Ubedillah menekankan bahwa mahasiswa dan cendekiawan menjadi harapan utama masyarakat dalam menumbangkan rezim Jokowi. Dia juga menyebutkan perlunya gerakan mahasiswa seperti pada tahun 1998 yang berhasil mengakhiri kekuasaan Orde Baru.
Jakarta-Fusilatnews.-– Dalam menghadapi dugaan pelanggaran dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024, mahasiswa menjadi garda terdepan dalam menolak praktik curang yang diduga terjadi. Hal ini diungkapkan oleh Dr. Ubedillah Badrun, seorang aktivis dosen dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ).
“Dalam menjalani perubahan yang syarat dengan iman dan taqwa, seperti yang disebutkan dalam Surah al Araf, sebuah bangsa yang beriman dan bertakwa akan mendapatkan berkah super power dari Tuhan,” ungkapnya.
Ubedillah menyoroti kondisi Pemilu tanpa kehadiran Joko Widodo, yang diyakininya akan dimenangkan oleh Prof. Dr. H. Anies Baswedan. Namun, ia menegaskan bahwa Pemilu tersebut hanya didukung oleh modal 12,8 triliun rupiah dan tim IT yang lemah, berhadapan dengan tantangan dari luar.
Lebih lanjut, Ubedillah menyoroti ketidaktahuan masyarakat akan kondisi sosial yang bobrok akibat rezim Jokowi, terutama terkait korupsi dan kekuasaan oligarki. Dia mengecam kondisi demokrasi Indonesia yang menurutnya sangat parah, dengan Indonesia menempati peringkat 53 dalam Index Demokrasi.
Dalam menghadapi situasi ini, Ubedillah menekankan bahwa mahasiswa dan cendekiawan menjadi harapan utama masyarakat dalam menumbangkan rezim Jokowi. Dia juga menyebutkan perlunya gerakan mahasiswa seperti pada tahun 1998 yang berhasil mengakhiri kekuasaan Orde Baru.
Usai klaim kemenangan oleh Prabowo tanpa menunggu keputusan Real Count KPU, rakyat pun menggelar protes di Mahkamah Konstitusi pada 27 dan 28 Maret 2024. Ubedillah juga menyatakan bahwa banyak akademisi yang menyesal telah mendukung Prabowo.
Ungkapan Ubedillah Badrun ini diutarakan dalam dialog dengan protokol oleh DR Suryadi Nomi pada Dialog Iftor yang diselenggarakan oleh Barisan Nusantara di Pedepokan Jalan Antasari 37, Cipete, Jakarta pada 24 Maret 2024.
Dalam acara tersebut, Prof. Awal Rizky dari Barisan Nusantara menegaskan komitmen organisasinya dalam menghadapi kondisi politik saat ini. Hadir pula berbagai tokoh dan aktivis seperti Ahmad Wakil Kamal, Sapto Jogja, Tomy, dan lainnya.
Laode Basir, salah satu peserta, menyatakan keprihatinannya terhadap kondisi oposisi yang terkekang dan dominasi kampus. Dia juga menyoroti pengaruh dosen pragmatis terhadap mahasiswa serta keberhasilan Anies Baswedan dalam menempatkan perubahan.
Dalam menyikapi situasi politik saat ini, Barisan Nusantara menekankan pentingnya inisiatif lokal, terutama di wilayah Jabodetabek. Mereka menolak politik praktis dan menyoroti berbagai isu politik yang dianggap relevan dalam konteks perubahan politik di Indonesia.

























