Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Pegiat Media
Jakarta – Tragedi kemanusiaan terjadi di Kalideres, Jakarta Barat. Empat orang dalam satu keluarga ditemukan tewas membusuk, Kamis (10/11/2022). Mereka adalah RG (71/suami), MG (66/istri), DF (42/anak), dan BG (68/ipar).
Diperkirakan keempatnya meninggal sekitar tiga minggu sebelum ditemukan dalam waktu yang tidak bersamaan. Berdasarkan hasil autopsi polisi, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan. Tidak pula ditemukan sisa-sisa makanan dalam lambung mereka. Penyebab kematian sementara diduga karena tidak ada asupan makanan dan minuman dalam waktu cukup lama. Dengan kata lain, mereka mati karena kelaparan.
Namun, polisi masih memeriksa organ-organ lain tubuh korban seperti hati untuk mengetahui penyabab pasti kematian mereka. Saat ditemukan, tubuh mereka dalam kondisi kering-kerontang, tanpa daging, tinggal kulit dan tulang.
Mungkinkah mereka bunuh diri dengan minum racun? Mungkinkah mereka bunuh diri dengan sengaja berdiam diri, tanpa berusaha mencari makanan di luar? Secara insting, setiap manusia pasti akan berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan hidup atau survival. Sebab itu, polisi masih membuka kemungkinan lain sebagai penyebab kematian korban.
Jika kita berpatokan pada kesimpulan sementara bahwa mereka mati karena kelaparan, maka inilah tragedi kemanusiaan yang sesungguhnya. Ibarat anak ayam mati di lumbung padi. Lebih ironis lagi, tragedi ini terjadi di Ibu Kota. Sepelemparan tombak dari Istana Merdeka, sepelemparan batu dari Balai Kota DKI Jakarta.
Bagaimana dengan mereka yang di ujung Papua, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi, Kalimantan, atau Aceh? Apakah mereka tidak akan mengalami tragedi yang sama, tetapi tidak terekspose?
Semua berpangkal dari absennya kepedulian sosial. Mengapa baru setelah sekitar 3 minggu para tetangga curiga setelah dari rumah korban menyengat aroma busuk, lalu ditemukan mayat dari ruangan yang berbeda? Ini artinya kepedulian sosial antar-tetangga telah memudar bahkan hilang.
Para tetangga bersaksi bahwa keluarga korban jarang sekali berkomunikasi, berinteraksi dan bersosialisasi dengan tetangga. Sekalipun demikian, kalau antar-tetangga masih ada kepedulian sosial, niscaya para tetangga itu akan mencari tahu ke mana sekian lama keluarga korban tidak tampak di lingkungan mereka.
Lalu bagaimana peran Ketua Rukun Tetangga (RT) dan Rukun Warga (RW) setempat? Warga setempat mengira para korban sudah pindah tempat tinggal. Hal itu didasarkan atas cerita korban sendiri. Di rumah korban juga ditemukan barang-barang yang sudah dipak.
Warga juga bercerita korban sempat memesan makanan online beberapa minggu sebelumnya. Namun setelah itu tidak ada lagi cerita. Di rumah korban juga tidak ditemukan sisa-sisa makanan atau bahan-bahan makanan yang siap masak.
Mobil Hilang
Diberitakan, mobil yang ada di rumah korban kini sudah tidak ada lagi di tempatnya. Apakah mobil itu dijual oleh korban selaku pemiliknya, atau diambil orang lain? Polisi saat ini sedang menyelidikinya. Artinya, terbuka kemungkinan kematian korban bukan karena bunuh diri atau karena kelaparan.
Jika polisi kemudian menemukan kematian para korban disebabkan oleh aksi kejahatan, katakanlah diracun karena tidak ditemukan tanda-tanda penganiayaan, maka tetap saja kepedulian sosial di antara sesama tetangga sudah tidak ada lagi di sana.
Kalau ada kepedulian, tak mungkin mayat mereka sampai membusuk. Kalau ada kepedulian, tetangga tidak terlihat sehari atau dua hari saja, tetangga lain pasti akan mencari tahu atau minimal menanyakan keberadaan tetangga itu kepada tetangga lainnya.
Pendek kata, kematian satu keluarga di Kalideres disebabkan oleh kelaparan, bunuh diri, ataukah karena aksi kejatahan, satu hal yang sudah pasti: hilangnya kepedulian sosial. Dan itulah tragedi kemanusiaan sesungguhnya!























