Pertama kali saya mendengar kalimat “there is no end for the fighting nation” dari Mayjen Abdul Kadir, Sekretaris Jenderal Departemen Penerangan Republik Indonesia (Deppen RI) di era Orde Baru. Ungkapan ini mencerminkan semangat juang yang tidak pernah padam dari sebuah bangsa yang terus berjuang untuk mempertahankan kehormatan dan kedaulatan. Kalimat ini kemudian sering disebut oleh Prabowo Subianto, seorang tokoh militer dan politik yang juga kerap menekankan pentingnya semangat juang bagi keberlangsungan bangsa. Namun, ada satu sosok penting dalam sejarah Indonesia yang tampaknya tidak begitu menggemakan semangat ini, yakni Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Presiden keenam Republik Indonesia.
Tulisan ini tidak hanya ingin membandingkan gaya kepemimpinan SBY dengan tokoh-tokoh lainnya, tetapi juga ingin menyoroti momen-momen kritis di mana pemikiran para tokoh bangsa sangat dinantikan untuk memberikan solusi atas berbagai permasalahan yang sedang dihadapi oleh bangsa ini. Sayangnya, SBY, yang pernah menjadi pemimpin Indonesia selama dua periode, tampaknya lebih memilih mengasingkan diri di Pacitan, melukis dan mendampingi putranya, Agus Yudhoyono, daripada terlibat langsung dalam percaturan politik dan memberikan kontribusi pemikiran untuk bangsa.
Pada saat Indonesia dihadapkan dengan berbagai masalah serius, baik dari sisi politik, ekonomi, maupun sosial, suara SBY yang diharapkan dapat memberikan arah dan solusi justru tidak terdengar. Padahal, sebagai mantan Presiden dan tokoh nasional, SBY seharusnya memiliki tanggung jawab moral untuk turut serta dalam upaya memecahkan berbagai masalah bangsa. Namun, yang terjadi justru sebaliknya, SBY terlihat lebih fokus pada kegiatan pribadi yang tidak terkait langsung dengan upaya menyelamatkan bangsa dari krisis.
Di sisi lain, Megawati Soekarnoputri, Presiden kelima Indonesia, meskipun tidak lagi menjabat sebagai presiden, masih menunjukkan kepeduliannya terhadap nasib bangsa. Dalam berbagai kesempatan, Megawati sering kali mengungkapkan keprihatinannya terhadap situasi nasional dan memberikan pandangan serta saran yang, meski terkadang kontroversial, tetap mencerminkan semangat untuk terus berjuang demi kepentingan bangsa dan negara. Ungkapan “there is no end for the fighting nation” seolah-olah tersampaikan secara implisit oleh Megawati melalui sikap dan tindakannya yang selalu berusaha untuk berada di garda depan dalam menjaga kedaulatan bangsa.
Kontras ini semakin mempertegas perbedaan sikap antara SBY dan Megawati dalam menghadapi tantangan bangsa. Di saat Megawati terus berupaya memberikan pemikiran dan dukungan moral, SBY justru terlihat lebih sibuk dengan urusan pribadi. Sikap ini tentu menimbulkan tanda tanya besar di benak banyak pihak, mengingat peran dan posisi SBY sebagai mantan Presiden yang seharusnya memiliki pengaruh besar dalam memberikan solusi bagi bangsa.
Ketika bangsa ini sedang menanti-nanti pemikiran para tokoh bangsa untuk turut memberikan pemecahan terhadap berbagai masalah yang sedang mengemuka, ketidakhadiran SBY dalam diskursus publik menjadi suatu kehilangan besar. Sementara tokoh-tokoh lain seperti Prabowo dan Megawati terus berjuang, SBY tampaknya lebih memilih menjadi penonton, asyik dengan kegiatannya di Pacitan dan mengasuh anaknya, Agus Yudhoyono, yang juga sedang mencoba meniti karir di dunia politik.
Sebagai penutup, tulisan ini bukanlah sekadar kritik, tetapi juga sebuah ajakan refleksi. Seorang pemimpin, terutama yang pernah memegang jabatan tertinggi di negara ini, memiliki tanggung jawab yang lebih besar dari sekadar mengurus diri sendiri dan keluarganya. Bangsa ini membutuhkan pemikiran dan semangat juang dari semua elemen, terutama dari mereka yang pernah dipercaya oleh rakyat untuk memimpin. Dalam konteks ini, semangat “there is no end for the fighting nation” harus terus hidup dalam diri setiap pemimpin bangsa, termasuk SBY.
























