Saya iseng tanya ke AI, mengapa rakyat menghina kepada Pemimpinnya. Jawabnya normatif sekali; Kinerja yg buruk, kebijakan yang salah, tidak transparan dan korupsi, dst. Tetapi pertemuan kita kali ini, mencari tahu mengapa Jokowi “mata hati-telinganya” buta tuli. Khawatir bila ia sudah sampai pada apa yang tersurat dalam al-quran “ صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌۭ فَهُمْ لَا يَرْجِعُونَ” (Shumun Bukmun Unyun Fahum La Yarji’un). Ayat tersebut dapat diartikan sebagai “tuli, bisu, dan buta sehingga mereka tidak dapat memahami.” ” Mereka (sebagian besar manusia) itu tuli, bisu, dan buta; maka mereka tidak dapat kembali (kepada jalan yang benar).”
Kader-kader PDIP – teman-teman, sahabat dan kurawa-kurawa pembela Jokowi dahulu, kini mereka balik menyerangnya; Tidak punya nuranilah, penghianatlah, tidak berbudilah, dst. Ungkapan kekecewaan mereka itu, melebihi dari apa yang mereka bela dahulu atas julukan nitizen keada Jokowi sebagai si Pendusta, si Plunga-Plongolah, si Dungu-lah hingga si Tolol dan Bajingan, dll.
Sesungguhnya, bagi seseorang yang memiliki etika dalam hidupnya, name calling seperti itu adalah aib yang paling bawah tempatnya, lebih rendah dari martabat syetan dan iblis, tetapi Jokowi sepertinya tak terusik dengan hal semua itu.
Dari hasil komptemplasi yang paling dalam, memahami orang yang tidak peduli lagi, sensitive, terhadap lingkungan sosialnya, adalah dia yang sedang menyelematkan dirinya atas ancaman kematian dirinya.
Hal ini persis seperti adegan 367 penumpang JAL no penerbangan 516, yang diminta untuk melupakan semua properti bawaannya, apapun itu isinya, untuk selanjutnya menunggu komando Pramugari, bisa keluar aman dari jeratan api yang sedang melalap pesawat itu. Adegan chaos dalam pesawat ini, yang kemudian disebut sebagai “pelarian ajaib”
Jokowi kira-kira seperti itu situasinya. Ia sedang mencari “Escape Slide” atau “Evacuation Slide melalui pintu darurat, yaitu bagaimana sang Gibran dapat berhasil sukses menjadi Wapres.
Pintu darurat sudah didobrak, terbuka, melalui tangan judicial review adik ipar Anwar Usman. Gibran lolos meluncur ke pencawapresan. Kini ia sedang berjalan menuju zona aman – yaitu berhasil menjadi Wakil Presiden, yang kemudian akan menjadi baterei kekuatan baru, supaya bisa melindungi Jokowi kelak sesudah lengser.
Jadi uraian yang paling menarik kita kupas selanjutnya adalah “What will Jokowi look like after his lengser?”.
Pertanyaan kita kemudian adalah, apakah Gibran akan berhasil menjadi Wapres? Ini awal memahami nasib Jokowi kemudian. Hasil survey melaporkan rata-rata menempatkan Paslon 02, unggul dari kedua Paslon yang lain. Tetapi dalam dinamika perkembangannya, disadari monitoring survey angka yang pernah diklaim sampai 51% itu, terus tergerus hingga hampir ke titik angka 40%.
Kebenaran itu terlihat dari sikap Prabowo, yang semakin mirip seorang yang sedang frurstrasi. Apalagi siasah 2 Paslon lawan sudah bersepakat bersetubuh dibawah jargon “asal bukan Prabowo”. Ini bom ancaman bagi Prabowo~Gibran.
Sementara Jokowi sadar atau tidak, setiap langkah terbaca telanjang, terus all out turun ke daerah-daerah dengan menggelontorkan amunisi Bansos, yang dibeli stempel oleh Zulhas sebagai bantuan dari Jokowi. Ia juga ikut serta ingin mengatur format debat Capres – mungkin khawatir Prabowo~Gibran, kembali di permalukan oleh kedua Paslon lawan.
Pada momentum lain, Ia mengajak makan bareng privat dengan Ketum partai Koalisi Indonesia Maju, adalah show off, dirinya cawe-cawe untuk pasangan sang Gibran.
Jadi apa semua yang sedang dilakukan oleh Jokowi saat ini, sehingga Ia tutup mata dan mata hatinya dari semua penjuru angin beliung opini masyarakat? Jawabnya adalah seperti yang disampaikan oleh Ketua Umum Projo Budi Arie Setiadi, yang tidak mau menjelaskan soal pernyataannya dalam sebuah seminar yang berbunyi “bakal masuk penjara semua kalau 2024 kalah”.
Berita Update Lainnya Ikuti Kami Di Google News


























