Tulisan Karyudi di FusilatNews menyebut Prabowo sebagai ‘gemoy bin lucu’, dan jujur saja, saya tak bisa lebih setuju lagi. Namun, kelucuan ini bukan sekadar soal ekspresi wajah atau gaya bicara, melainkan juga pada sikap politiknya yang semakin hari semakin absurd. Jika ingin tidur sekasur dengan Jokowi, silakan saja. Itu urusan pribadi. Siapa pula yang berani melarang presiden berkehendak? Tetapi jika dalam urusan pemerintahan masih juga tunduk dan terikat pada kebijakan Jokowi di masa lalu, di sinilah rakyat ingin melihat Anda menceraikannya—talak tiga!
Analoginya begini, jika Jokowi itu adalah istrimu, maka saya sebagai saksi melihat bahwa ia telah menjadi pelacur politik, pengkhianat konstitusi, dan selingkuh terhadap hukum. Ia pintar bersolek dengan citra memelas, seolah-olah korban keadaan. Padahal, rekam jejak kejahatannya telanjang di hadapan publik, dengan berbagai kasus yang belakangan ini viral. Dari kasus dugaan korupsi hingga penyalahgunaan kekuasaan, semuanya terang benderang bagi siapa saja yang mau membuka mata.
Lalu, yang membuat saya semakin geram, Wo, adalah bagaimana APBN terus dikikis tanpa ampun. Ada dua penyebab utama. Pertama, warisan kebijakan ekonomi Jokowi yang bobrok, yang ternyata tak juga kamu tinggalkan. Kedua, desain kabinet raksasa 100 menteri yang konon kamu susun. Memangnya mau jadi kerajaan? Negara ini bukan tempat berbagi jatah kekuasaan semata!
Lebih dari itu, rakyat menunggu kepemimpinan yang mandiri, bukan sekadar meneruskan kebijakan yang telah terbukti gagal. Bagaimana mungkin kita bisa maju jika masih terjerat dalam skema politik oligarki yang selama ini melanggengkan kekuasaan tanpa kontrol? Rakyat tidak membutuhkan pemimpin yang sekadar “gemoy” dan menyenangkan, tetapi pemimpin yang bisa membawa perubahan nyata.
Jika benar kamu ingin memperbaiki bangsa ini, langkah pertama yang harus kamu lakukan adalah melepaskan diri dari bayang-bayang Jokowi. Bukan sekadar berpisah secara fisik, tetapi benar-benar menanggalkan kebijakan ngawurnya. Jika tidak, selamanya kamu akan jadi bayangan yang kehilangan bentuk—gemoy, tapi tak berarti.
Maka, Wo, jangan biarkan dirimu sekadar menjadi boneka politik yang hanya mengiyakan semua warisan buruk pemerintahan sebelumnya. Tegaslah dalam menentukan arah bangsa ini! Jangan hanya berdiam diri dalam kelucuan yang sementara, karena rakyat menunggu tindakan, bukan sekadar senyuman gemoy.






















