Fulan, atau yang disebut Suparman, muncul ke permukaan dengan modal ujaran kebencian terhadap Imam Besar HRS. Sosok ini, yang dikabarkan berasal dari Lampung, nampak lebih sebagai residu dari kaum jahiliyah—mereka yang sakit hati dan tidak mampu menerima kebenaran yang diperjuangkan oleh para ulama istiqomah.
Sebagai penulis, saya mengakui kesulitan menumpahkan amarah terhadap Suparman. Faktor utama adalah keterbatasan saya dalam ilmu fikih dan tauhid yang mendalam, namun satu hal yang jelas: Suparman adalah gambaran nyata dari pola pikir jahiliyah modern. Demi memahami lebih lanjut, saya membagikan video ini kepada senior aktivis Muslim, Prof. Dr. Eggi Sudjana, seorang tokoh yang mendapatkan penghormatan dari Hariman Siregar—sosok aktivis legendaris tahun 1974.
Dalam video yang dikirim oleh Prof. Dr. Eggi, narasi yang disampaikan begitu kuat dan tepat sasaran. Bagi siapa pun yang memiliki nalar sehat dan kemauan berpikir, video tersebut memberikan perspektif yang tajam terhadap sepak terjang Suparman. Dalam kajian akademis yang disusun oleh para aktivis senior Muslim, ada prinsip BES IS THE BEST—akronim dari Obyektif, Sistematis, Terstruktur, Toleran, Jujur, Benar, dan Adil. Sayangnya, Suparman justru mewakili kebalikannya: kebencian mendalam, dengki, dan retorika devide et impera yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam.
Kesimpulannya, Suparman adalah gambaran dari karakter manusia jahiliyah yang menolak nilai-nilai Islam yang dibawa oleh para Habaib dan ulama. Secara fisik, dia mungkin berpakaian lebih rapi, menutupi aurat, tetapi secara lisan dan gagasan, ia terjebak dalam pola pikir yang bertentangan dengan syariat. Ia hanya memperalat isu untuk kepentingan politik pragmatis, tanpa inovasi, selain modal lidah yang menyebarkan kebencian.
Lebih jauh lagi, keterkaitan Suparman dengan Dedi Mulyadi perlu dicermati. Ia tampak menggunakan figur ini sebagai alat untuk menyerang tokoh kharismatik yang ia benci, dengan tujuan menghancurkan pola pikir umat Islam agar kembali ke model peradaban jahiliyah. Hal ini mirip dengan strategi politik pencitraan “Jokowisme” yang ingin menghidupkan kembali pola-pola lama yang merusak umat Islam.
Sebagai refleksi, ada sebuah pepatah ilmiah dari aktivis senior: “Jika seseorang memiliki dasar kebencian, bagaimana ia bisa berlaku adil?” Suparman, dalam hal ini, telah menunjukkan bahwa penyakit yang sulit diobati bukanlah penyakit fisik, melainkan penyakit hati. Dan jika masih ada harapan, maka sebaiknya ia segera bertaubat sebelum kebenciannya semakin membutakan hatinya.
Referensi: Video Terkait
Penulis: Damai Hari Lubis, Jamaah Imam Besar Negeri ini, Dr. Habieb Rizieq Shihab.






















