilaporkan ke Komnas Perempuan karena dianggap memberikan pelabelan negatif pada ibu ibu yang mengikuti pengajian.
Runyam, padahal dalam pidato tersebut, beliau tak hanya menyentil ibu ibu yang mengikuti pengajian, tapi juga menyentil sebagian pemuda Indonesia, dengan menyatakan beliau ogah kalau kelima cucu perempuan nya yang bertubuh tinggi dan cantik itu sampai mendapatkan pacar yang pendek dan jelek.
Herannya, tak terdengar tanggapan atas sentilan terhadap pemuda tersebut, bahkan tak ada yang sampai melaporkan ke Bu Mega ke KNPI terkait sentilan yang dapat dikategorikan sebagai body shaming tersebut.
Dalam tulisan yang agak terlambat ini, saya mencoba mengajak pembaca keluar dari suasana runyam, yang membuat kita kehilangan kesempatan untuk menilai sentilan tersebut dari sudut pandang yang lebih besar, dari sudut pandang Ideologi NKRI, yaitu Pancasila.
Ajakan yang kejauhan?
Sah sah saja kalau ada yang berpendapat seperti itu, tapi secara kontekstual, sentilan tersebut beliau lontarkan saat menjadi pembicara utama dalam kapasitas sebagai Ketua Dewan Pembina BPIP, dalam seminar nasional yang diselenggarakan juga oleh BPIP, lembaga yang salah satu tugasnya melakukan pembinaan terhadap Ideologi Pancasila.
Dengan deminkian, Bu Mega dapat disebut sebagai pembina dari lembaga pembina yang membawahi para pembina yang melakukan pembinaan pengamalan Pancasila kepada rakyat diseluruh pelosok NKRI. Dalam kalimat sederhana, Bu Mega dapat digolongkan sebagai Super Pembina Pancasila.
Beliau adalah Super Pembina Pancasila dari bangsa yang sebagian eksponen nya merupakan generasi yang dibesarkan dengan P4, Penataran Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila secara berpola pola.
Generasi yang saat diterima sebagai sebagai murid SMP, penataran P4 pola 40 jam. Diterima di SMA, penataran P4 pola 40 jam. Baru sah menjadi mahasiswa jika lulus penataran P4 pola 100 jam. Bahkan, setelah lulus dan jadi sarjana lalu diterima sebagai PNS atau karyawan BUMN pun, harus lulus penataran P4 pola 100 jam.
Namun, sebagian dari rakyat yang beliau bina, adalah generasi yang tumbuh tanpa merasakan indahnya, romantisme mengikuti Penataran P4 yang berpola pola, akibatnya, tingkat Penghayatan dan Pengamalan nilai nilai Pancasila ditingkat individual rakyat pun terpaut jauh.
Bagi yang pernah mengikuti penataran P4 yang mensarikan pengamalan Pancasila menjadi 36 butir secara berpola pola puluhan tahun lalu itu, saya sarankan untuk memposisikan diri sebagai gelas kosong karena karena lembaga yang Bu Mega bina telah menyempurnakan sari pengamalan Pancasila menjadi 45 butir.
Dalam konteks penghayatan dan pengamalan nilai Pancasila, Bu Mega sebagai Super Pembina Pancasila itu tingkatannya bak Guru Besar, sementara sebagian besar rakyat Indonesia lainnya, setara dengan cantrik, murid yang mempelajari penghayatan dan pengamalan butir butir nilai Pancasila dari ucapan dan gerak gerik sang Guru Besar.
Dari sudut pandang cantrik, sentilan Bu Mega terkait ibu ibu pengajian dapat digolongkan sebagai ujian dari Maha Guru, sang Super Pembina Pancasila, untuk mengukur tingkat penghayatan dan pengamalan Pancasila ditingkat rakyat, khususnya pengamalan Sila ke-1, Ketuhanan Yang Maha Esa.
Setelah mengintip contekan di website BPIP, sebagai cantrik saya meyakini, sentilan beliau adalah ujian mengenai pemahaman terhadap butir ke-6 dari pengamalan nilai nilai Pancasila Sila ke-1, yaitu sikap saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaan masing masing.
Saya meyakini, sentilan beliau adalah ujian dalam bentuk contoh kasus perilaku yang bertentangan dengan butir ke-6 dari nilai nilai Pancasila Sila ke-1. Seberapa dalam penghayatan dan pengamalan nilai nilai Pancasila ditingkat rakyat akan beliau nilai dari tanggapan yang dilontarkan rakyat.
Tanda centang sebagai tanda benar diberikan pada tanggapan yang sesuai. Tanda silang sebagai tanda salah diberikan pada tanggapan yang tak sesuai.
Kritik yang dilontarkan rakyat, bahkan ada yang sampai melaporkan ke Komnas Perempuan, adalah contoh dari tanggapan yang mendapat tanda centang, tanda telah memberikan tanggapan yang sesuai dengan butir butir pengamalan Pancasila yang diuji.
Lulus dari ujian Bu Mega, dengan nilai yang tergantung pada pemilihan diksi yang dipergunakan.
Pembelaan terhadap sosok pribadi beliau oleh sebagian rakyat, bahkan ada yang sampai mencela rakyat lain yang memberi tanggapan berupa kritikan, adalah contoh dari tanggapan yang mendapat tanda silang, karena memberikan tanggapan yang berlawanan dengan tanggapan yang sesuai dengan butir butir pengamalan Pancasila yang diuji.
Tak lulus dari ujian Bu Mega, dengan nilai yang juga tergantung pemilihan diksi.
Seperti perdebatan diruang kelas seusai ujian dadaka, begitulah perdebatan yang terjadi di dunia maya maupun dunia nyata. Perdebatan yang biasa terjadi diakhir ujian yang tingkat kesulitannya terlalu tinggi bagi para peserta.
Perdebatan muncul mungkin karena sebagian rakyat masih menganut Sistim Kebut Semalam, yang baru akan belajar jika tahu ada ujian yang akan dihadapi, rasa kaget yang menimbulkan saling menyalahkan. Agar rakyat tak kaget dan saling menyalahkan, tolong agar Bu Mega tak lagi memberikan ujian dadakan seperti ini.
Semua rakyat ingin lulus dari ujian, celah yang ditimbulkan pertanyaan multi tafsir menjadi kesempatan bagi mereka yang memberikan jawaban yang salah untuk menyamarkan kesalahannya hingga terkesan benar. Silang pendapat yang mengakibatkan rakyat tak lagi membahas jawaban yang benar, tapi siapa yang dianggap benar.
Akibatnya, rakyat kehilangan kesempatan untuk melihat sentilan ini dari sudut pandang penghayatan dan pengamalan Pancasila. Agar rakyat dapat belajar secara optimum, untuk selanjutnya mohon agar Bu Mega memberi ujian dalam bentuk contoh kasus yang sesuai dengan butir nilai pengamalan Pancasila saja.
Agar tak terjadi kesalah pahaman, saya tak menanggapi sentilan Bu Mega kepada pemuda bukan karena tinggi saya ada diatas rata rata pemuda Indonesia, apalagi bukan karena wajah saya agak mirip mirip aktor Korea, tapi semata mata karena saya sudah tak muda lagi, tak masuk dalam golongan yang dapat menjadi pacar salah seorang dari cucu beliau yang cantik dan semampai itu.





















