Makassar-Fusilatnews– Puluhan mahasiswa kelas 5B Program Studi Pendidikan Khusus Universitas Negeri Makassar (UNM) menggelar talkshow bertajuk “Dari Isyarat Menjadi Karya” di Amoi Coffee, Jalan Poros Minasa Upa Belakang D.I.Y., Kota Makassar, Sabtu (6/12/2025).
Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 12.30 hingga 17.00 WITA itu menjadi ruang kreatif bagi mahasiswa untuk menampilkan hasil pembelajaran sekaligus menyuarakan pentingnya bahasa isyarat sebagai media komunikasi yang inklusif. Acara dipandu oleh Eka Putra Nur Rezky dan mendapat dukungan penuh dari dosen pengampu, Wizerti Ariastuti Saleh, M.Pd., serta Muh. Maaris Mubar, M.Pd.
Mengusung tema “Dari Isyarat Menjadi Karya”, acara berlangsung hangat dan disambut antusias peserta. Narasumber utama, Nisria Nurul Magfirah Nasir, S.Pd., memberikan pemaparan mengenai peran bahasa isyarat dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam dunia pendidikan dan pelayanan publik.
“Sejak awal, peserta telah dibuat terhanyut oleh pemutaran film pembuka Isyarat Cinta Ayah, sebuah film penuh emosi yang menghadirkan gambaran hangatnya hubungan keluarga melalui bahasa isyarat,” ujar Nisria. Ia menambahkan bahwa setelah pemutaran film, lima kelompok mahasiswa menampilkan karya kreatif yang berfokus pada layanan publik dan konten edukatif inklusif.
Salah satu karya yang menarik perhatian adalah video proyek Kelompok 4 berjudul “Puskesmas yang Peduli, Isyarat yang Menghubungkan”, yang menyoroti pentingnya komunikasi inklusif di lingkungan medis. Video tersebut ditutup dengan penyerahan produk kepada perwakilan puskesmas sebagai bentuk kontribusi nyata mahasiswa.
Kelompok 3 menampilkan konten edukatif berupa pengembangan modul pembelajaran interaktif berbasis cerita rakyat dan bahasa isyarat untuk meningkatkan kosakata anak tunarungu. Usai presentasi, kelompok ini mengajak peserta memainkan gim bahasa isyarat yang membuat suasana semakin interaktif.
Kelompok 1 turut menyajikan proyek bertema “Panduan Layanan Inklusif dan Ramah Tuli”, yang menggambarkan upaya menciptakan pelayanan publik—termasuk sektor otomotif—yang lebih ramah bagi pelanggan tunarungu.
Sementara itu, Kelompok 5 memperkenalkan kartu permainan edukatif bertajuk “Sign Me Up BISINDO”, media pembelajaran yang dirancang untuk membantu pengguna memahami kosakata bahasa isyarat dengan cara menyenangkan. Di sisi lain, Kelompok 2 menutup rangkaian karya mahasiswa dengan film pendek horor “Isyarat dari Lorong Gelap”, yang memadukan unsur ketegangan dan pesan pentingnya komunikasi melalui bahasa isyarat.
Selain penampilan karya, sesi talkshow bersama Nisria Nurul Magfirah Nasir, S.Pd., menjadi bagian yang paling dinantikan. Dalam diskusinya, ia berbagi pengalaman dan gagasan mengenai bahasa isyarat sebagai alat komunikasi sekaligus ruang berekspresi dan berkarya. Sesi tersebut berlangsung hangat, dipenuhi tanya jawab, dan memberikan wawasan baru tentang pentingnya inklusivitas di berbagai sektor kehidupan.
Secara keseluruhan, kegiatan berjalan lancar dan memberi pengalaman berharga bagi peserta. Talkshow “Dari Isyarat Menjadi Karya” tidak hanya menjadi ajang unjuk karya mahasiswa, tetapi juga pengingat akan pentingnya memahami dan mengapresiasi beragam bentuk komunikasi. Melalui kegiatan ini, mahasiswa terdorong untuk terus berinovasi dan menghadirkan karya yang berdampak bagi masyarakat, khususnya dalam memajukan penggunaan bahasa isyarat sebagai jembatan komunikasi inklusif.


























