• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Crime

Tragedi Pesantren Al Khoziny: Antara Takdir, Kelalaian, dan Dramaturgi Kepedulian

fusilat by fusilat
October 8, 2025
in Crime, Feature
0
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Nazaruddin

Runtuhnya bangunan di Pesantren Al Khoziny, Sidoarjo, bukanlah bencana alam apalagi “takdir.” Ia adalah hasil nyata dari kelalaian manusia. Sebab sebuah bangunan tidak berdiri atas doa semata, melainkan atas perhitungan ilmiah—besi, semen, pondasi, dan struktur yang semuanya bisa diuji. Maka ketika ia ambruk dan menelan korban jiwa, itu bukan kehendak langit, melainkan kegagalan manusia yang harus dimintai pertanggungjawaban.

Setiap nyawa yang hilang bukan angka di balik musibah, melainkan cermin dari kelalaian berlapis. Namun di tengah duka, muncul fenomena yang lebih kelam: narasi “takdir” justru digunakan untuk melindungi kelalaian dan menjaga hegemoni di hadapan para wali santri. Lebih ironis lagi, simpati publik dan pejabat menjelma menjadi dramaturgi kepedulian—panggung empati yang dibangun di atas reruntuhan.


Dramaturgi di Atas Reruntuhan

Para pejabat berdatangan membawa kamera, berpidato tentang IMB dan “pembangunan pesantren,” lalu berpose di antara puing-puing seolah tengah menegakkan moralitas. Duka pun berubah menjadi latar panggung bagi pertunjukan citra. Di tengah keluarga korban yang menunggu kejelasan, media sosial ramai dengan opini yang terbelah antara empati, amarah, dan pembenaran.

Fokus penyelamatan bergeser ke arah eksploitasi emosional. Para pejabat berlomba menunjukkan “kepedulian,” tetapi melupakan bahwa duka tidak memerlukan kamera. Ia hanya butuh tindakan nyata dan kecepatan bertindak.


Mencari Kambing Hitam dan Hutang Negara

Di sisi lain, muncul narasi baru yang menuding Negara abai. Pesantren disebut sebagai lembaga pendidikan tertua yang berjasa besar bagi bangsa, tetapi kini dibiarkan hidup seadanya. Pertanyaannya: benarkah semua ini salah Negara?

Argumen itu terdengar heroik, namun juga menyesatkan. Benar, pesantren memiliki jasa besar dan negara lama lalai memperhatikannya. Tapi sejak era Jokowi, dukungan fiskal terhadap pesantren meningkat: ada Dana Abadi Pesantren, hibah APBN/APBD, bantuan sarpras, hingga beasiswa santri. Masalahnya, banyak pesantren belum berbadan hukum, sehingga bantuan kerap tercatat sebagai aset pribadi pengasuh atau keluarganya. Fakta ini bukan tuduhan, melainkan persoalan struktural yang tak bisa terus diabaikan.

Karena itu, kelalaian konstruksi tidak dapat dibenarkan dengan dalih “hutang sejarah” atau “minimnya perhatian negara.” Sebab sunnatullah keselamatan adalah tanggung jawab manusia—tanpa bisa dinegosiasikan.


Sunnatullah Keselamatan: Amanah yang Tak Bisa Dinegosiasikan

Mengabaikan izin bangunan mungkin bisa dimaklumi sebagai bentuk keikhlasan pengabdian. Namun mengabaikan standar keselamatan teknis yang berpotensi merenggut nyawa santri adalah pelanggaran terhadap sunnatullah itu sendiri. Keselamatan bukan sekadar urusan administratif, melainkan kewajiban moral dan spiritual.

Runtuhnya bangunan adalah bukti adanya sistem yang lalai: mulai dari perencanaan, kualitas material, hingga pengawasan. Maka tragedi ini bukanlah musibah yang datang dari langit, tetapi buah dari kecerobohan manusia di bumi.


Tiga Tuntutan Akal Sehat

Kita harus berhenti berada di dua ekstrem—menghakimi secara brutal atau memaafkan dengan fatalisme religius. Dari tragedi ini, publik harus menuntut tiga hal konkret:

  1. Pertanggungjawaban teknis dan manajerial atas kelalaian yang menyebabkan korban jiwa.
  2. Transparansi dan akuntabilitas pengelolaan pesantren, agar tidak ada lagi ruang abu-abu antara pengabdian dan kepentingan pribadi.
  3. Standar keselamatan nasional untuk seluruh pesantren di Indonesia, agar nyawa santri tak lagi menjadi taruhan dalam pengabdian.

Jangan biarkan para korban dikenang sebagai “korban takdir.” Mereka adalah korban dari kelalaian manusia yang nyata. Dan dalam hukum kehidupan yang diatur oleh sunnatullah, setiap kelalaian harus diakui dan dipertanggungjawabkan—bukan ditutupi dengan retorika agama atau kepura-puraan politik.


 

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

IPW Kecam Teror Terhadap Wartawan di Mimika

Next Post

Jokowi di Ujung Senja: Ketika Kekuasaan Tak Lagi Menjadi Tameng

fusilat

fusilat

Related Posts

Macet Sampi 19 Kilometer, Hingga Pemudik di Pelabuhan Merak Pingsan
Birokrasi

Negara Jadi Pedagang, Rakyat Jadi Pelanggan: Untuk Apa Kita Memiliki Pemerintah?

June 12, 2026
Per 1 September 2023 Pertamina Naikkan Semua Harga BBM Non Subsidi
Bencana

Kenaikan BBM dan Momentum Kerakusan

June 12, 2026
Feature

REVOLUSI KEDUA DAN UJIAN MORAL PARA VETERAN

June 12, 2026
Next Post
Jokowi di Ujung Senja: Ketika Kekuasaan Tak Lagi Menjadi Tameng

Jokowi di Ujung Senja: Ketika Kekuasaan Tak Lagi Menjadi Tameng

Pidato Prabowo yang Membuat Perut Kembung

Presiden Keliru: Politisasi TNI Jadi Sebab Masalah Mutasi dan Promosi bukan Soal Senior-Junior

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Aktivis 98 Kutuk Teror Air Keras terhadap Aktivis KontraS Andrie Yunus
Birokrasi

Vonis Kasus Andrie Yunus: Pelanggengan Impunitas dan Remiliterisasi

by Karyudi Sutajah Putra
June 12, 2026
0

Jakarta - FusilatNews.--Pengadilan Militer II-08 Jakarta akhirnya menjatuhkan vonis terhadap empat personel Tentara Nasional Indonesia (TNI) setelah terbukti melakukan penyiraman...

Read more
IPW Desak Propam Polda Metro Jaya Sidangkan Penyidik Polres Depok

IPW Sarankan Judicial Review ke MK Jika Tak Puas dengan UU Polri Baru

June 12, 2026

Siapa SA Anggota DPR RI dari Madura yang Diduga Jual-Beli Titik MBG?

June 9, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Menantang Prabowo: Bangsa ‘Besar’ yang Devisanya Terkikis Impor

Gagal Berkali-kali, Ketika Jadi Presiden Gagal Lagi

June 12, 2026
Macet Sampi 19 Kilometer, Hingga Pemudik di Pelabuhan Merak Pingsan

Negara Jadi Pedagang, Rakyat Jadi Pelanggan: Untuk Apa Kita Memiliki Pemerintah?

June 12, 2026
Per 1 September 2023 Pertamina Naikkan Semua Harga BBM Non Subsidi

Kenaikan BBM dan Momentum Kerakusan

June 12, 2026

REVOLUSI KEDUA DAN UJIAN MORAL PARA VETERAN

June 12, 2026

SURAT TERBUKA UNTUK NANIK S. DEYANG Membangun Generasi, Memperkuat Negara

June 12, 2026
Aktivis 98 Kutuk Teror Air Keras terhadap Aktivis KontraS Andrie Yunus

Vonis Kasus Andrie Yunus: Pelanggengan Impunitas dan Remiliterisasi

June 12, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Menantang Prabowo: Bangsa ‘Besar’ yang Devisanya Terkikis Impor

Gagal Berkali-kali, Ketika Jadi Presiden Gagal Lagi

June 12, 2026
Macet Sampi 19 Kilometer, Hingga Pemudik di Pelabuhan Merak Pingsan

Negara Jadi Pedagang, Rakyat Jadi Pelanggan: Untuk Apa Kita Memiliki Pemerintah?

June 12, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Loading Comments...