Jakarta — Di tengah keseharian hidupnya di Inggris Raya, jauh dari hiruk pikuk tanah air, Serli Napitu tak mampu membendung keresahan hatinya. Putri Indonesia ini memilih menulis sebuah surat terbuka kepada Presiden Prabowo Subianto. Isinya: sebuah seruan tentang keadilan yang menurutnya kian redup di republik tercinta.
Surat itu bukan sekadar untaian kata. Ia lahir dari luka dan keprihatinan Serli atas nasib Kompol Cosmas Kaju Kae, perwira polisi yang diberhentikan tidak hormat setelah terlibat dalam kerusuhan hingga menewaskan Affan Kurniawan. Bagi Serli, keputusan Polri itu bukan bentuk keadilan, melainkan pengorbanan simbolis.
“Kompol Cosmas bukanlah penjahat, bukan koruptor, bukan pembunuh berencana. Ia berada dalam situasi dilematis, mengambil keputusan dalam tekanan ekstrem demi mengendalikan kerusuhan,” tulis Serli dalam suratnya.
Dari DPR ke Jalanan
Dalam pandangan Serli, akar kerusuhan bukanlah tindakan aparat di lapangan, melainkan keputusan elite politik yang jauh dari rasa keadilan rakyat. Ia menunjuk pada kenaikan gaji DPR RI sebesar Rp3 juta per hari dan tunjangan rumah Rp50 juta per bulan. Kebijakan inilah, katanya, yang menyulut amarah publik hingga berujung demonstrasi besar-besaran.
“Tanpa keputusan yang tidak bijak dari DPR, demonstrasi itu tidak akan terjadi. Maka darah Affan adalah luka bangsa yang tidak bisa dicuci hanya dengan menghukum aparat di lapangan,” tegasnya.
Keadilan yang Timpang
Serli juga menyoroti perbedaan sikap negara terhadap dua keluarga korban. Ia mengapresiasi empati penuh pemerintah kepada keluarga Affan—dari kunjungan pejabat hingga pemberian rumah dan beasiswa. Namun, ia mempertanyakan keberpihakan negara terhadap keluarga Kompol Cosmas.
“Mereka tidak hanya kehilangan sosok ayah dan suami sebagai tulang punggung, tapi juga dihukum oleh sistem yang seharusnya melindungi mereka. Di mana negara bagi mereka?” ujarnya lirih.
Ancaman ke Forum Internasional
Nada dalam surat itu bukan sekadar keluhan. Ada tekad yang mengeras. Serli menegaskan, bila keputusan pemberhentian tidak hormat itu tak ditinjau ulang, ia siap membawa persoalan ini ke forum internasional, termasuk Vatikan dan Perserikatan Bangsa-Bangsa.
“Bukan untuk mempermalukan Indonesia, tapi untuk menyelamatkan martabat keadilan bangsa,” katanya.
Seruan dari Diaspora
Lebih dari sekadar advokasi untuk satu nama, surat terbuka itu adalah cermin kegelisahan seorang diaspora. Dari kejauhan, Serli mengingatkan bahwa polisi juga rakyat, bahwa keadilan tak boleh tajam ke bawah dan tumpul ke atas, dan bahwa negara semestinya hadir bukan hanya untuk meredam amarah publik.
Ia menutup suratnya dengan doa untuk Affan Kurniawan dan seruan agar rakyat Indonesia bersuara demi keadilan bagi semua.
“Kompol Cosmas juga rakyat Indonesia. Mari bersuara untuk keadilan, bukan hanya untuk satu pihak, tapi untuk semua yang terluka—baik yang viral maupun yang diam dalam kesedihan,” tulisnya.
Apakah Anda ingin feature ini diberi judul yang lebih emosional, misalnya “Suara dari Perantauan: Serli Napitu dan Gugatan Keadilan untuk Negeri”, agar lebih kuat menarik perhatian pembaca?























