Fusilatnews – PKS sejak awal selalu menempatkan diri di barisan oposisi. Ketika partai-partai lain bersatu dalam barisan kekuasaan, PKS memilih jalan yang berbeda—menyebut diri sebagai pengusung amar ma’ruf nahi munkar dalam politik. Tetapi, ironisnya, ketika republik diguncang skandal serius soal keabsahan ijazah Jokowi dan Gibran—isu yang menyentuh langsung soal integritas, kejujuran, dan legitimasi kekuasaan—PKS justru diam seribu bahasa.
Apakah PKS sudah kehilangan nyali? Atau jangan-jangan sudah terbiasa nyaman di posisi “oposan gadungan”? Inilah paradoks besar yang membuat rakyat heran. Partai yang mestinya berteriak paling lantang, malah memilih tiarap. Di mana keberanian yang dulu digadang-gadang sebagai identitas oposisi?
PKS kini tampil seperti oposisi banci—keras saat membahas isu recehan, tetapi bisu saat menyentuh inti persoalan negara. Padahal, skandal ijazah Jokowi dan Gibran bukan sekadar polemik akademis. Ini menyangkut marwah kepemimpinan, kredibilitas politik, dan kepercayaan rakyat. Kalau soal seserius ini saja tidak mampu diperjuangkan, apa arti keberadaan PKS sebagai oposisi?
Label oposisi seakan hanya tempelan. PKS tersingkir dari pusaran merah putih, dicap oposan, tapi tak benar-benar memainkan peran oposisi. Mereka terjebak pada politik aman—takut kehilangan kursi, takut kehilangan ruang di panggung politik, takut kehilangan simpati kekuasaan. PKS memilih jalan sunyi, menutup mulut, dan pura-pura tak tahu.
Apakah PKS lupa pada jargon amar ma’ruf nahi munkar? Bukankah menentang kebohongan, kemunafikan, dan segala bentuk penipuan publik adalah inti dari dakwah politik mereka? Kini, jargon itu terdengar kosong, tinggal slogan basi yang dipajang tiap kampanye tapi tidak hidup dalam praktik.
PKS gagal membuktikan dirinya sebagai oposisi yang berani. Mereka hanyut dalam politik kepura-puraan. Kalau diam terus, apa bedanya PKS dengan partai koalisi yang sekadar cari selamat? Bahkan lebih buruk, karena mereka menjual citra sebagai partai Islam yang katanya menegakkan kebenaran.
Rakyat menunggu, tapi PKS justru bersembunyi. Diam dalam momen paling penting sama saja dengan pengkhianatan terhadap peran oposisi. Dan rakyat berhak kecewa. PKS boleh saja merasa dirinya bersih, tetapi sikap diam di tengah skandal besar ini justru menegaskan: keberadaan mereka makin tak relevan.
PKS harus memilih: tetap menjadi oposisi banci yang takut pada bayang-bayang kekuasaan, atau kembali ke jati dirinya sebagai partai yang berani berkata benar meski pahit. Jika terus memilih diam, sejarah akan mencatat: ketika bangsa ini menuntut suara kebenaran, PKS justru bungkam.


























