Dalam politik, keberanian mengambil jarak dari masa lalu bukanlah pengkhianatan, melainkan seni membaca arah angin. Presiden Prabowo Subianto memberi sinyal penting: ia ingin berdialog dengan para tokoh kritis, termasuk mereka yang kerap menyuarakan “Indonesia gelap”. Ini bukan sekadar retorika, tetapi bisa menjadi awal dari lompatan politik yang menentukan: Prabowo bersama rakyat—bukan bersama bayang-bayang kekuasaan lama bernama Jokowi.
Sinyal itu terasa jelas ketika Prabowo menyatakan kesediaannya berdialog dengan tokoh-tokoh yang mengkritik tajam arah bangsa, seperti pakar hukum tata negara dari Universitas Andalas, Feri Amsari. Feri adalah sosok yang sejak lama berdiri di garis depan dalam menyuarakan keresahan publik soal pelemahan demokrasi, pembentukan undang-undang yang tidak partisipatif, dan praktik kekuasaan yang mengabaikan suara rakyat. Ketika Prabowo membuka pintu dialog, Feri menyambut—dengan syarat: terbuka, jujur, dan tanpa sensor.
Inilah momen penting. Rakyat tidak meminta Prabowo menjadi revolusioner, tetapi konsisten dengan prinsip keadilan dan rasionalitas yang dulu ia gaungkan. Dialog yang diinginkan bukan basa-basi politik. Bukan pula sandiwara keakraban untuk meredam oposisi. Rakyat ingin kejujuran: akui bahwa selama ini banyak kebijakan yang merugikan kepentingan publik. Akui bahwa kedekatan dengan oligarki dan kompromi politik telah membuat demokrasi Indonesia terjebak dalam kelamnya korupsi, nepotisme, dan pembungkaman kritik.
Jika Prabowo benar-benar serius, ia harus mulai dari langkah yang sederhana tapi penuh makna: tinggalkan Jokowi. Tidak secara personal, tapi secara politik. Putuskan warisan kebijakan yang menyimpang: UU kontroversial, peminggiran demokrasi, dan pembangunan simbolik yang menelan anggaran, tapi melupakan kesejahteraan. Itu bukan pengkhianatan. Justru, dalam politik, mengambil sikap berani melawan arus demi rakyat adalah kemenangan sejati.
Feri Amsari dengan gamblang mengingatkan Prabowo bahwa selama ini tidak ada langkah konkret dari setiap pernyataan politiknya. Ini kritik keras, tapi membangun. Prabowo harus menyambut kritik itu dengan kepala dingin, bukan dengan emosi yang meletup. Tidak ada lagi ruang bagi pemimpin yang memukul meja saat debat, tapi tidak sanggup memukul ego sendiri demi mendengar rakyat.
Kehendak Prabowo untuk berdialog harus dibuktikan dengan keputusan politik yang tegas. Pecat para tokoh kontroversial di sekelilingnya yang menjadi simbol masa lalu yang gelap: Luhut Binsar Pandjaitan, Dasco, dan Teddy. Mereka bukan wajah perubahan. Mereka adalah bayang-bayang masa lalu yang justru menjauhkan Prabowo dari rakyat yang pernah mempercayainya.
Prabowo harus menyadari, kemenangan tidak datang dari kompromi dengan kekuasaan lama, tetapi dari keberpihakan pada suara yang paling jujur: suara rakyat. Jika ia memilih berdiri di tengah rakyat yang kecewa, maka Prabowo akan menemukan legitimasi baru. Bukan karena kursi kekuasaan, tapi karena kepercayaan yang tumbuh dari bawah.
Dialog yang tulus, kebijakan yang konkret, dan sikap tegas meninggalkan masa lalu kelam—itulah tiga langkah yang bisa membawa Prabowo dari sekadar simbol kekuasaan, menjadi pemimpin sejati. Politik adalah seni kemungkinan. Dan saat ini, kemungkinan itu adalah kemenangan—jika ia benar-benar memilih bersama rakyat.























