• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Crime

UGM, Markus, dan Aroma “Black Lawyer”: Kala Kampus Sunyi Hadapi Dugaan Ijazah Palsu Jokowi

Damai Hari Lubis - Mujahid 212 by Damai Hari Lubis - Mujahid 212
April 8, 2025
in Crime, Feature
0
UGM, Markus, dan Aroma “Black Lawyer”: Kala Kampus Sunyi Hadapi Dugaan Ijazah Palsu Jokowi
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Damai Hari Lubis-Pengamat KUHP dan Aktivis Kebebasan Berpendapat

Publik kian gamang menatap wajah lembaga pendidikan tinggi negeri, khususnya Universitas Gadjah Mada (UGM). Alih-alih menjulang sebagai mercusuar ilmu dan moralitas, kampus ini justru terjerembab dalam citra suram sebagai “sarang sindikat ijazah palsu.” Tuduhan itu tak main-main. Sejumlah petingginya—mulai dari rektor, dekan, hingga Guru Besar Hukum Pidana—terseret dalam pusaran polemik dugaan pemalsuan ijazah Presiden Joko Widodo.

Di tengah badai keraguan itu, nama Prof. Dr. Markus Priyo Gunarto, SH, MHum, mencuat. Alih-alih memberi klarifikasi berbasis akademik, ia justru melontarkan pernyataan yang terkesan menyamarkan substansi persoalan. Sebagai seorang guru besar hukum pidana, pendapat Markus tak hanya problematik secara akademis, tetapi juga rawan ditafsir sebagai pembelaan halus terhadap dugaan pelanggaran hukum. Ia seperti tengah memainkan peran—meminjam istilah populer—black lawyer.

Pernyataan Markus yang memberi kesan bahwa ijazah Jokowi asli tapi hilang, lalu dibuat ulang adalah bentuk advokasi berbalut diksi akademik yang samar. Padahal, dua pakar teknologi informasi—Dr. Roy Suryo dan Dr. Eng. Rismon H. Sianipar—secara tegas menyatakan bahwa, berdasarkan analisis digital forensik, ijazah Jokowi palsu. Publik pun menanti klarifikasi berbasis data dan metode ilmiah dari pihak UGM, bukan opini yang terkesan membelokkan arah diskusi.

Ironisnya, alih-alih menggerakkan fakultas teknik atau pusat studi forensik digital UGM untuk menguji data Roy dan Rismon secara akademik, Markus justru tampil memberi narasi pengaburan. Ia tidak hanya mengabdi pada kekaburan, tapi juga menutup pintu pertanggungjawaban ilmiah.

Apakah Markus lupa, bahwa opini yang dilemparkannya bisa dianggap sebagai bagian dari strategi melemahkan upaya hukum masyarakat sipil—dalam hal ini Tim Pembela Ulama dan Aktivis (TPUA)—yang tengah menempuh jalur litigasi dan non-litigasi terkait dugaan pemalsuan ijazah Jokowi?

TPUA telah mengajukan gugatan perdata dan laporan pidana atas dugaan pemalsuan ijazah ke pengadilan negeri hingga Mabes Polri, didukung bukti berupa putusan pengadilan dan pendapat pakar IT. Bahkan hingga hari ini (7 April 2025), TPUA masih terus melengkapi bukti.

Sebagai konseptor gugatan tersebut, saya menilai pernyataan Markus berbahaya. Ia berpotensi mengacaukan logika hukum publik. Advokasi yang ia bangun tak ubahnya debat kusir ala warung kopi, bukan refleksi dari guru besar di institusi yang lahir dari rahim republik.

Jika benar ijazah Jokowi hilang, bukankah seharusnya UGM memiliki berita acara kehilangan, laporan resmi ke kepolisian, atau setidaknya arsip pembanding yang bisa diuji secara forensik? Dan jika memang hilang, mengapa Jokowi menggunakan foto yang diduga palsu pada dokumen pengganti?

Pertanyaan-pertanyaan mendasar ini tak pernah dijawab. Justru yang muncul adalah narasi pembelaan tak berbasis bukti. Di sinilah Markus, dan mungkin sebagian elite UGM, tampak abai terhadap asas fundamental dalam hukum: Mala in se—perbuatan yang salah secara moral, bukan semata formal.

Pertanyaannya kini: apakah UGM tengah kehilangan suara nuraninya? Apakah para akademisinya sedang menanggalkan etika intelektual demi selimut kekuasaan?

Markus boleh bersuara, tapi publik juga berhak bertanya: apakah ini suara guru besar, atau suara dari balik bayang-bayang kekuasaan?

 

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Anggota TNI AL Terduga Pembunuh Juwita Petakan Situasi 3 Bulan Sebelum Habisi Korban

Next Post

Keadaban Teknokrat: Menjaga Nurani di Tengah Kompetensi

Damai Hari Lubis - Mujahid 212

Damai Hari Lubis - Mujahid 212

Related Posts

Presiden Prabowo, Waspada! Gejolak September Bisa Jadi Strategi Politik Tersembunyi
Feature

Prabowo Mulai Panik!

April 29, 2026
Feature

Antara Pembatasan Gawai dan Pendidikan Digital

April 29, 2026
Economy

Bom Waktu APBN-P 2026: Rupiah Jebol, Subsidi Meledak, Rakyat yang Nanggung

April 29, 2026
Next Post

Keadaban Teknokrat: Menjaga Nurani di Tengah Kompetensi

Mengkhawatirkan, 3 Bulan Terjadi 6 Teror Kepada Wartawan

Mengkhawatirkan, 3 Bulan Terjadi 6 Teror Kepada Wartawan

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Presiden Prabowo, Waspada! Gejolak September Bisa Jadi Strategi Politik Tersembunyi
Feature

Prabowo Mulai Panik!

by Karyudi Sutajah Putra
April 29, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta - Mungkin merasa terdesak oleh lawan-lawan politiknya. Setelah...

Read more
Reshuffle Kabinet “4L”

Reshuffle Kabinet “4L”

April 27, 2026
IPW: Aneh, Polres Metro Depok Hanya Tetapkan Satu Tersangka Kasus Pengeroyokan

IPW: Aneh, Polres Metro Depok Hanya Tetapkan Satu Tersangka Kasus Pengeroyokan

April 27, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Presiden Prabowo, Waspada! Gejolak September Bisa Jadi Strategi Politik Tersembunyi

Prabowo Mulai Panik!

April 29, 2026

Antara Pembatasan Gawai dan Pendidikan Digital

April 29, 2026

Bom Waktu APBN-P 2026: Rupiah Jebol, Subsidi Meledak, Rakyat yang Nanggung

April 29, 2026
HMI–KAHMI Ditegaskan Saling Terikat dalam Pembinaan Kader di Perguruan Tinggi

HMI–KAHMI Ditegaskan Saling Terikat dalam Pembinaan Kader di Perguruan Tinggi

April 29, 2026
Koperasi vs Ritel Raksasa: Perang yang Sudah Kalah Sebelum Dimulai

Koperasi vs Ritel Raksasa: Perang yang Sudah Kalah Sebelum Dimulai

April 29, 2026

Tinta Darah dan Garis di Atas Peta: Ketika Dunia Menjadi Kue yang Dibagi Habis

April 29, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Presiden Prabowo, Waspada! Gejolak September Bisa Jadi Strategi Politik Tersembunyi

Prabowo Mulai Panik!

April 29, 2026

Antara Pembatasan Gawai dan Pendidikan Digital

April 29, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...