Oleh: Acep Kuswandi, Pemerhati Politik
ASUMSI bahwa Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) merupakan pemimpin karbitan kini pupus sudah. Meskipun masih relatif muda dalam usia, namun putra sulung Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini sudah benar-benar matang jiwanya.
Hal itu terbukti dari pertemuan Mas AHY dengan Ketua DPR RI yang juga Ketua DPP PDI Perjuangan Puan Maharani di Jakarta, Ahad, 18 Juni 2023.
Saat ini usia Mas AHY “baru” 44, sedangkan Mbak Puan sudah 49. Namun ternyata Mas AHY yang lebih junior dapat mengimbangi Mbak Puan yang lebih senior. Keduanya tampil sebagai negarawan.
Ada banyak makna yang tersirat di balik pertemuan Mas AHY-Mbak Puan itu. Antara lain, pertama, asumsi bahwa selama ini ada dendam politik antara Pak SBY, ayahanda Mas AHY, dan Presiden ke-5 RI yang juga Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri, ibunda Mbak Puan, luruh sudah.
Kedua, tak ada kawan atau lawan abadi di ranah politik. Yang abadi adalah kepentingan. Semasa 10 tahun Pak SBY berkuasa, selama itu pula PDIP menjadi oposisi.
Hal yang sama kemudian terjadi. Selama hampir 10 tahun Presiden Jokowi, yang disokong PDIP berkuasa, selama itu pula Demokrat menjadi penyeimbang, meminjam istilah Pak SBY untuk menyebut oposisi.
Kini, demi kepentingan yang lebih besar, yakni persatuan dan kesatuan bangsa, Mas AHY bersua dengan Mbak Puan dengan mengesampingkan kepentingan partai politik masing-masing.
Dibutuhkan negarawan-negarawan lain untuk bertemu guna memperkuat kohesivitas bangsa ini yang sempat mengalami keterbelahan akibat Pemilu 2014 dan 2019.
Pertanyaannya, kapan para kandidat calon presiden yang akan berlaga dalam Pemilihan Presiden 2024 bertemu guna mengantisipasi keterbelahan masyarakat menjelang dan pasca-Pemilu 2024?
Sejauh ini ada tiga kandidat capres yang elektabilitasnya tertinggi. Yakni Prabowo Subianto, Ganjar Pranowo dan Anies Baswedan. Indikasi keterbelahan masyarakat antar-pendukung capres saat ini sudah mulai terasa. Jika tidak diantisipasi maka bisa menggejala ke mana-mana.
Mas Anies, ditilik dari track records atau rekam jejaknya yang relatif tak pernah punya konflik politik dengan siapa pun, penulis yakin merupakan capres yang terlebih dulu siap untuk bertemu antarsesama kandidat capres. Mas Anies tanpa beban. Apalagi merupakan capres penantang yang secara psikologis beban moralnya lebih ringan daripada capres lain yang dipersepsikan sebagai penerus petahana.
Lalu, jika memang mau bertemu, dalam forum apa? Bisa forum informal di luar agenda resmi Komisi Pemilihan Umum (KPU). Parpol-parpol bisa berinisiatif untuk mempertemukan ketiganya dalam acara informal.
Jika ketiganya bertemu, meski tanpa pembicaraan serius, maka massa di tingkat akar rumput atau grass roots niscaya akan adem. Persatuan dan kesatuan anak-anak bangsa ini niscaya akan kian kohesif.
Pertemuan tersebut hendaknya digelar secara berkala hingga menjelang Pilpres 2024. Dengan demikian, memasuki pilpres situasi dan kondisi bangsa ini sudah benar-benar kondusif. Pasca-pilpres pun tetap benar-benar kondusif. Insyaallah!























