
Oleh M Yamin Nasution, S.H. – Pemerhati Hukum
Jakarta, Indonesia. Ribuan dokumen rahasia yang diduga disita oleh intelijen Iran telah mengungkap kemungkinan keterlibatan Direktur Jenderal IAEA Rafael Grossi dalam manuver politik Israel terkait isu nuklir Timur Tengah. Bocoran komunikasi yang disiarkan oleh al-Alam TV dan PressTV, media resmi milik pemerintah Iran, menyebutkan bahwa Grossi tidak lagi netral, bahkan diduga berkoordinasi langsung dengan Tel Aviv dalam menyusun narasi global tentang ancaman nuklir Iran.
Skandal ini mengguncang kredibilitas IAEA, lembaga yang seharusnya menjadi penjaga netralitas nuklir dunia. Bila benar, maka kita sedang menyaksikan bagaimana hukum internasional bisa dibengkokkan oleh kekuasaan geopolitik, dan lebih jauh lagi: bagaimana perempuan cantik, kampus elite, dan media global digunakan sebagai tameng narasi manipulatif.
Badan Dunia Dituding Jadi Agen Intelijen
Komunikasi terenkripsi yang bocor menunjukkan bahwa Grossi beberapa kali diminta menyisipkan frasa-frasa “destabilizing potential” dan “non-compliant trajectory” terhadap laporan tentang Iran. Di sisi lain, laporan mengenai aktivitas nuklir Israel justru dihilangkan dari dokumen resmi IAEA, termasuk absennya inspeksi atas instalasi nuklir di Dimona sejak 1970-an.
“Ini bukan sekadar pelanggaran administratif. Ini adalah pelanggaran terhadap Statuta IAEA dan prinsip : non-diskriminasi hukum internasional,” ujar seorang pakar hukum dari Universitas Tehran, dikutip oleh Mehr News Agency.
Kampus, Aktivis, dan Propaganda Berwajah Lembut
Dalam dokumen bocor juga ditemukan strategi yang disebut sebagai “gendered soft diplomacy”. Strategi ini diduga melibatkan tokoh-tokoh perempuan dari kalangan akademik, aktivis, bahkan selebritas, yang dikemas sebagai “moderator netral” atau “juru bicara global.” Dalam praktiknya, mereka menyuarakan narasi yang cenderung mendukung Israel dan mendiskreditkan Iran.
Salah satu bukti visual adalah poster seminar internasional bertajuk “Nuclear Energy in the Middle East: Israeli and Iranian Perspectives”. Seminar itu menampilkan tiga pembicara perempuan:
- Seorang profesor dari Tel Aviv University (TAU)
- Dosen dari Harvard Kennedy School of Government
- Artis dan aktivis HAM asal Israel dan Tak ada satu pun pembicara dari Iran.
Beberapa nama universitas terkemuka yang sering disebut dalam dokumen sebagai pusat kolaborasi naratif atau kegiatan seminar bertema non-proliferasi, antara lain:
- Tel Aviv University (TAU), melalui think tank INSS, sering mengadakan konferensi bersama IAEA dan LSM Eropa.
- Harvard University, terutama Kennedy School, dengan banyak alumnus di IAEA dan lembaga Barat.
- University of Vienna, mitra lokasi IAEA dan tempat beberapa diskusi strategis berlangsung.
- Hebrew University of Jerusalem, banyak terlibat dalam riset nuklir dan kerja sama diplomatik.
- Georgetown University, School of Foreign Service, menyelenggarakan seminar tahun 2023 yang disebut sepihak oleh pengamat Iran.
Netralitas yang Terkikis dan Dunia Tanpa Wasit
Bila badan dunia seperti IAEA tunduk pada kepentingan satu negara, dan bila kampus elite serta media digunakan untuk membentuk opini dunia berdasarkan kepentingan geopolitik, maka kita sedang menyaksikan keruntuhan etika global.
Konflik Timur Tengah bukan lagi sekadar soal senjata dan ideologi, melainkan juga soal panggung narasi, dan siapa yang bisa mengendalikan microphone. Ketika suara perempuan, kampus, dan media digunakan sebagai medium yang tampak netral padahal menyimpan misi terselubung, maka yang terancam bukan hanya perdamaian, tapi juga kejujuran dunia akademik dan pers.
Seruan untuk Verifikasi dan Tanggung Jawab
Tuduhan ini tentu perlu diverifikasi secara independen, termasuk oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa, pengawas media internasional, dan akademisi yang disebut dalam dokumen. Tetapi arah bukti dan pola interaksi yang terlihat patut untuk diinvestigasi lebih dalam.
Jika Rafael Grossi terbukti menyalahgunakan jabatannya, maka sejarah akan mencatatnya bukan sebagai pelayan perdamaian dunia, melainkan sebagai agen naratif dalam konstelasi kekuasaan global.

























