Silvester Matutina bukan petarung dalam diam. Ia bukan pula macan tidur yang menunggu waktu untuk menggigit. Ia adalah jenis manusia yang begitu lidahnya basah oleh opini, maka yang keluar bukan embun, melainkan api. Dan dalam perkara ini, ia melempar api ke tempat paling sensitif: barisan para purnawirawan pasukan khusus.
Ia bukan tentara. Jangankan menembak, memegang senjata api barangkali lebih sering dalam game daring. Tetapi nyalinya kadang melebihi komandan tempur. Dengan satu kalimat pendek, ia menantang sejarah, struktur, dan institusi yang selama ini disakralkan dengan hormat dan upacara. Ia bicara soal Soenarko—mantan Danjen Kopassus—dengan gaya yang tak bisa disebut diplomatis, bahkan cenderung ad hominem, yaitu menyerang pribadi, bukan pikiran.
Dalam republik ini, menyerang ide dengan ide masih dimaafkan. Tapi menyerang pribadi? Wah, itu seperti menabur garam di atas bara. Maka, tak perlu heran bila beberapa purnawirawan Kopassus—yang kini lebih banyak bertanam anggrek atau main golf—mendadak mengencangkan ikat pinggang dan menggeram: “Kami akan cari dia sampai ke lubang semut!”
Tentu saja ini bukan film Mission: Impossible. Tapi ancaman itu bukan basa-basi. Sebab yang terluka bukan sekadar perasaan, tapi kehormatan korps. Ini perkara martabat yang dalam dunia tentara, lebih sakral dari pangkat dan seragam. Dan Silvester, dengan segala keberaniannya, atau mungkin keluguannya yang disengaja, telah menyinggung itu.
Apakah Silvester takut? Kita tidak tahu. Tapi dalam beberapa wawancara, dia tampak tenang. Mungkin karena ia percaya bahwa demokrasi menjamin kebebasan berpendapat—sekalipun pendapatnya menyerempet bahaya. Atau, bisa jadi karena ia terlalu sibuk menikmati status barunya sebagai komisaris di perusahaan BUMN.
Maka kita teringat pada sebuah gaya lama yang dipopulerkan para pendebat klasik: jika tak bisa membantah argumen seseorang, seranglah kepribadiannya. Ad hominem, begitu kata buku logika. Silvester menggunakan itu, entah karena lupa membaca buku, atau karena sadar bahwa dalam zaman sekarang, yang viral bukanlah substansi, melainkan sensasi.
Dan di sinilah republik ini kadang jadi panggung sandiwara. Seorang sipil menyerang kehormatan militer, lalu tentara yang sudah pensiun mau cari dia ke “lubang semut”. Silvester menjadi tokoh tragikomedi. Ia lucu, tapi juga berbahaya. Ia seperti badut yang membawa bom. Tak jelas apakah ia sadar sedang main api, atau sedang membakar dirinya sendiri.
Tapi seperti yang sering saya tulis Kadang yang bikin gaduh bukan peluru, melainkan lidah yang terlalu panjang. Maka biarlah drama ini berjalan. Publik menonton, media menyorot, dan para jenderal tua mungkin sudah mengatur strategi, sambil tetap menyiram bunga anggreknya.
Karena di republik ini, kadang satu kata bisa menggetarkan lebih keras dari satu batalyon.






















