Fusilatnews – Masyarakat kita ini memang punya kebiasaan baru yang agak menyenangkan: mereka tak bisa lagi dibohongi terlalu lama. Orang boleh jadi presiden, menteri, jenderal, atau bahkan raja minyak goreng, tapi kalau satu kata saja kedapatan berdusta, wah, siap-siap saja diborbardir netizen.
Begitulah yang terjadi pada seorang tokoh besar—saking besarnya, fotonya tak pernah absen dari baliho dan layar kaca. Ia berkata dirinya pernah kuliah di suatu kampus negeri, mengikuti prosedur yang benar, masuk lewat jalur Sipenmaru, bayar uang semester seperti mahasiswa normal lainnya, dan bahkan katanya ikut KKN segala. Cerita itu disampaikan berkali-kali, dengan suara mantap dan wajah tenang seperti ustaz di khutbah Jumat.
Tapi celaka tiga belas! Rakyat Indonesia ini makin cerewet. Mereka bukan rakyat Orde Baru yang bisa dikibuli pakai istilah “rahasia negara” atau “untuk kepentingan stabilitas nasional”. Mereka tanya: ambil berapa SKS? Lalu, ikut Sipenmaru tahun berapa? Coba tunjukkan koran pengumuman kelulusan Sipenmaru tahun itu!
Netizen sekarang itu seperti KPK digital. Mereka lebih jeli dari dosen pembimbing skripsi. Bukti bayar uang kuliah semester 4 diminta, lalu disusul semester 5, 6, 7, hingga 10. Mereka tanya juga: kenapa pembayaran semester 4 bisa ditemukan, tapi semester 8 seperti lenyap ditelan dinosaurus? Ini akal-akalan atau ilmu kanuragan?
Tak cukup sampai di situ, saksi-saksi mulai dicari. Satu kos? Angkatan berapa? Kamar nomor berapa? Pernah nyontek bareng? Pernah rebutan cerek listrik atau tidak? Tapi sayang seribu sayang, yang muncul bukannya teman kuliah, malah orang-orang yang “mengaku” tahu, dengan keterangan yang satu sama lain bertabrakan seperti sepeda motor ugal-ugalan di perempatan.
Aneh, kawan. Kita ini bangsa yang katanya paling mudah memaafkan, tapi urusan ijazah ternyata lebih penting dari urusan dosa. Kalau ada orang ngaku kuliah tapi tak jelas SKS-nya, alamat rumah kost-nya pun tak teringat, itu bukan hanya mencurigakan, tapi menggelikan.
Saya sendiri masih ingat, tahun segitu saya kost di Rawamangun. Kamar sempit, lantai keramik retak, teman sekamar bau rokok. Tapi justru di situlah kehidupan mahasiswa terasa. Ada nyontek bareng, ada teman mabuk, ada rebutan mie rebus jam dua pagi, dan ada juga belajar serius sampai pagi menjelang. Tempat seperti itu bukan cuma rumah kost, tapi museum kecil kehidupan muda.
Lalu, masa seorang pemimpin bangsa—yang katanya dulu mahasiswa tulen—bisa lupa di mana ia tidur dan belajar selama kuliah? Ini bukan soal ingatan, tapi soal kejujuran. Orang yang jujur tak perlu mengingat-ingat terlalu keras; karena yang pernah ia jalani benar-benar terjadi, bukan karangan belaka.
Dan sekarang, karena tidak mau jujur dari awal, ia pun dikuliti habis-habisan. Netizen bukan hanya ingin tahu, tapi ingin memverifikasi. Karena bangsa ini sudah terlalu sering ditipu oleh mulut manis yang di belakangnya ternyata cuma hampa belaka.
Orang bilang, “Jika kau jujur, kau tak perlu takut diinterogasi.” Tapi kalau dari awal sudah berbohong, jangan salahkan publik kalau akhirnya mereka membawa kaca pembesar, menguliti sampai ke seluk-beluk pengumuman Sipenmaru dan kwitansi semester 9.
Kita ini bukan mencari kesempurnaan dari pemimpin. Tapi kita muak dengan kebohongan yang dibungkus pencitraan. Satu kebohongan kecil, bila tak segera dikoreksi, akan tumbuh seperti utang—dan akan menjerat sendiri pemiliknya.





















