Jakarta – Seperti seseorang yang setelah sekian lama baru pulang dari luar negeri, begitu mendarat di Indonesia, dia langsung terkaget-kaget melihat banyaknya pengangguran dan orang miskin serta rendahnya gaji guru di Indonesia.
Ironisnya, seseorang yang terkaget-kaget terhadap kondisi Indonesia itu adalah Presiden Prabowo Subianto yang lahir dan besar di Indonesia, dan kalaupun pernah meninggalkan Tanah Air untuk “bertapa” di Jordania, itu pun tidak terlalu lama.
Setelah itu ia kembali ke Indonesia menjadi pengusaha, dan kemudian mendirikan partai politik, menjadi calon wakil presiden dan calon presiden bahkan sampai empat kali, dan akhirnya menjadi Menteri Pertahanan sebelum menjadi Presiden RI.
Ihwal terkaget-kagetnya Prabowo itu terjadi saat dia memimpin Rapat Paripurna Kabinet Merah Putih di Istana Negara, Jakarta, Senin (20/7/2026), seperti dilansir sejumlah media.
Dalam pernyataannya,
Prabowo mengakui masih banyak persoalan yang terjadi di Indonesia. Mulai dari kurangnya gaji guru, kurangnya lapangan kerja yang tersedia, hingga jumlah rakyat miskin yang begitu banyak.
Ia tak menduga masalah-masalah yang terjadi ternyata di luar perkiraan.
Prabowo berkata pemerintahannya bertekad menyelesaikan persoalan-persoalan tersebut.
Mengapa Prabowo terkaget-kaget dan seolah baru sadar bahwa gaji guru di Indonesia masih sangat rendah? Apakah pengangguran masih sangat banyak? Orang miskin juga masih sangat banyak?
Lalu bagaimana saat menjadi cawapres sekali dan kemudian capres tiga kali, dia menyusun program kerjanya untuk bahan kampanye dan debat kandidat?
Pengangguran dan kemiskinan adalah pemicu kerawanan sektor keamanan. Lalu bagaimana saat Prabowo menjadi Menhan di Kabinet Indonesia Maju (2019-2024), apakah pengangguran dan kemiskinan itu tidak dipetakan, kok baru sekarang Prabowo mengaku tidak menduga?
Ihwal pengangguran, mengapa Prabowo tidak bertanya dulu kepada Gibran Rakabuming Raka? Mungkin wakil presidennya itu tahu, sehingga sempat menjanjikan akan membuka lapangan pekerjaan sejumlah 19 juta.
Ironisnya, yang terjadi justru sebaliknya. Bukannya ada 19 juta lapangan kerja baru, malah pemutusan hubungan kerja (PHK) terjadi di mana-mana.
Soal gaji guru juga ironis. Jika memang Prabowo mau menaikkan gaji guru, mengapa anggaran pendidikan justru dipotong dan dialihkan ke program makan bergizi gratis (MBG)?
Klise
Seperti biasanya, Prabowo kemudian mencari kambing hitam sebagai pemicu munculnya berbagai permasalahan itu. Anehnya, kambing hitam yang disampaikan Prabowo justru terdengar klise. Betapa tidak?
Semua masalah yang disebut Prabowo itu, katanya, terjadi karena kekayaan Indonesia mengalir ke luar negeri. Entah sudah berapa kali Prabowo menyebut hal ini, sehingga memang terasa klise.
Kalau mengidentifikasi masalah saja sudah sangat terlambat, bagaimana bisa dia memberikan solusi?
Masih dalam pernyataannya di Sidang Paripurna Kabinet Merah Putih, Prabowo mengklaim, oleh karena berbagai persoalan itulah dirinya dipilih rakyat dan diberi mandat untuk “diselesaikan”.
Maksudnya, yang diselesaikan itu semua persoalan dimaksud, ataukah mandatnya yang diselesaikan alias dicabut?
Biarlah waktu yang menjawab!























