Jakarta, Fusilatnews – Gunung Semeru, gunung tertinggi di Jawa yang juga dikenal sebagai Mahameru, kembali erupsi atau meletus, Sabtu (14/1) pagi ini. Terpantau tinggi letusan membumbung setinggi 700 meter dari Puncak Mahameru 4.376 meter di atas permukaan laut.
Ini bukan letusan Semeru yang pertama. Beberapa waktu lalu, gunung berapi yang terletak di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, ini juga erupsi atau meletus. Paranormal Permadi SH pun memaknai erupsi Semeru ini sebagai tanda-tanda alam. “Ini tanda-tanda alam akan lahirnya pemimpin baru,” kata Permadi SH saat dihubungi, Sabtu (14/1).
Menurut Permadi, saat ini dan beberapa waktu yang akan datang, akan terus terjadi bencana demi bencana yang melibatkan empat unsur alam, yakni api, angin, air dan tanah. “Api ya seperi letusan gunung Semeru ini,” jelas Permadi.
Adapun angin ialah seperti angin puting beliung yang kerap terjadi di beberapa wilayah di Indonesia. “Adapun air ialah banjir, dan tanah adalah gempa bumi dan longsor seperti baru-baru ini terjadi di Cianjur, Jawa Barat,” papar Permadi yang juga mantan anggota DPR RI dari PDI Perjuangan.
Bencana yang melbatkan empat unsur alam itu, kata Permadi, akan berpadu dengan amarah alam yang dipicu oleh perilaku manusia yang juga penuh amarah akhir-akhir ini, sehingga suatu ketika atau terjadi ladakan sosial atau “chaos”, karena bertemunya amarah manusia dengan amarah alam. “Chaos hanya soal waktu,” cetusnya.
Permadi memprediksi situasi demikian akan terus terjadi dan akan mencapai puncaknya menjelang Pemilu 2024 yang menurut rencana akan digelar pada 14 Februari 2024, sehingga Permadi pun meramalkan Pemilu 2024 akan gagal atau batal terlaksana. “Situasi akan chaos, pemilu akan gagal,” tegasnya.
Saat itulah, kata Permadi, akan muncul seorang pemimpin baru yang sebelumnya tidak pernah diduga-duga atau disangka-sangka atau ibarat “satriya piningit” (satria yang tersembunyi), dan kelak jika menjadi pemimpin ia akan benar-benar menjadi “Ratu Adil” atau raja yang adil dan bijaksana, sehingga mampu membawa Indonesia ke masa keemasannya, yakni menjadi mercusuar dunia. “Di bawah kepemimpinan Ratu Adil itu, Indonesia akan menjadi mercusuar dunia,” tutur Permadi.
Apakah di antara kandidat calon presiden yang sudah beredar di masyarakat saat ini akan menjadi pemimpin seperti yang ia maksud, yakni “satriya piningit” yang kemudian akan menjadi “Ratu Adil”, Permadi berkilah. “Namanya juga ‘satriya piningit’, kalau disebutkan tidak jadi ‘piningit’ lagi, dong,” kilahnya.
Hanya saja, Permadi mengaku percaya dengan “jangka Jayabaya” di mana nama-nama pemimpin yang akan memimpin Indonesia meliputi “notonegoro”. “No” mengacu Soekarno, “to” mengacu Soeharto, “no” lagi mengacu BJ Habibie di mana Habibie sendiri dalam bahasa jawa artinya “tresna” (cinta), “no” lagi yang mengacu pada KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur di mana “rahman” dalam bahasa Jawa juga berarti cinta atau kasih sayangdalam, “go” mengacu pada Megawati Soekarnoputri, “no” lagi mengacu pada Susilo Bambang Yudhoyono, dan “no” lagi mengacu pada Mulyono, nama kecil Presiden Joko Widodo.
Tiga kandidat capres dengan elektabilitas tertinggi saat ini, yakni Prabowo Subianto, Ganjar Pranowo dan Anies Rasyid Baswedan, dinilai Permadi semua mengandung unsur “ra”, yakni P-ra-bowo, P-ra-nowo, dan Ra-syid, Bahkan Prabowo Subianto juga ada unsur “to”-nya. “Tapi biarlah alam yang bicara. Kita cukup membaca tanda-tandanya saja,” saran Permadi. (F-2)


























