• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Strategi Diksi dalam Menghindari Tuduhan: Menelisik ‘Pihak-Pihak yang Bermain’ di Kemenag

Ali Syarief by Ali Syarief
November 18, 2024
in Feature
0
Strategi Diksi dalam Menghindari Tuduhan: Menelisik ‘Pihak-Pihak yang Bermain’ di Kemenag
Share on FacebookShare on Twitter

Pernyataan Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar tentang komitmennya untuk membersihkan Kementerian Agama (Kemenag) dari praktik-praktik yang tidak sehat menyiratkan hal penting: keberadaan pihak-pihak yang ‘bermain’ dalam konotasi negatif. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan frasa ini? Mengapa pilihan diksi seperti ini sering kali digunakan, alih-alih kata-kata yang lebih langsung seperti “korupsi” atau “penyelewengan”?

Konotasi negatif dalam konteks pernyataan ini mengacu pada pihak-pihak yang terlibat dalam praktik yang merugikan lembaga dan publik, seperti korupsi, kolusi, atau nepotisme. Penggunaan kata ‘bermain’ menciptakan citra tentang aktivitas tersembunyi yang tidak terbuka dan cenderung memiliki dampak buruk terhadap integritas institusi. Istilah ini seolah-olah menyamarkan maksud sebenarnya dengan metafora, memungkinkan pendengar untuk menafsirkan secara implisit tanpa menghadirkan tuduhan langsung yang mungkin menimbulkan dampak hukum atau kontroversi.

Baca : https://fusilatnews.com/menag-nasaruddin-komitmen-bersihkan-kementerian-agama-dari-aktivitas-berkonotasi-negatif/

Mengapa Diksi yang Jelas Sering Disembunyikan?

Penggunaan diksi yang tidak eksplisit, seperti ‘bermain’ dalam konotasi negatif, bisa menjadi upaya strategis untuk menjaga keseimbangan politik dan menghindari polemik langsung. Pejabat publik sering kali memilih kata-kata yang lebih ambigu untuk menghindari implikasi hukum atau serangan balik yang mungkin muncul jika diksi yang digunakan terlalu jelas, seperti “korupsi”. Diksi yang terang-terangan bisa mengarah pada perdebatan yang lebih panas dan mengundang reaksi keras dari berbagai pihak.

Selain itu, diksi yang tidak jelas dapat digunakan untuk menjaga citra dan reputasi, baik secara pribadi maupun institusional. Dalam kasus Menag Nasaruddin Umar, hal ini mungkin dipengaruhi oleh pengalaman masa lalunya saat menjabat sebagai Dirjen Kemenag RI, di mana pernah ada tuduhan yang mengarah kepadanya. Dengan memilih bahasa yang tidak terlalu spesifik, seorang pejabat dapat menyampaikan pesan tanpa memicu ingatan akan isu-isu lama yang bisa merusak kredibilitasnya.

Gejala dari Perilaku Pejabat yang Menghindari Diksi Jelas

Perilaku pejabat yang memilih untuk menyampaikan pernyataan dalam bahasa yang ambigu dapat menjadi indikasi beberapa hal. Pertama, ada kekhawatiran akan konsekuensi hukum atau politis jika pernyataan tersebut dianggap sebagai pengakuan atau tuduhan eksplisit. Kedua, hal ini menunjukkan adanya budaya yang mungkin masih enggan untuk mengakui kelemahan dan kesalahan secara terbuka. Penggunaan bahasa yang tidak tegas dapat memperlihatkan kurangnya keberanian untuk menghadapi masalah secara frontal dan transparan.

Ketiga, fenomena ini juga dapat menjadi tanda adanya dinamika kekuasaan yang kompleks dalam lembaga terkait. Penggunaan bahasa yang lebih halus dapat membantu menjaga stabilitas internal, menghindari konflik antar faksi, dan melindungi kepentingan tertentu yang masih berpengaruh dalam struktur organisasi.

Apakah Mengungkap Kata “Korupsi” Berisiko bagi Pejabat?

Mengungkap kata seperti “korupsi” bisa mengingatkan publik pada peristiwa atau tuduhan masa lalu yang pernah dialami oleh pejabat tersebut. Dalam hal ini, Menag Nasaruddin Umar mungkin sadar bahwa penggunaan kata tersebut bisa membuka kembali ingatan publik terhadap isu yang pernah menimpa dirinya saat masih menjabat sebagai Dirjen Kemenag. Dengan demikian, menggunakan diksi yang lebih netral dapat membantu menghindari perhatian yang tidak diinginkan dan fokus pada upaya reformasi tanpa beban sejarah pribadi.

Secara keseluruhan, pilihan diksi yang digunakan pejabat publik dalam menyampaikan komitmen mereka sangat dipengaruhi oleh berbagai pertimbangan: hukum, politik, dan citra diri. Meskipun hal ini mungkin mengecewakan bagi publik yang mengharapkan keterbukaan dan transparansi, penggunaan bahasa yang hati-hati sering kali menjadi refleksi dari situasi dan risiko yang dihadapi oleh pejabat tersebut.

 

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Jasa “Pengunduran Diri Karyawan” – Fenomena Proxy Pengunduran Diri di Jepang

Next Post

Partai-Partai Berevolusi Menjadi Perusahaan Keluarga Dikendalikan Oleh Segilintir Orang

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Skenario “Dendam Pribadi” dalam Kasus Andrie Yunus: Sebuah Penghinaan terhadap Nalar Publik
Feature

Skenario “Dendam Pribadi” dalam Kasus Andrie Yunus: Sebuah Penghinaan terhadap Nalar Publik

April 16, 2026
Netanyahu, Trump, dan Iran: Tiga Pemain Dalam Satu Papan Catur Berdarah.
Feature

Netanyahu, Trump, dan Iran: Tiga Pemain Dalam Satu Papan Catur Berdarah.

April 16, 2026
Paradox Partai-Partai dalam Sistem Presidensial Indonesia – Antara Kedaulatan Individu dan Oligarki Kolektif
Feature

Paradox Partai-Partai dalam Sistem Presidensial Indonesia – Antara Kedaulatan Individu dan Oligarki Kolektif

April 15, 2026
Next Post
Renungan Kemedekaan: Rapuhnya Moralitas Kekuasaan

Partai-Partai Berevolusi Menjadi Perusahaan Keluarga Dikendalikan Oleh Segilintir Orang

Ketua Bappenas Pambudi ” Jokowi Gagal Mencapai Pertumbuhan Ekonomi”

Ketua Bappenas Pambudi " Jokowi Gagal Mencapai Pertumbuhan Ekonomi"

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Kekerasan Seksual di Kampus: Urgensi Tranformasi Holistik Lewat “Inclusive University Governance”
Crime

Kekerasan Seksual di Kampus: Urgensi Tranformasi Holistik Lewat “Inclusive University Governance”

by Karyudi Sutajah Putra
April 15, 2026
0

Jakarta--FusilatNews - Kasus kekerasan seksual yang terjadi di Universitas Indonesia (UI) serta ekspresi misoginis dan seksis yang mengarah pada normalisasi...

Read more
Tanah dan Bangunan di Jalan Teuku Umar No 2 Menteng Bukan Milik Kemenhan RI, Ini Alasannya!

Tanah dan Bangunan di Jalan Teuku Umar No 2 Menteng Bukan Milik Kemenhan RI, Ini Alasannya!

April 13, 2026
Jawaban Nasdem Terkait Tudingan Uang Rp 30 M  Disita KPK, Akan Digunakan Untuk Keluarga Nyaleg

Tertipu, Ahmad Sahroni Berkasus dengan KPK?

April 11, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Skenario “Dendam Pribadi” dalam Kasus Andrie Yunus: Sebuah Penghinaan terhadap Nalar Publik

Skenario “Dendam Pribadi” dalam Kasus Andrie Yunus: Sebuah Penghinaan terhadap Nalar Publik

April 16, 2026
Pulau Dijual Terang-terangan, Negara Baru Bereaksi Setelah Viral

Pulau Dijual Terang-terangan, Negara Baru Bereaksi Setelah Viral

April 16, 2026
Skandal Pemerasan di Yogyakarta: PPWI Laporkan Oknum Imigrasi atas Dugaan Pemerasan Rp450 Juta terhadap Investor Asing

Skandal Pemerasan di Yogyakarta: PPWI Laporkan Oknum Imigrasi atas Dugaan Pemerasan Rp450 Juta terhadap Investor Asing

April 16, 2026
Netanyahu, Trump, dan Iran: Tiga Pemain Dalam Satu Papan Catur Berdarah.

Netanyahu, Trump, dan Iran: Tiga Pemain Dalam Satu Papan Catur Berdarah.

April 16, 2026
Dua Partai di Amerika Sepakat Pangkas Pajak, Partai Indonesia Sepakatnya Memungut Lebih Banyak

Dua Partai di Amerika Sepakat Pangkas Pajak, Partai Indonesia Sepakatnya Memungut Lebih Banyak

April 16, 2026
Paradox Partai-Partai dalam Sistem Presidensial Indonesia – Antara Kedaulatan Individu dan Oligarki Kolektif

Paradox Partai-Partai dalam Sistem Presidensial Indonesia – Antara Kedaulatan Individu dan Oligarki Kolektif

April 15, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Skenario “Dendam Pribadi” dalam Kasus Andrie Yunus: Sebuah Penghinaan terhadap Nalar Publik

Skenario “Dendam Pribadi” dalam Kasus Andrie Yunus: Sebuah Penghinaan terhadap Nalar Publik

April 16, 2026
Pulau Dijual Terang-terangan, Negara Baru Bereaksi Setelah Viral

Pulau Dijual Terang-terangan, Negara Baru Bereaksi Setelah Viral

April 16, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist