Bandung – Fusilatnews – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Bandung, bersama Observatorium Albiruni Fakultas Syariah Universitas Islam Bandung (Unisba).berkolaborasi membantu Kementerian Agama mengamati hilal untuk menetapkan ttibahnya 1 Romadhon 1446 H.
Kepala BMKG Stasiun Bandung, Teguh Rahayu, memimpin langsung pengamatan
Pengamatan menggunakan teleskop terkomputerisasi yang dipadukan dengan teknologi informasi untuk merekam cahaya hilal.
“Saat pengamatan dilaksanakan, kecerlangan cahaya hilal akan direkam oleh detektor yang dipasang pada teleskop yang secara otomatis mengikuti berubahnya posisi bulan di ufuk barat,” jelas Teguh dalam keterangannya, Jumat (28/2/2025).
BMKG menjelaskan bahwa keteraturan peredaran bulan memungkinkan manusia menentukan awal bulan Hijriah.
Penentuan ini penting bagi umat Islam dalam menetapkan awal tahun baru Hijriah, bulan Ramadhan, bulan Syawal, Idul Fitri, dan Idul Adha.
Pengamatan hilal merupakan bagian dari tugas BMKG berdasarkan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2009 tentang Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika.
Memasuki bulan Ramadhan 1446 H, BMKG melaksanakan rukyat hilal di 37 lokasi di Indonesia, termasuk Aceh, Medan, Tangerang, Bandung, Yogyakarta, Makassar, dan Jayapura
Konjungsi atau ijtima’ adalah peristiwa saat bujur ekliptika bulan sama dengan bujur ekliptika matahari. Berdasarkan hasil hisab, konjungsi ijtima terjadi pada Jumat (28/2/2025), pukul 07:04:38 WIB dengan bujur ekliptika matahari dan bulan tepat di 339,67 derajat.
Tinggi hilal di Bandung pada 28 Februari 2025 tercatat sebesar 4 derajat 1,93′, elongasi 6 derajat 0,71′, umur bulan 10,41 jam, dan fraksi iluminasi bulan (FIB) sebesar 0,20%. Pengamatan ini menjadi acuan bagi pihak yang menetapkan awal Ramadhan berdasarkan rukyat maupun hisab.























