Jakarta – Namanya juga pengacara. Kapan pun dan di mana pun, yang menjadi obsesi adalah mewujudkan keseimbangan atau keadilan. Dewi Keadilan pun kerap menginspirasi. Tak terkecuali buat Dr Anwar Budiman SH SE MH MM.
Ya, terinspirasi Dewi Keadilan, saat mengisi liburan akhir tahun, Anwar Budiman pun mencoba menghindar dari hiruk-pikuk ibu kota dan mengungsi ke vilanya di kawasan Puncak, Bogor, Jawa Barat, tak jauh dari kebun durian miliknya.
“Jika setiap hari kita berkutat dengan kebisingan dan hiruk-pikuk ibu kota, kini saatnya kita menepi menuju kesunyian demi mencapai keseimbangan,” kata Anwar Budiman saat dihubungi dari Jakarta, Sabtu (27/12/2025).
Dewi Keadilan yang menjadi lambang dari hukum, disebut juga Dewi Yustisia (atau Themis dari mitologi Yunani) yang digambarkan sebagai seorang perempuan dengan mata tertutup (melambangkan objektivitas), memegang timbangan (melambangkan keadilan yang seimbang), dan pedang (melambangkan kekuatan hukum), mewakili hukum yang tidak memihak dan berkeadilan.
Demikian itu obsesi dan idealisme Anwar Budiman sebagai seorang advokat yang termasuk salah satu dari Catur Wangsa penegak hukum, di samping polisi, jaksa dan hakim.
Rehat di vila sambil berkebun di kebun durian miliknya yang sudah bisa dipanen, adalah cara Anwar Budiman menjaga keseimbangan antara jiwa dan raga setelah bekerja keras menjalankan profesinya sebagai seorang advokat atau pengacara. “Jadi ini untuk keseimbangan jiwa dan raga. Keseimbangan adalah inti dari keadilan. Kepada jiwa dan raga sendiri, kita pun harus adil, memberikan keduanya waktu untuk beristirahat. Kalau bukan diri kita sendiri yang menciptakan keseimbangan, siapa lagi?” tanya Anwar yang sudah sekitar seperempat abad menjadi advokat dengan mendirikan Law Firm Anwar Budiman & Partners.
Secara ekonomi, dengan memiliki vila sekaligus kebun durian, Anwar pun mencoba menciptakan keseimbangan, karena kebun durian itu akan mendatangkan income atau penghasilan, begitu pun vila jika disewakan. “Jadi sambil menyelam minum air. Sambil berekreasi atau healing, kita juga mendapat penghasilan,” cetus pria low profile kelahiran Jakarta 23 Agustus 1970 ini.
Dalam menjalankan profesinya sebagai advokat, Anwar juga selalu berorientasi memperjuangkan keadilan atau keseimbangan, terutama buat klien supaya tidak ada yang dikurangi hak-haknya. “Klien biasanya dalam posisi lemah. Sebab itu kita bela supaya punya kekuatan yang seimbang dengan penegak hukum, sehingga hak-haknya pun akan dipenuhi,” tukas dosen Ilmu Hukum Fakultas Hukum Program Pascasarjana Universitas Krisnadwipayana ini.
Di vila dan kebun duriannya itulah Anwar punya banyak waktu luang untuk merenung, introspeksi, mengevaluasi diri, dan berbicara dengan diri sendiri, sambil memulihkan stamina, dan selanjutnya menyusun langkah dan strategi baru untuk menghadapi “pertempuran” berikutnya di pengadilan.
Selain aktif membela perjuangan kaum buruh, sekaligus menjadi aktivis perburuhan, Anwar juga menjadi konsultan hukum sejumlah perusahaan bonafid di Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi), Karawang, Jawa Barat, dan Surabaya, Jawa Timur, di antaranya PMA dari Jepang.
Semua itu dapat ia jalankan dengan seimbang, sambil menjadi seorang pendidik.
Tak ketinggalan, Anwar juga menjaga keseimbangan dunia dan akhiratnya, dengan rajin menjalankan ritual agamanya di sela-sela kesibukannya bekerja mencari sesuap nasi dan sebongkah berlian.
Kejarlah duniamu seolah-olah engkau akan hidup seribu tahun lagi, dan kejarlah akhiratmu seolah-olah engkau akan mati esok pagi.
Kalimat bijak itu senantiasa terngiang di telinga Anwar Budiman.























