Jakarta – Fusilatnews- Di balik semaraknya demokrasi, ada secuil kekecewaan yang merundung Tim Pemenangan Ridwan Kamil-Suswono (RIDO) dalam Pemilihan Kepala Daerah Jakarta 2024.
Seiring dengan rendahnya partisipasi pemilih yang angkanya mencemaskan, tim sukses paslon cagub-cawagub Jakarta nomor urut 1 merasa, seolah harapan warga Jakarta untuk menyuarakan pilihan mereka terabaikan.
Tim RIDO menilai Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jakarta tidak profesional dalam menjalankan tugasnya, sehingga legitimasi hasil Pilkada ini patut dipertanyakan
Sekretaris Tim Pemenangan RIDO, Basri Baco, mengungkapkan bahwa rendahnya partisipasi pemilih bukan semata-mata akibat ketidakpedulian masyarakat, melainkan karena serangkaian masalah.
Ada warga yang sudah tiada namun masih tercatat dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT), sosialisasi yang kurang, hingga warga yang tidak mendapat surat undangan untuk memilih.
Baco pun mencontohkan di TPS 023 Petojo Selatan yang hanya mencatatkan 15,7 persen partisipasi, dan di TPS 016 Semper Barat serta TPS 138 Penjaringan yang hanya mencapai 21,33 persen.
Rendahnya partisipasi masyarakat membuat legitimasi Pilkada ini cenderung kecil,” ujar Baco.
Data menunjukkan, tingkat partisipasi di Jakarta hanya mencapai 57 persen, yang tercatat sebagai angka terendah sepanjang sejarah
Pilkada. Baco menilai angka ini sangat rendah dibandingkan dengan Pilpres 2024m yang mencapai lebih dari 80 persen.
“Kalau dilakukan PSU maka KPU harus berusaha agar masyarakat antusias memberikan hak pilih mereka di TPS, sehingga tingkat partisipasi pemilih bisa meningkat,” ucap Baco. Dipilih
seperempat warga
memperkirakan, hasil Pilkada kali ini hanya ditentukan sekitar seperempat warga Jakarta. Hal ini dipengaruhi tingginya jumlah surat suara tidak sah usai pencoblosan.
“Siapapun pemenang Pilkada ini legitimasinya kurang atau tidak kuat legitimasinya karena hanya mungkin dipilih oleh seperempat warga Jakarta,” ujar Baco.
Banyak warga yang tidak menerima form C6. Bahkan yang menerima, rata-rata baru mendapatkannya H-1 atau H-2 sebelum Pilkada, padahal seharusnya 2, 3, atau 4 hari sebelumnya,” jelas Baco.
Partisipasi pemilih terendah dalam sejarah jakarta
Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI melaporkan partisipasi pemilih dalam Pilkada Serentak 2024 hanya mencapai 68,16 persen secara nasional, lebih rendah dibandingkan Pilpres 2024 yang mencatatkan lebih dari 80 persen.
Di DKI Jakarta, tingkat partisipasi pemilih tercatat hanya 57,6 persen, angka terendah dalam sejarah Pilkada.
“Meskipun data menunjukkan partisipasi di bawah 70 persen, setiap daerah memiliki angka yang berbeda. Ada provinsi yang mencapai 81 persen, sementara lainnya hanya 54 persen,” jelas anggota KPU RI, Augus Mellaz, pada Jumat (29/11/2024).
Meski partisipasi Pilkada umumnya lebih rendah dibandingkan Pilpres, Mellaz menambahkan bahwa sosialisasi dan penyebarluasan informasi sudah dilakukan serupa dengan Pilpres 2024.
Terkait partisipasi pemilih yang rendah itu, Tim Rido menilai,























