Oleh : Karyudi Sutajah Putra
Jakarta – Di tanah retak bekas dentuman perang
Seorang anak berdiri tanpa ayah
Menyulam sunyi dengan air mata
Mendengar ejekan jadi nyanyian luka
Dendam sempat mengetuk pintu hatinya
Menawarkan bara untuk membakar dunia
Namun, ia memilih jalan lain
Jalan yang sepi
Jalan yang terang
Ia balas cemooh dengan senyum
Ia jawab benci dengan tangan terbuka
Ia jadikan luka sebagai guru dan kebaikan sebagai senjata
Dari abu perang ia bangun harapan
Dari ingatan pahit ia ciptakan cahaya
Seorang anak korban sejarah menjadi saksi:
Cinta lebih abadi daripada dendam
Ya, Willy Abdullah Fujiwara (80) mengalami apa yang oleh Sigmund Freud (1856-1939), filsuf asal Austria pencetus aliran psikoanalisis, disebut sebagai “split of personality” atau dalam bahasa bebas disebut “keterbelahan kepribadian”. Maklum, di dalam nadinya mengalir dua darah sekaligus: Jepang dan Indonesia.
Darah Jepang berasal dari ayahnya, Asajiro Fujiwara (lahir 1902), dan darah Indonesia berasal dari ibunya, Ny Hj Dasima Mokodongan (lahir 1927).
Lahir di Kotamobagu, Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara, 25 November 1945, yang juga tanah kelahiran ibunya, ayah Willy adalah seorang tentara Nippon di zaman pendudukan Jepang di Indonesia (1942-1945).
Sebab itu, Willy sering terkena “bully” (perundungan) secara psikologis dari teman-temannya yang 100 persen berdarah Indonesia; hal yang menggoreskan “luka” cukup dalam di benaknya. Apalagi Jepang adalah negara penjajah Indonesia. Willy sering diolok-olok teman-temannya.
Alkisah, setelah Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945, atau setelah Jepang kalah melawan Sekutu dalam Perang Dunia II, Asajiro Fujiwara pun harus meninggalkan Indonesia. Namun, sang istri yang ia nikahi beberapa bulan sebelumnya tak bisa turut serta. Pasalnya, Ny Dasima saat itu sedang mengandung anak pertamanya yang kelak diberi nama Willy Abdullah, dan saat itu usia kandungannya sudah relatif tua, yakni 6 bulan. Akhirnya, sang istri pun ditinggalkan di Kotamobagu sampai kemudian Willy lahir.
Sejak kecil hingga dewasa atau 25-an tahun, Willy tak pernah melihat sosok sang ayah, atau dalam bahasa Jepang disebut “otosan”. Inilah yang membuat Willy kian terluka dan jiwanya pun makin terbelah.
Sebenarnya sudah sejak kecil Willy ingin melihat sosok bapaknya. Sejak kecil pulalah ia seperti menjadi anak “yatim”. Tapi apalah daya, ia tak punya dokumen apa pun tentang bapaknya. “Pasalnya, di rumah yang terbuat dari papan yang beratapkan daun rumbia, yang setelah kami mengungsi ke pegunungan lalu dijadikan ‘markas’ oleh tentara PRRI/Permesta, dan saat tentara Siliwangi dari Jawa Barat datang untuk menumpas PRRI/Permesta tahun 1958, saat itulah meninggalkan ‘markas’ tersebut dibumihanguskan. Maka musnahlah semua arsip keluarga kami yang sempat disimpan di sana,” kata Willy Abdullah Fujiwara kepada Fusilatnews.com di rumahnya yang asri di Discovery Resifence Klaster Fiore Blok H No 03 Pondok Aren, Bintaro, Tangerang Selatan, Banten, kemarin.
Setelah menamatkan sekolah dari SD hingga SMA di Kotamobagu, tanah kelahirannya, yang dengan susah-payah hanya ditopang oleh ibunya, Willy kemudian memutuskan “hijrah” ke ibu kota Jakarta usai huru-hara politik tahun 1965. Selain untuk kuliah di Akademi Pimpinan Perusahaan (APP), Willy juga membawa misi utama: mencari sang ayah. Sebab hanya di Jakarta-lah terdapat kedutaan besar Jepang.
Willy pun melakoni kerja apa saja demi bisa “survive” dan menopang hidup sendiri di ibu kota yang sering kali lebih kejam daripada ibu tiri. Ia rela menjadi pembantu rumah tangga, jualan es mambo, kuli panggul di Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, dan di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, dan sebagainya. Semua itu ia lakoni demi bisa bertahan hidup di Jakarta.
Saat kuliah itulah Willy aktif di Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) dan Kesatuan Aksi Pemuda dan Pelajar Indonesia (KAPPI). Pun menjadi Resimen Mahasiswa (Menwa) sehingga pergi ke mana-mana tak perlu membayar ongkos angkutan umum.
Willy juga aktif di Persatuan Alumni dari Jepang (Persada), dan Yayasan Warga Persahabatan Indonesia-Jepang yang didirikan eks-tentara Jepang yang tinggal di Indonesia dan kemudian menjadi Warga Negara Indonesia (WNI).
Dari jalur Persada itulah, tahun 1990 Willy mengikuti pertukaran pelajar Indonesia-Jepang dan menjadi ketua rombongan, sehingga berkesempatan diterima Putra Mahkota Akihito di Istana Kaisar Jepang, di mana kelak Akihito menjadi Kaisar Jepang. Usai bertemu Akihoto, Willy dan rombongan berkesempatan bertemu Ayako Kobayashi, pemeran utama film Oshin.
Dari aktif di Persada dan Yayasan Warga Persahabatan Indonesia-Jepamg itu pula kelak Willy punya jaringan yang luas, sehingga kenal dengan pejabat-pejabat tinggi Indonesia dan juga Jepang.
Pejabat-pejabat Indonesia yang ia kenal bahkan adalah orang nomor satu di Republik ini, yakni Soeharto saat menjabat Presiden RI, serta Adam Malik dan Try Sutrisno saat keduanya menjabat Wakil Presiden RI, dan juga menteri-menteri seperti Akbar Tandjung, Agung Laksono, Ginandjar Kartasasmita, Hayono Isman, dan lain-lain serta gubernur-gunernur seperti Fadel Muhammad yang kemudian menjadi Gubernur Gorontalo, Wiyogo Atmodarminto dan Surjadi Sudirdja (Gubernur DKI Jakarta), serta pengusaha-pengusaha sukses di Indonesia seperti Rachmat Gobel dan sebagainya.
Bahkan dengan Jenderal Besar AH Nasution serta tokoh intelijen Yoga Sugama, aktris Christine Hakim dan Camelia Malik, eks-Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin, dan dai sejuta umat KH Zainuddin MZ yang kini sudah almarhum.
Willy juga kemudian akrab dengan Sidharta dan Hasan Rahardja dari Persada.
Adapun pejabat-pejabat Jepang di Indonesia yang ia kenal adalah duta besar Jepang untuk Indonesia. Bahkan setiap ada perkenalan duta besar baru Jepang di Indonesia, Willy selalu diundang sebagai tamu verry-verry important person (VVIP). Pun kenal baik dengan Menteri Luar Negeri Jepang saat itu Mr Kono, dan juga dengan Ketua Parlemen Jepang.
Itu semua terjadi setelah Willy kembali dari Jepang ke Indonesia, setelah di Tokyo ia bertemu dengan sang ayah, Asahiro Fujiwara tahun 1971.
Kembali ke cerita awal, atau sebelum Willy bertemu sang ayah, karena tidak memiliki dokumen apa pun tentang ayahnya, Willy pun tak kunjung mendapatkan titik terang tentang keberdaaan orang yang dirindukannya sejak kelahirannya itu.
Sampai kemudian ada pendeta asal Jepang yang sedang menjadi misionaris di Ambon, Maluku, yakni Ryoichi Katoh, yang mensponsori pengumpulan anak-anak keturunan Jepang yang tersebar di negara-negara yang pernah diduduki tentara Jepang, termasuk Indonesia. Lalu mereka akan dibawa ke Jepang. Pendeta Katoh kemudian bekerja sama dengan Pendeta Marantika dari Ambon.
Informasi itu ia baca di koran Kompas, sehingga hal itu menjadi kesempatan emas bagi Willy untuk melanjutkan pencarian terhadap keberadaan ayahnya. Ia pun ikut berkumpul di Jakarta bersama orang-orang keturunan Jepang lainnya yang tinggal di Medan, Sumatera Utara, Manado, Sulawesi Utara, Surabaya, Jawa Timur, dan sebagainya. Mereka berkumpul di rumah Pendeta Marantika di Jakarta.
Willy pun menjadi salah satu orang keturunan Jepang di Indonesia yang diberangkatkan ke negara matahari terbit itu. Total ada 40 orang. Namun atas berkat rahmat Allah SWT, keberuntungan berpihak pada Willy. Dari 40 orang itu, hanya Willy yang saat itu dapat rekomendasi dari pemerintah Jepang untuk berangkat ke negeri leluhurnya.
Willy kemudian mempersiapkan segala sesuatunya. Termasuk paspor dan visa. Juga pakaian dan surat-surat yang diperlukan. Sementara tiket pesawat sudah dipersiapkan oleh pemerintah Jepang.
Untuk menyiasati kondisi keuangannya yang sangat tipis, Willy pun disarankan naik kapal laut, sehingga biaya tiket pesawat setengahnya bisa digunakan untuk mengurus ini-itu dan sebagai pegangan untuk bekal hidup di Jepang nanti. Maka pergilah Willy ke Jepang dengan menumpang kapal laut.
Singkat cerita, setelah berhari-hari berada di kapal, dan kapalnya sempat kucing-kucingan waktu mau meninggalkan Indonesia karena saat itu ada perang Viatnam melawan tentara Amerika Serikat, tibalah kapal yang ditumpangi Willy di Pelabuhan Kobe, Jepang. Kemudian lanjut ke Osaka.
Di Osaka ini ada kisah menarik. Karena tiket Willy hanya sampai Osaka, maka ia tak boleh lanjut ke Tokyo. Karena hari itu hari Minggu yang berarti hari libur, Willy pun tak bisa menghubungi pihak sponsor, yakni Pendeta Ryoichi Katoh yang saat itu sedang memimpin ibadah di gereja.
Di Osaka, Willy sempat ditahan atau dikerangkeng pihak Imigrasi setempat. Namun karena ada jaminan dari kapten kapal bahwa jika di Yokohama tidak ada yang menjemput Willy maka akan dibawa kembali ke Indonesia, Willy pun akhirnya dibebaskan.
Willy pun melanjutkan perjalanan ke Yokohama, Tokyo. Willy kemudian menghubungi pihak sponsor, dan pihak sponsor langsung mengirim petugas untuk menjemput Willy dan membawanya ke asrama.
Setelah tinggal di Tokyo, Willy sempat belajar bahasa Jepang beberapa bulan. Willy kemudian memohon kepada sponsor Pendeta Ryoichi Katoh untuk melanjutkan misi utama dia ke Jepang, yakni melakukan pencarian terhadap sang ayah, “otosan”, belahan jiwanya. (Bersambung)

Oleh : Karyudi Sutajah Putra





















