Oleh : Dr. Novita Sari Yahya
FusilatNews – Ada satu fenomena unik yang membentuk karakter orang Indonesia: ketakutan luar biasa terhadap kelaparan dan kemiskinan, tetapi ketidakpedulian yang mencengangkan terhadap ancaman penjara. Jika ada satu kalimat yang bisa menggambarkan banyak orang di negeri ini, mungkin itu adalah: “Asal perut kenyang dan dompet tebal, neraka dunia pun tak jadi soal.”
Coba lihat sekeliling kita. Betapa banyak orang yang rela melakukan apa saja demi menghindari kelaparan dan kemiskinan. Kecurangan, korupsi, jual beli jabatan, manipulasi data, dan segala bentuk tipu muslihat dilakukan dengan satu tujuan: bertahan hidup dengan cara paling menguntungkan. Harga diri? Itu urusan nanti. Yang penting nasi tetap mengepul di atas meja, anak bisa sekolah di luar negeri, dan kendaraan mewah bisa terus meluncur di jalanan.
Namun, anehnya, di tengah ketakutan akan kemiskinan, ada satu hal yang justru tak begitu menakutkan: masuk penjara. Korupsi triliunan? Paling masuk hotel prodeo yang lebih mirip vila, lengkap dengan fasilitas olahraga, ruang karaoke, dan pelayanan istimewa. Menipu rakyat? Tinggal main lobi kanan-kiri, remisi akan datang sendiri. Bahkan, bagi sebagian orang, penjara adalah tempat rehat sejenak sebelum kembali ke panggung kekuasaan dengan wajah baru dan nama yang sudah diputihkan oleh waktu dan media.
Lalu, siapa yang menyelinap di balik semua ini dan merusak bangsa? Siapa yang menanamkan mental “asal kenyang, asal kaya, hukum bisa dinegosiasikan”? Jawabannya bisa lebih rumit dari yang kita kira. Sistem yang lemah? Ya. Pemimpin yang korup? Jelas. Budaya permisif yang membiarkan maling uang rakyat tetap disalami dengan hormat? Tak terbantahkan. Semua ini seperti benang kusut yang setiap kali coba diurai, justru semakin membelit leher bangsa ini.
Ada pepatah lama yang mengatakan, “Lebih baik mati berdiri daripada hidup berlutut.” Sayangnya, di Indonesia, banyak yang memilih “Lebih baik hidup kaya meski harus mencuri, daripada miskin tapi bermartabat.” Maka jangan heran jika suatu hari kita mendengar seseorang berkata, “Saya lebih takut kehilangan jabatan daripada kehilangan kehormatan.” Sebab, dalam dunia yang dibangun oleh ketakutan akan kelaparan dan kemiskinan, tapi tidak terhadap kejahatan, kejujuran bukan lagi mata uang yang berlaku.
Dan ketika mentalitas ini terus dibiarkan berkembang, kita harus bertanya: sampai kapan bangsa ini bisa bertahan sebelum akhirnya runtuh dari dalam?























