Oleh: Muhamad Satria
Bisnis telekomunikasi di Indonesia memasuki babak baru dengan hadirnya Starlink, perusahaan telekomunikasi milik Elon Musk. Hari ini, Starlink mulai beroperasi di wilayah udara Indonesia. Kehadiran Starlink diibaratkan seperti batu besar yang jatuh ke air, menimbulkan riak dan gelombang yang menggoyang bisnis telekomunikasi dalam negeri. Tentu, ini menimbulkan kekhawatiran, meskipun ada juga yang menyambut baik. Apa yang akan terjadi ketika Starlink beroperasi di Indonesia? Benarkah operator telekomunikasi dalam negeri terancam? Bagaimana seharusnya mereka dan pemerintah bersikap? Yuk, kita cari tahu.
Inovasi Starlink
Pada tahun 2015, Elon Musk mengejutkan dunia dengan revolusi tata kelola telekomunikasi internet melalui Starlink. Selama ini, layanan internet dan perluasan jaringannya dilakukan operator telekomunikasi dengan membangun jaringan kabel serat optik dan stasiun pemancar di daratan atau menggunakan satelit di orbit yang jauh. Starlink memilih pendekatan berbeda dengan membangun armada satelit di orbit rendah, sekitar 550 km dari Bumi. Dengan posisi satelit yang lebih dekat, pengiriman dan penerimaan data bisa lebih cepat. Starlink mengklaim kecepatan internet mereka mencapai 350 Mbps, meskipun sumber lain menyebutkan 160 Mbps, tetap jauh di atas rata-rata kecepatan layanan data seluler di Indonesia yang hanya 21 Mbps.
Selain itu, Starlink mampu melayani orang-orang di daerah terpencil dengan kecepatan yang sama dengan mereka yang menggunakan jaringan kabel serat optik di kota besar. Ini adalah langkah revolusioner yang mengubah model layanan telekomunikasi global.
Pro dan Kontra Kehadiran Starlink di Indonesia
Namun, inovasi Starlink bukan tanpa cacat. Timotius, CEO MyRepublic, mengingatkan beberapa kelemahan layanan internet satelit, seperti stabilitas, kecepatan, dan latensi rendah yang dibutuhkan para pengguna internet.
Pemerintah Indonesia lebih melihat kelebihan dari Starlink dan telah menjajaki kerja sama. Baru-baru ini, Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin bertemu Elon Musk untuk mendukung infrastruktur internet di ribuan Puskesmas di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) yang masih terbatas akses internetnya. Dengan adanya satelit Satria dan Starlink, konektivitas di seluruh penjuru negeri diharapkan semakin optimal.
Masyarakat Indonesia pun antusias menyambut Starlink. Situs starlink.com mencatat sudah ada 13.901 warga Indonesia yang berminat terhadap layanan Starlink, dengan 415 di antaranya sudah membayar deposit sebesar 100 USD.
Sikap Para Operator Telekomunikasi Lokal
Beberapa pebisnis telekomunikasi menyambut kehadiran Starlink dengan optimisme. Steve Saerang, SVP Head of Corporate Communication PT Indosat Tbk, mengatakan kedatangan Starlink akan membuat kompetisi semakin ketat, yang merupakan gejala positif bagi pasar. Timotius Max Sulaiman, CEO MyRepublic, juga berpendapat Starlink bisa membantu memberikan layanan akses internet berkecepatan tinggi, khususnya di daerah terpencil.
Namun, ada juga yang khawatir. Dian Siswarini, CEO XL Axiata, mengingatkan perlunya level playing field yang sama antara pemain global dan lokal untuk menghindari potensi ancaman bagi industri telekomunikasi lokal. Heru Sutadi, Direktur Eksekutif ICT Institute, juga khawatir pemain asing akan mendapatkan perlakuan khusus, mengingat operator lokal dikenai aturan ketat termasuk soal biaya hak penggunaan.
Proteksi atau Kompetisi?
Industri telekomunikasi lokal telah berkembang selama beberapa dekade dengan investasi besar dalam infrastruktur. Namun, teknologi tinggi Starlink dapat membuat peranan sejarah ini terabaikan. Telekomunikasi adalah area strategis yang berkaitan dengan ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan hampir semua aspek kehidupan masyarakat. Ketika bidang ini dikuasai oleh pemain asing, kedaulatan digital dan keamanan siber berisiko.
Proteksi diperlukan untuk menciptakan medan pertempuran bisnis yang adil dan menjaga keseimbangan antara kepentingan nasional dan bisnis. Namun, proteksi bukan berarti menutup diri dari inovasi dan kompetisi global. Kompetisi sering memacu inovasi. Hadirnya Starlink bisa menjadi alarm bagi operator lokal untuk meningkatkan pelayanan dan menyesuaikan produk dengan kebutuhan konsumen.
Solusi Pemerintah Indonesia
Pemerintah Indonesia tampaknya memilih Jalan Tengah. Starlink masuk melalui kolaborasi dengan PT Telkom. Pada Juni 2022, Kominfo memberikan hak labu khusus non-geostationary satellite orbit (NGSO) Starlink kepada Telkomsat. Fajrin Rasyid, Direktur Bisnis Digital Telkom, mengatakan Telkom berkolaborasi dengan Starlink untuk memperkaya cakupan telekomunikasi. Kehadiran Starlink bukan untuk melayani konsumen secara langsung, tetapi digunakan untuk akses internet melalui operator seluler dan penyedia layanan internet yang ada di Indonesia.






















