• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Trump Corollary: Manifestasi Pergeseran Hegemoni AS ke Dominasi Unilateral yang Arogan

fusilat by fusilat
January 14, 2026
in Feature, World
0
Trump Corollary: Manifestasi Pergeseran Hegemoni AS ke Dominasi Unilateral yang Arogan
Share on FacebookShare on Twitter

Di era pasca-Perang Dingin, hegemoni Amerika Serikat (AS) sering digambarkan sebagai kekuatan stabil yang mempromosikan tatanan berbasis aturan (rule-based order), meskipun kerap disertai intervensi kontroversial. Namun, dengan kembalinya Donald Trump ke Gedung Putih pada 2025, konsep “Trump Corollary” muncul sebagai doktrin baru yang menandai pergeseran dramatis: dari hegemoni yang mengandalkan aliansi dan legitimasi multilateral ke dominasi unilateral yang brutal dan impulsif.

Doktrin ini, yang secara resmi diperkenalkan dalam National Security Strategy (NSS) Desember 2025 sebagai kelanjutan Monroe Doctrine, yang menyatakan bahwa AS akan “mengembalikan preeminensi Amerika” di Belahan Barat melalui kekuatan militer dan ekonomi, tanpa memedulikan hukum internasional.

Operasi penangkapan Nicolás Maduro di Venezuela pada Januari 2026 menjadi bukti: bukan sekadar tindakan anti-narkoba, melainkan perampasan kendali atas cadangan minyak dan mineral untuk kepentingan korporasi AS. Ini bukan evolusi strategi, melainkan gejala kemunduran imperium yang semakin arogan untuk menutupi kelemahannya.

Pergantian ini didorong oleh tiga perubahan struktural besar yang menggerus fondasi hegemoni AS: transisi geopolitik dari ketergantungan minyak ke elemen tanah yang langka (rare earth elements/REE), dedolarisasi melalui BRICS, dan munculnya dunia multipolar. Ketiga faktor ini memaksa AS beralih ke dominasi kasar, tapi justru mempercepat isolasinya dan risiko konflik global.

Transisi dari Follow the Oil ke Rare Earth Elements: Komoditas Baru untuk Dominasi Lama

Selama abad ke-20, geopolitik global berputar pada minyak—dari intervensi AS di Timur Tengah hingga blokade ekonomi terhadap rezim yang dianggap “tidak sesuai”. Namun, di 2026, fokus bergeser ke REE, mineral kritis untuk teknologi hijau, AI, kendaraan listrik, dan senjata presisi.
China mendominasi 70-90% produksi dan pengolahan global, sementara AS bergantung pada impor yang rentan.
Kontrol China atas REE telah menjadi senjata geopolitik, seperti pembatasan ekspor ke Jepang pada Januari 2026, yang memicu krisis rantai pasok otomotif global.

Trump Corollary merespons ini dengan ambisi aneksasi Greenland, yang kaya REE (10-20% cadangan global), untuk “investasi masa depan” di Arktik—bukan melakukan diplomasi, namun ancaman “the hard way” jika Denmark menolak.
Ini mengungkap sifat neo-kolonial, dimana AS tidak lagi memimpin melalui inovasi, melainkan memperebutkan sumber daya secara brutal, yang justru memicu resistensi dari sekutu seperti Eropa dan memperkuat narasi China sebagai alternatif stabil. Transisi ini bukan kemajuan, melainkan regresi ke imperialisme sumber daya, di mana dominasi unilateral AS justru memperburuk ketergantungan global pada rantai pasok yang rapuh.

Dedolarisasi melalui BRICS: Menggerogoti Pilar Ekonomi Hegemoni

Sejak 1974, petrodolar—di mana minyak global diperdagangkan dalam dolar AS—menjadi fondasi kekuatan ekonomi AS, memungkinkan sanksi dan kontrol pada keuangan global. Namun, BRICS (kini 10 negara lebih, mewakili 36,7% PDB global PPP dan 45,2% populasi dunia) mendorong dedolarisasi melalui perdagangan mata uang lokal, sistem pembayaran alternatif seperti BRICS Pay, dan unit settlement baru.
Pada 2025, 20% perdagangan minyak non-dolar, dan prototipe BRICS Pay (berbasis blockchain) diluncurkan di Kazan 2024, dengan pilot penuh direncanakan 2026-2027.

Trump Corollary merespons dengan ancaman tarif 100% terhadap BRICS jika melanjutkan dedolarisasi, tapi ini justru mempercepat proses—seperti pembayaran nuklir Rusia-Bangladesh dalam yuan.

Ini lebih seperti reaksi panik terhadap erosi hegemoni, di mana AS menggunakan sanksi sebagai senjata, yang malah mendorong Global South ke alternatif seperti kripto BRICS, memperlemah dolar (kini 80% perdagangan global, tapi menurun). Dedolarisasi ini mengungkap kerapuhan dominasi AS: bahwa tindakan AS bukanlah kekuatan, tapi ketakutan kehilangan hak istimewa yang memicu arogansi unilateral.

Dunia Multipolar: Dari Unipolaritas ke Kekacauan yang Diciptakan Sendiri

Pasca-1991, AS menikmati unipolaritas, tapi 2026 menandai dunia multipolar di mana kekuatan seperti China, Rusia, India, dan BRICS menantang dominasi tunggal.
India dan Nigeria menjadi raksasa demografi, sementara Eropa dan Jepang populasi menurun; kekuatan tengah seperti Turki, Arab Saudi, dan Indonesia manfaatkan “multisphere” untuk manuver isu-berbasis, bukan aliansi tetap.

Trump Corollary merespons dengan “primacy on steroids,” seperti ancaman ke Meksiko, Kolombia, atau Panama Canal, tapi ini memicu resistensi—seperti yang ditolak Kanada “negara bagian ke-51” dan NATO khawatir bubar jika Greenland dianeksasi.

Dominasi unilateral ini bukan kekuatan, melainkan kelelahan atau lebih ke kejenuhan imperium yang menciptakan kekacauan sendiri, mempercepat transisi ke multipolar di mana AS jadi sumber risiko global, bukan pemimpin.

Jadi…
Trump Corollary bukanlah inovasi, melainkan manifestasi akhir dari hegemoni AS yang mulai runtuh: dari pemimpin dunia ke pengganggu unilateral yang keluar dari 66 organisasi internasional untuk menghemat dana, tapi menghilangkan pengaruh.

Tiga perubahan besar ini—REE, dedolarisasi, multipolaritas—mengungkap kerapuhan AS, di mana respons arogan seperti invasi Venezuela atau ancaman mau menguasai Greenland justru mempercepat kejatuhan imperium, memicu konflik, dan membuka jalan bagi tatanan baru yang lebih inklusif tanpa dominasi tunggal. Bagi Global South, ini peluang; namun bagi dunia, ini ancaman jika tidak dikelola. Sejarah mengajarkan: imperium runtuh bukan karena kalah perang, tapi gagal beradaptasi.

Salam,
Malika Dwi Ana
14 Januari 2026

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Tragedi 1965 dan Reformasi 1998: Letusan Perang Proxy di Indonesia

Next Post

Rektor UTM Jakarta: Pilkada Lewat DPRD Tetap Demokratis, Namun Risiko Alienasi Rakyat Mengintai

fusilat

fusilat

Related Posts

Hidayah yang Menemukan Akal  Ketika Al-Qur’an Berbicara tentang Peredaran Bumi
Feature

Hidayah yang Menemukan Akal Ketika Al-Qur’an Berbicara tentang Peredaran Bumi

February 13, 2026
Kalau Ijazah Jokowi Palsu, Terus Kenapa?: Ketika Moral Publik Dipatahkan dengan Santai
Feature

IF YOU CAN’T STAND THE HEAT, GET OUT OF THE KITCHEN

February 13, 2026
Perseteruan Raja Jawa vs Roy Suryo dan Ketidakakuran Kasunanan Surakarta vs Kasultanan Yogyakarta
Crime

Bila Ijazah Asli;Roy CS Terancam Penjara 9 Bulan – Bila Palsu; Jokowi Terancam 10 Tahun

February 13, 2026
Next Post
Rektor UTM Jakarta: Pilkada Lewat DPRD Tetap Demokratis, Namun Risiko Alienasi Rakyat Mengintai

Rektor UTM Jakarta: Pilkada Lewat DPRD Tetap Demokratis, Namun Risiko Alienasi Rakyat Mengintai

Ketika Survei Menobatkan Indonesia, dan Finlandia Tetap Juara

Ketika Survei Menobatkan Indonesia, dan Finlandia Tetap Juara

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
10 Isu Prioritas Bisnis dan HAM di Indonesia 2026 Versi Setara Institute
Bisnis

10 Isu Prioritas Bisnis dan HAM di Indonesia 2026 Versi Setara Institute

by Karyudi Sutajah Putra
February 12, 2026
0

Jakarta-Fusilatnews - Bisnis dan hak asasi manusia (HAM) adalah seperangkat prinsip yang berfokus pada tanggung jawab pelaku usaha untuk menegakkan...

Read more
Kuorum Tak Terpenuhi, DPR Tunda Paripurna Pengesahan RUU Pilkada

Habis KPK, Terbitlah MK: Dilemahkan!

February 7, 2026
Akankah Gibran Ancam Bunuh Prabowo Seperti di Filipina?

Ketika Prabowo Menantang Gibran Bertarung di 2029

February 7, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Pedagang Sea Food di Beijing Terkejut Dengan Larangan Total Impor Jepang

Krisis Suksesi Menghantui UMKM Jepang, Peluang Baru Terbuka bagi Mitra Asing

February 13, 2026
Rakyat Tolak Gibran, Prabowo Terima; Rakyat Minta Adili Jokowi, Prabowo Malah Serukan ‘Hidup Jokowi’

Damai Hari Lubis Bantah Minta Maaf dan Terima Uang: Ini Rekayasa Politik, Bukan Proses Hukum

February 13, 2026
Hidayah yang Menemukan Akal  Ketika Al-Qur’an Berbicara tentang Peredaran Bumi

Hidayah yang Menemukan Akal Ketika Al-Qur’an Berbicara tentang Peredaran Bumi

February 13, 2026
Prof Euis Amalia: Karya FKI Lebih Konkret Dibanding ICMI dan KAHMI

Prof Euis Amalia: Karya FKI Lebih Konkret Dibanding ICMI dan KAHMI

February 13, 2026
Ketua BEM UGM Dapat Teror Usai Suarakan Kasus Anak Bunuh Diri di NTT

Ketua BEM UGM Dapat Teror Usai Suarakan Kasus Anak Bunuh Diri di NTT

February 13, 2026
Kalau Ijazah Jokowi Palsu, Terus Kenapa?: Ketika Moral Publik Dipatahkan dengan Santai

IF YOU CAN’T STAND THE HEAT, GET OUT OF THE KITCHEN

February 13, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Pedagang Sea Food di Beijing Terkejut Dengan Larangan Total Impor Jepang

Krisis Suksesi Menghantui UMKM Jepang, Peluang Baru Terbuka bagi Mitra Asing

February 13, 2026
Rakyat Tolak Gibran, Prabowo Terima; Rakyat Minta Adili Jokowi, Prabowo Malah Serukan ‘Hidup Jokowi’

Damai Hari Lubis Bantah Minta Maaf dan Terima Uang: Ini Rekayasa Politik, Bukan Proses Hukum

February 13, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...