Oleh: Karyudi Sutajah Putra
Jakarta, Fusilatnews – Sebanyak 56 pelukis yang tergabung dalam Asosiasi Pelukis Nusantara (ASPEN) menggelar pameran lukisan bersama bertajuk “Harmoni Merah Putih Nusantara” di Menara Imperium, Kuningan, Jakarta Selatan, Sabtu (7/12/2024).
Pameran dibuka oleh Kepala Lembaga Pendidikan dan Pelatihan (Lemdiklat) Polri Komisaris Jenderal Prof Dr Chryshnanda Dwilaksana MSi, dan dihadiri oleh Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain Kementerian Ekonomi Kreatif Yuke Sri Rahayu, dan Rabin Iman Soetejo dari Building Management Menara Imperium.
Nah, salah satu lukisan yang dipamerkan adalah “Kentongan Kyai Gorobangsa” (acrylic on canvas, 100 x 100 cm, 2024) karya Kembang Sepatu yang merupakan Ketua Umum ASPEN.
ASPEN adalah organisasi profesi yang bergerak di bidang seni lukis. Keberadaanya ditujukan sebagai fasilitator dan akomodator bagi para pelukis di seluruh Indonesia yang berminat dalam meningkatkan apresiasi seni lukis dan mengembangkan bakat seni lukis serta meningkatkan kemampuan berorganisasi.
Di masa lalu, kentongan adalah alat komunikasi publik untuk terutama menyampaikan informasi atau berita darurat seperti banjir, gunung meletus, gempa bumi, kebakaran, dan sebagainya.
Di masa kini, fungsi penyampai tanda darurat diambil alih oleh gawai, gadget atau perangkat elektronik seperti “handphone” (telepon seluler) atau bahkan “smartphone” (telepon pintar).
Padahal, gawai atau smartphone itu sendiri bisa menjadi sarana melakukan hal-hal yang dianggap darurat seperti judi online, menyebarkan berita bohong atau hoaks dan sebagainya.
Adapun maksud dipamerkannya lukisan bertajuk “Kentongan Kyai Gorobangsa” dalam pameran bertajuk “Harmoni Merah Putih Nusantara’ ini barangkali ASPEN hendak memberikan peringatan kepada pemerintahan Presiden Prabowo Subianto bahwa bangsa Indonesia saat ini dalam kondisi darurat judi online dan hoaks.
“Goro” dari “Gorobangsa” bisa jadi berarti goro yang dalam bahasa Jawa berarti bohong, dan “bangsa’ kita sudah tahu semua artinya, yakni bangsa. Dalam hal ini bangsa Indonesia.
Goro bisa pula berarti “goro-goro” yang bermakna huru-hara, kekacauan, “chaos” dan sebagainya yang dalam acara pertunjukan wayang kulit menjadi sesi tersendiri.
Merah Putih dalam tajuk pameran tersebut barangkali analog dengan Kabinet Merah Putih pimpinan Presiden Prabowo Subianto. Bisa pula mengacu Sang Saka Merah Putih bendera kita.
Itu tafsir kita. Lalu, apa maksud sesungguhnya dari lukisan bertajuk “Kentongan Kyai Gorobangsa” itu?
Kembang Sepatu, sang pelukisnya, pun angkat bicara. Menurut KS, panggilan akrabnya, lukisan “Kentongan Kyai Gorobangsa” menggambarkan sebuah alat tradisional yang digunakan pada masa kerajaan Majapahit untuk berkomunikasi atau memberi tanda, yaitu kentongan.
“Kentongan adalah alat musik atau perangkat yang terbuat dari kayu atau bambu yang dipukul untuk menghasilkan suara keras sebagai tanda peringatan atau informasi kepada masyarakat sekitar. Kentongan sering digunakan di desa-desa atau permukiman untuk memberi tanda keadaan darurat, peringatan cuaca buruk, atau kegiatan penting lainnya, ” jelas KS, alumnus Universitas Negeri Jakarta (UNJ) yang profesi utamanya adalah guru seni lukis.
Pada masa Majapahit, kata KS, kentongan memiliki peranan penting dalam sistem komunikasi yang sederhana namun efektif, mengingat teknologi pada saat itu masih terbatas.
“Alat ini menjadi simbol kebersamaan dan saling peduli dalam masyarakat. Kentongan juga digunakan dalam berbagai upacara, termasuk dalam acara keagamaan dan upacara adat,” cetusnya.
Namun, kata KS, di era modern ini, terutama dengan perkembangan teknologi informasi, masyarakat mulai beralih dari penggunaan kentongan ke gadget atau perangkat elektronik.
“Dengan hadirnya ponsel, pesan instan dan berbagai aplikasi komunikasi, informasi dapat disampaikan secara lebih cepat dan efisien. Gadget kini menjadi alat utama dalam menyampaikan berita atau peringatan, menggantikan fungsi kentongan yang sebelumnya digunakan untuk menghubungkan satu orang dengan orang lain dalam komunitas,’ paparnya.
Melalui lukisan ini, KS mengajak kita untuk merenungkan perubahan yang terjadi dalam cara kita berkomunikasi.
“Meskipun gadget kini lebih dominan, kentongan sebagai simbol warisan budaya dan teknologi tradisional tetap memiliki nilai historis yang penting. Lukisan ini mengingatkan kita akan pentingnya menjaga tradisi sekaligus membuka mata tentang kemajuan teknologi yang mengubah cara hidup kita,” tandasnya.
Harmoni Nusantara
Dalam pengantar pamerannya, Chryshnanda Dwilaksana yang juga seorang pelukis dan salah satu peserta pameran menjelaskan, harmoni dapat dikatakan adanya yang selaras (harmoni) dalam hidup dan kehidupan.
Harmoni, katanya, bisa saja sederhana yaitu ada rasa bahagia walau serba sederhana dan apa adanya.
“Kita dapat menganalogikan tubuh kita yang harmoni dalam sistemnya. Ada yang tidak beres sedikit saja, rasanya tidak nyaman. Ada sesuatu yang nyelip di gigi, rasa tidak nyaman itu bisa ke mana-mana gangguannya,” kata perwira tinggi Polri itu.
“Harmoni ada karena adanya keseimbangan. Yang hidup adanya dialog dan penghormatan kepada Tuhan YME, kepada sesama dan kepada alam maupun lingkungan,” lanjutnya.
Harmoni itu seni?
Menurut Chryshnanda, tatkala berbicara “seni” seakan dunia penuh dengan sesuatu yang kadang hanya sang seniman dan Tuhan saja yang tahu.
“Namun sesungguhnya tidak demikian, karena memahami seni memerlukan suatu dialog antara rasa dan pancaindera, sehingga dapat menghayati, menyelami dan menelusuri lorong-lorong maupun relung-relung sekat labirin dalam sesuatu. Dialog pemahaman seni memerlukan harmoni yang juga memerlukan kontemplasi, bukan terburu-buru. Tentu saja tidak untuk menghakimi atau melabeli yang sifatnya subyektif, tetapi untuk memahami, menyelami dan mendalami. Sikap terburu-buru dan melabeli bahkan menghakimi seakan membuat rasa menjadi lesu atau lemah kepekaannya yang terjebak sebatas yang ‘tangible’ atau kulitnya saja, sehingga mengabaikan yang ‘intangible’ (substansial). Penghayatan pun menjadi hampa,” tukasnya.
Harmoni, lanjut Chryshnanda, merupakan suatu kenikmatan yang memerlukan imajinasi yang multiinterpretasi, dapat ditafsirkan apa saja bahkan berbeda hingga bertentangan dari sang seniman yang menciptakannya.
“Dalam dialog rasa dengan indera dalam memahami, menelusuri dan menikmati suatu karya memerlukan penemuan ‘taksu’ atau ruhnya. Tatkala taksu tidak ketemu, maka “greng” (meminjam kata dari pelukis Widajat)-nya pun tidak akan terasa. Bagai ada rasa jatuh cinta, di situ ada jembatan hati dalam memasuki taman asmara. Ada rasa rindu di situ. Demikian halnya dengan harmoni yang merupakan seni, sarat makna atas apa yang disimbolkan di dalamnya,” urainya.
Harmoni Nusantara menjadi ikon peradaban bangsa?
Nusantara yang sarat dengan keberagaman seni budaya, keindahan alam dan kekayaannya, kata Chryshnanda, menjadi ikon yang multikultural dalam suatu Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika.
“Walaupun dalam keberagamaan, namun ada harmoni. Di situlah keberagaman menunjukkan kekuatannya. Di dalam seni, keberagaman karya dari para perupa dengan berbagai tema maupun gaya merupakan suatu kekuatan dalam suatu peradaban. Dalam spirit Nusantara, kebersamaan menjadi ‘passion’ bagi seni yang menjembatani saluran komunikasi sosial, berbagai kepentingan dari idelogi, religi, politik, kemanusiaan hingga solidaritas sosial,” terangnya.
“Seni dalam harmoni Nusantara untuk mengatasi berbagai konflik dengan cara beradab,” tandasnya.
Pameran lukisan yang dikuratori Dr Moh Rusnoto Susanto SPd MSn MCE ini menampilkan karya-karya terbaik dari pelukis AR Tanjung, Adjar Utomo, Adlianto Zaman, Anni Sofyan, Anni Kholilah, Antonius Kriswanto, Apisarow, Aryo Bimo, Budi Utomo, Carsilah Waes dan Cecilia D Kristiari.
Lalu, Chryshnanda Dwilaksana, Dara Sinta, Dayu Sri Herti, Den Anton, Eddy Yoen, Eki Thadan, Elita Elkana, Ernawan Prianggodo, Erwin Setiawirawan, Hartono Wibowo, Hior Yogacesa, Hotly Silalahi, Joko Supratikno dan Kembang Sepatu.
Pun, Komarudin Dewang, Lilik Subekti, M Adien, M Sodik, Mahardi, Nadia Iskandar, Ni Made Sri Andani, Novandi, Panji Setia Bangsa, Queen Kuan In, Rahmadi, Reny Alwi, Ridwan Marhid, Rohmad Taufiq, Shamadi Nura, Sugiarto, Sulan Lim, Tato Kastareja, Thomas Edi Nugraha (alumnus Seni Rupa FKIP UNS), Tomy Faisal Alim, Udin Choiruddin, Wantiyo Indrawan, Wawan S, Wayan Sudana, Yahya Ts, Yayok APFD, Yudi S, Yuhaslinda, Yunti Ars dan Zamrud Setya Negara.
Mereka berasal dari berbagai kota di Indonesia seperti Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Karawang, Aceh, Solo Raya, Malang Raya, dan Samarinda, Kalimatan Timur.





















