Damai Hari Lubis – Pengamat Kebijakan Umum Hukum dan Politik
Mata dunia kini tertuju ke Solo. Bukan karena kekuasaan, bukan pula karena nama besar, tapi karena ada nyala kecil yang menantang gelapnya kabut kebohongan. Itulah semangat kami—TPUA—dalam perjalanan yang disebut-sebut penuh ancaman, namun sejatinya hanyalah langkah penuh keyakinan.
Isu soal persekusi oleh Hercules terhadap kami, para tamu yang ingin bertandang ke rumah Presiden Jokowi, saya anggap isapan jempol belaka. Apakah mungkin seorang tokoh seperti Eggi Sudjana—Ketua TPUA sekaligus penasihat GRIB—datang untuk cari ribut dengan kelompok yang justru ia dampingi sejak awal? Lebih dari itu, para advokat di lingkaran GRIB adalah rekan-rekan kami sendiri, sesama penegak hukum dan pencari keadilan.
Kami datang bukan untuk mencaci, apalagi mengacau. Kami datang membawa surat, bukan seruan perang. Kami ingin bersilaturahmi, bukan berseteru. Dan di dalam surat itu tertulis jelas: kami tidak mencari musuh, kami mencari kebenaran. Hanya itu.
Apakah salah, jika kami—atas nama publik—ingin tahu keaslian ijazah seorang mantan Presiden yang kini masih menjadi tokoh sentral dalam program ekonomi nasional? Bukankah itu hak yang dijamin oleh Undang-Undang Keterbukaan Informasi Publik? Bukankah itu bagian dari peran serta masyarakat dalam menegakkan etika dan hukum?
Kami percaya, aparat Polri yang terhormat akan menjunjung tinggi tugasnya sebagai pengayom, bukan alat intimidasi. Kami percaya, Presiden Prabowo Subianto—pemimpin yang kami dukung sepenuh hati sejak 2014—tidak akan membiarkan persekusi terjadi terhadap para emak-emak, terhadap para pakar, terhadap kami yang datang dengan niat baik.
Kami tahu, ada yang mencoba menghalangi. Tapi kami tidak datang dengan kebencian. Kami datang dengan cinta terhadap kebenaran. Kami datang bukan karena benci pada Jokowi, tapi karena cinta pada Indonesia yang berhak tahu.
Apakah bertamu ke rumah eks Presiden adalah kejahatan? Apakah menanyakan keaslian ijazah adalah makar? Jika begitu, jangan salahkan kami bila demokrasi tak lagi kami temukan di bumi yang kami cintai ini.
Kami tidak membawa senjata. Tapi kami membawa pertanyaan. Dan satu pertanyaan bisa lebih mengguncang daripada seribu peluru.
Kami tidak datang untuk menang. Kami hanya datang untuk mendengar: benarkah, ijazah itu asli?
Dan jika jawabannya jujur, maka kami pulang dalam damai. Tapi jika tidak… biarlah sejarah yang mencatat siapa yang bersembunyi di balik tembok istana.
Damai Hari Lubis
Koordinator TPUA (Tim Pembela Ulama dan Aktivis)






















