“Jadi siapa Bang, yang harus ane pilih Capres 24 itu?”, tanya kawanku Ardhi. Kan, belum ada capres yang resmi, jawabku. Sebenarnya, Ardhi ingin tahu, siapa jago saya. Tapi sebaliknya, saya ingin menjelaskan, pertimbangan apa saja, yang harus menjadi dasar untuk memilih seorang Capres itu.
Gitu lho.
Saya belum punya pilihan, kata aku. “Ya, saya mengerti, seperti yang Abang katakan, belum ada calon yang resmi”, Ardhi menimpalinya. “Dari nama-nama yang muncul, kira-kira jatuh pilihan Abang kepada siapa?”, desak Ardhi. Ah, untuk saya nama itu tidak penting. Siapapun mereka, syah menurut konstitusi. Tapi yang ingin saya tahu, bila mereka terpilih kelak, apa sebenarnya yang akan dikerjakannya”, itu tambah-ku.
“Bener juga”, kata Ardhi.
Iya. Jangan kita memilih, karena badannya tinggi besar, atau karena tampan-rupawan, apalagi kerempeng”, sambil ngakak..
”Abang pernah dibully, karena diframing sebagai body shaping itu, kan?”, lanjutnya. Iya, heboh banget. Padahal kan yang tinggi besar itu, jawaban para pemilih. Bukan pikiran saya. Dan yang kerempeng, itu julukan dari Ibu Megawati!, begitu jawab saya. Tapi biarlah, karena untuk saya, yang penting bukan delijk hukum. Sebenarnya, statement itu, edukasi. Supaya kemudian, itu jangan menjadi alasan, untuk memilih calon pemimpin bangsa, yang harus membawa 270 juta penduduk kita, kearah kesejahteraan.
“Lanjutkan Bang, jadi pertimbangan apa untuk memilih Calon Presiden itu?”.
Nah, ini bagus. Kita ini, menganut system Presidential. Jadi orang memilih orang. Tidak memilih partai, seperti dalam system parlementer. Artinya, pertimbangan memilih calon-calon itu, adalah soal visi dan program-program yang akan dilakukannya. Idea-idea dan pikran-pikiran otentiknya.
Mimpinya, ya Bang?.
Betul. Tinggal mimpi seperti apa yang terwujud dalam bayang angan-angan pikirannya. Ini yang paling penting. Harus berjanji kepada rakyat. Bila kelak terpilih, angan-angan itu yang akan diwujudkannya. Itu yang disebut sebagai social contract.
“Faham, Bang. Tapi janji-janji seperti apa?”.
Begini. Disinilah para Capres itu, harus kita uji. Kemampuan seorang Pemimpin itu, adalah tatkala faham membaca dan melihat esensi dari setiap persoalan yang muncul. Jadi memunculkan program-progam yang diumbar dalam kampanye, adalah jawaban terhadap berbagai pokok permasalahan bangsa selama ini.
Lanjut, ya.
Di masa lalu, orang-orang menjuluki Indonesia “Tanah Surga”. Dilihat dari sisi mana pun julukan itu tidak berlebihan. Indonesia memang Istimewa. Kekayaan melimpah tersimpan diatas dan di bawah buminya di tujuh belas ribu lebih pulau. Kekayaan laut tersimpan di dalam laut dengan luas hingga 3.257.357 km². Kurang kaya apa kita?
“Tetapi mengapa rakyat kita, masih tertap miskin dan jauh tertinggal dari bangsa lain, gitu kan maksud Abang?”
Itu betul. Para Pemimpin dan Para Penyelenggara Negara di Negeri tercinta ini, justru abai menkonkritkan kesejahteraan dan ke gemilangan bangsa dan negara Indonesia sebagai rumah bersama untuk kehidupan bersama; Abai menghormati dan melanjutkan keberhasilan revolusi nasional yang dipimpin para pendiri bangsa dalam mencapai kemerdekaan Indonesia
“Jadi apakah persoalan yang sesungguhnya, minus pemimpin yang hebat-hebatkah, atau bagaimana?”
Nah, ini pertanyaan yang paling penting. Coba saya kasih ilustrasi begini; Di Jalan toll, sopir angkot yang biasa ugal-ugalan, seperti dijalan raya biasa, mengapa bisa tertib seperti bangsa-bangsa lain di negara-negara maju? Dan Sang Professor yang nyopir, lalu melawati jalan-jalan seperti di Lenteng Agung, bisa siksak tarung dengan sopir-sopir angkot yang merajai jalan raya disitu?
Di Jalan toll, disana ada system yang baik. Sehingga orang yang tidak berpendidikan sekalipun, bisa iukut tertib. Di Lenteng Agung, karena system lalu lintasnya buruk, Professorpun terlibat ikut system yang buruk itu. Hasil pendidikannya tak berdampak.
“Terus, bagaimana dengan Pilpres 24 itu, Bang?”
Jadi, sepanjang para kandidat itu, tidak mengangkat perbaikan system bernegara ini, maka siapapun Presidennya kelak, dia adalah korban dari system yang buruk itu.
“Sepakat Bang, pantes dari mulai presiden pertama hingga sekarang, tak lepas dari caci maki dan bullying rakyat. Gitu kan Bang”, tegasnya.
Bahkan Presiden Pertama dan kedua, dilengserkan oleh rakyat. Sementara Gusdur diimpeached oleh mereka yang memilihnya.
Nah, saya tidak tertarik untuk memilih Capres, yang menyampaikan Program kerja seperti membangun toll laut, berbagai macam-macam kartu. Pilihan saya kepada dia yang menyampaikan program “perbaikan system bernegara secara holistic”. Supaya tidak abai dari cita-cita para founding fathers, yaitu bermimpi bisa menjadi bangsa yang cerdas. Mencerdaskan kehidupan bangsa!.
Jadi jangan sampai terulang lagi, Bung Karno, dilengserkan Rakyat. Pak Harto, mengundurkan diri. Prof Habibi, di boikot oleh Partainya sendiri. Gusdur terpilih dari partai yg suaranya kecil, lalu dimakjulkan oleh pemilihnya sendiri. Megawati, melanjutkan Gusdur, karena kompromi poros tengah. SBY usai 10 tahun jadi presiden, tapi penuh dengan caci-maki. Jokowi bisa jadi Gubernur hingga Presiden, sebenarnya telah menghianati sumpah jabatan saat jadi walikota dan janjinya sendiri saat mencalonkan diri jadi Gubernur DKI.
Pilpres 24, lebih gila lagi, Capres-capres, disusung oleh Partai-partai hasil Pemilu 19 dengan PT 20%.
Itulah pokok permasalahan bangsa, sehingga menghambat tercapainya kesejahteraan rakyat itu, bahkan mengancan perpecahan.
Mau sampai kapa terus begini?
Salam Waras


























