Jakarta, Sabtu (7/12/2024) – Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menargetkan angka kemiskinan ekstrem di Indonesia turun hingga nol persen pada 2026 mendatang. Hal ini disampaikan Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin), Budiman Sudjatmiko, dalam program On Point with Adisty di Kompas TV.
“Target Pak Prabowo adalah dalam dua tahun ke depan kemiskinan ekstrem harus hilang. Saat ini angkanya tinggal 0,8 persen, berkat penanganan yang sudah dilakukan pada era Pak Jokowi. Tinggal diturunkan saja hingga nol persen,” kata Budiman.
Definisi dan Strategi Penanganan
Budiman menjelaskan bahwa kemiskinan ekstrem meliputi kondisi di mana individu menghadapi berbagai keterbatasan dalam kehidupan, seperti ketidakmampuan fisik, mental, usia lanjut, atau difabel yang tidak dapat bekerja. Mereka juga kerap tidak memiliki keterampilan, dukungan sosial, atau keluarga yang menopang.
“Yang kita dorong bukan sekadar bantuan sosial (bansos), tetapi bagaimana warga miskin ekstrem ini masuk ke ekosistem usaha atau bekerja di sektor industri. Itu menjadi skema kita,” ungkapnya.
Anggaran dan Program Pemerintah
Pemerintah telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp 560 triliun untuk program pengentasan kemiskinan pada 2025. Dana ini mencakup berbagai program perlindungan sosial dan subsidi yang dikelola oleh 27 kementerian terkait.
Budiman juga menyebut bahwa pemerintah menargetkan angka kemiskinan umum di Indonesia, yang saat ini berada di level 9 persen, dapat turun menjadi 5 persen pada 2029.
Upaya Pemerintah
Pemerintah berkomitmen untuk mendorong transformasi ekonomi bagi kelompok masyarakat miskin ekstrem, agar mereka dapat hidup mandiri. Dengan strategi ini, diharapkan pengurangan kemiskinan tidak hanya bersifat sementara tetapi juga berkelanjutan.
Tantangan
Meski targetnya ambisius, pemerintah menghadapi tantangan besar dalam memastikan pelaksanaan program berjalan efektif. Kolaborasi lintas kementerian dan pelibatan masyarakat menjadi kunci utama untuk mencapai tujuan ini.





















