• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Tragedi Stadion Kanjuruhan dalam Bingkai “Sport Ethics”

Karyudi Sutajah Putra by Karyudi Sutajah Putra
October 3, 2022
in Feature, Sport
0
Tragedi Stadion Kanjuruhan dalam Bingkai “Sport Ethics”
Share on FacebookShare on Twitter


Oleh: Toto TIS Suparto, Editor Buku Lepas, Ghostwritter

JAKARTA – Tragedi nasional terjadi di lapangan sepak bola. Sebanyak 125 nyawa melayang akibat kericuhan di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, usai tuan rumah Arema FC kalah 2-3 dari Persebaya di pekan ke-11 Liga 1 2022/2023, Sabtu (1/10/2022) lalu.

Data kematian tersebut berdasar laporan resmi pemerintah yang dihimpun hingga Minggu (2/10/2022) malam. Korban yang mengalami luka-luka akibat peristiwa itu sebanyak 299 jiwa. Dengan rincian, 260 orang luka ringan dan 39 luka berat.

Tentu angka yang menyedihkan. Jangankan di atas seratus orang, satu suporter meninggal di stadion sudah menjadi duka nasional. Tragedi ini menyentakkan kita bersama, ada sesuatu yang keliru dalam standar liga sepak bola kita.

Tetapi bukan hal ini yang menjadi fokus tulisan kali ini. Saya ingin melihatnya dari sisi lain, yakni dari bingkai “sport ethics”. Apa itu “sport ethics”?

Andrea Borghini menyatakan “sport ethics” adalah cabang filsafat olahraga yang membahas etika secara spesifik yang muncul selama dan di sekitar kompetisi olahraga. “Etika ini menjadi titik terpenting yang menghubungkan filsafat dan masyarakat pada umumnya,” kata Borghini, seorang profesor filsafat di Universitas Milan, Italia, dalam laman thoughtco.com.

Secara garis besar, jika meminjam kajian para etikawan, maka sport ethics memetakan tujuh etika utama dari aktivitas olahraga, yaitu; (a) sportivitas; (b) kecurangan; (c) peningkatan kinerja; (d) olahraga yang berbahaya dan penuh kekerasan; (e) gender dan ras; (f) penggemar dan penonton; (g) olahraga disabilitas; dan (h) estetika olahraga.

Pakailah satu etika utama: sportivitas. Apa yang bisa dibaca? Betapa susahnya menegakkan sportivitas dimaksud. Bukan saja dituntut kepada pemain, tetapi penonton, terutama suporter fanatiknya.

Sportivitas merupakan pilar etika olahraga. Sportivitas adalah kebajikan olahraga yang paling penting. Ini juga dianggap penting bagi kehidupan dan budaya di luar olahraga.

Menerima lapang dada atas kekalahan tim favoritnya merupakan bentuk sportivitas. Dalam bingkai ini, sudahkah Aremania mau menerima kekalahan? Tampaknya ada oknum yang belum menerima kekalahan tersebut.

Menurut saksi mata lewat cuitan di Twitter, pada mulanya ada satu oknum penonton yang masuk ke lapangan dan diduga protes ke pemain kenapa mainnya jelek sehingga kalah. Penonton lain melihat oknum itu berdebat, lalu ikutlah oknum lainnya.

Dari satu oknum ke oknum lain, jadilah penonton lain masuk ke lapangan. Dalam jumpa pers disebutkan sekitar 3.000 orang yang masuk ke lapangan. Sementara jumlah aparat pengaman tak sebanyak itu. Kemudian yang terjadi seperti yang kita tonton di televisi maupun video medsos.

Mengapa tak mau menerima kekalahan? Bisa jadi terkait elemen sport ethics lainnya: kinerja. Riwayat kinerja Arema FC, sejak 1994 tak pernah kalah dari Persebaya tatkala main di kandang. Tiba-tiba kemarin kalah. Penonton mempertanyakan kinerja Arema FC. Sayang, alih-alih mempertanyakan kinerja, malah memanas jadi anarkis.

Etika yang menular

Hal lain yang menarik dari pengamatan para pengkaji sport ethics adalah sifatnya yang menular. Hal ini ditegaskan oleh Deborah Agnew, dosen di School of Education di Flinders University di Australia Selatan, bahwa etika selama kompetisi olahraga akan menular kepada kehidupan di luar atau masyarakat.

Atau etika dari luar dan masyarakat terbawa ke arena. Apa yang terjadi di dalam Stadion Kanjuruhan itu bisa saja cerminan kehidupan di luar stadion. Bukankah kita sering disuguhi kekerasan di luar stadion? Bukankah kita acap melihat elite tertentu yang tak bisa menerima kekalahan? Bukankah kita juga kerap mendengarkan kekerasan verbal antar pemimpin?

Deborah menambahkan bahwa salah satu perilaku yang paling tidak sportif adalah “berbicara sampah” (komentar negatif yang mengejek yang ditujukan kepada lawan) karena sportivitas adalah tentang permainan yang adil dan melakukan perilaku seseorang dengan cara yang dianggap dalam batas yang dapat diterima semangat permainan.

Selama ini kita berharap banyak dari olahraga ini. Begitulah olahraga, betapa kaya etika yang bisa digali sebagai contoh tindakan.

Kata filsuf pendidikan Wendy Kohli (1995), olahraga punya peranan penting sebagai wadah unik penyempurnaan watak, dan sebagai wahana untuk membentuk kepribadian yang kuat, watak yang baik dan sifat yang mulia.

Sekarang harapan itu sirna. Justru olahraga menjadi contoh buruk bagi penegakan etika dimaksud. Setidaknya akan menjadi catatan negatif, nonton sepak bola menularkan etika buruk. Maka, akan banyak nasihat ibu kepada anak remajanya, “Gak usah nonton bola, kamu bisa menjadi orang bertemperamen buruk!”

Dikutip dari Kompas.com, Senin 3 Oktober 2022.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Sepak Bola Indonesia Berduka: Malam Jahanam di Kanjuruhan

Next Post

Nasdem Jagokan Anies Baswedan, Capres 2024

Karyudi Sutajah Putra

Karyudi Sutajah Putra

Related Posts

Rismon Sianipar: Ketika “Ilmiah” Menjadi Senjata, Lalu Berbalik Menjadi Bumerang
Feature

Rismon Sianipar: Ketika “Ilmiah” Menjadi Senjata, Lalu Berbalik Menjadi Bumerang

April 17, 2026
Ini Bukan Dendam Biasa: Jejak Pembusukan Hukum di Balik Kasus Andrie Yunus
Birokrasi

Ini Bukan Dendam Biasa: Jejak Pembusukan Hukum di Balik Kasus Andrie Yunus

April 17, 2026
Indonesia Tidak Pernah Ajeg – Aneh Sendiri. Presidensial dalam Konstitusi, Parlementer dalam Praktik
Feature

Indonesia Tidak Pernah Ajeg – Aneh Sendiri. Presidensial dalam Konstitusi, Parlementer dalam Praktik

April 17, 2026
Next Post
NasDem Deklarasikan Anies Capres 10 November?

Nasdem Jagokan Anies Baswedan, Capres 2024

Penolakan Pembangunan Rumah Ibadah, Sentimen atau Kritik Sosial?

Penolakan Pembangunan Rumah Ibadah, Sentimen atau Kritik Sosial?

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Blanket Overflight Militer AS Ancaman Serius bagi Kedaulatan Indonesia
News

Blanket Overflight Militer AS Ancaman Serius bagi Kedaulatan Indonesia

by fusilat
April 17, 2026
0

Jakarta-FusilatNews - Awal minggu ini beredar sejumlah laporan media internasional yang mengungkap adanya upaya Amerika Serikat (AS) untuk memperoleh akses...

Read more
Kekerasan Seksual di Kampus: Urgensi Tranformasi Holistik Lewat “Inclusive University Governance”

Kekerasan Seksual di Kampus: Urgensi Tranformasi Holistik Lewat “Inclusive University Governance”

April 15, 2026
Tanah dan Bangunan di Jalan Teuku Umar No 2 Menteng Bukan Milik Kemenhan RI, Ini Alasannya!

Tanah dan Bangunan di Jalan Teuku Umar No 2 Menteng Bukan Milik Kemenhan RI, Ini Alasannya!

April 13, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Rismon Sianipar: Ketika “Ilmiah” Menjadi Senjata, Lalu Berbalik Menjadi Bumerang

Rismon Sianipar: Ketika “Ilmiah” Menjadi Senjata, Lalu Berbalik Menjadi Bumerang

April 17, 2026
Pilkada Jakarta Selesai, Inisial S atau Kaesang?

PSI Klaim ‘Borong’ Kader NasDem, Nama-nama Disimpan: Manuver Senyap atau Sinyal Perang Politik?

April 17, 2026
Baru Dilantik, Ketua Ombudsman Langsung Berhadapan dengan Hukum

Baru Dilantik, Ketua Ombudsman Langsung Berhadapan dengan Hukum

April 17, 2026
Ini Bukan Dendam Biasa: Jejak Pembusukan Hukum di Balik Kasus Andrie Yunus

Ini Bukan Dendam Biasa: Jejak Pembusukan Hukum di Balik Kasus Andrie Yunus

April 17, 2026
Indonesia Tidak Pernah Ajeg – Aneh Sendiri. Presidensial dalam Konstitusi, Parlementer dalam Praktik

Indonesia Tidak Pernah Ajeg – Aneh Sendiri. Presidensial dalam Konstitusi, Parlementer dalam Praktik

April 17, 2026
Negara Kesatuan dengan Rasa Federal

Negara Kesatuan dengan Rasa Federal

April 17, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Rismon Sianipar: Ketika “Ilmiah” Menjadi Senjata, Lalu Berbalik Menjadi Bumerang

Rismon Sianipar: Ketika “Ilmiah” Menjadi Senjata, Lalu Berbalik Menjadi Bumerang

April 17, 2026
Pilkada Jakarta Selesai, Inisial S atau Kaesang?

PSI Klaim ‘Borong’ Kader NasDem, Nama-nama Disimpan: Manuver Senyap atau Sinyal Perang Politik?

April 17, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist