Jakarta, Fusilatnews.com – World Bank atau Bank Dunia memprediksi tahun 2023 banyak negara di dunia dilanda resesi ekonomi. Namun Menteri Keuangan RI Sri Mulyani Indrawati yakin Republik Indonesia (RI) tetap akan aman dan terhindar dari resesi. Dunia gelap, RI tetap terang.
Bank Dunia mengungkapkan risiko resesi global pada 2023 semakin meningkat. Pasalnya bank sentral di seluruh dunia secara bersamaan menaikkan suku bunga untuk memerangi inflasi.
Laju tiga ekonomi terbesar di dunia yakni Amerika Serikat (AS), China dan kawasan Uni Eropa (UE) telah melambat. “Bahkan pukulan moderat terhadap ekonomi global selama tahun depan dapat mendorongnya ke dalam resesi,” kata Bank Dunia dalam studi terbarunya dikutip dari Reuters, Jumat (16/9), seperti dilansir CNBC Indonesia.
Menanggapi hal itu, Direktur CELIOS Bhima Yudhistira Adhinegara mengungkapkan hal tersebut bukan sekadar proyeksi karena ekonomi beberapa negara besar sudah mengalami perlambatan.
“Ini bukan sekadar ramalan, tapi sudah terjadi pada Amerika Serikat (AS) yang negatif. Ini mencerminkan ada resesi di negara maju,” kata Bhima, Jumat (16/9).
Menteri Keuangan RI Sri Mulyani Indrawati pun mengakui akan terjadinya resesi ekonomi dunia tahun 2023.
Menurut Ani, sapaan akrabnya, kenaikan suku bunga acuan bank sentral di sejumlah negara membuat resesi ekonomi makin nyata dan diprediksi terjadi pada 2023. Ia mencatat suku bunga acuan bank sentral Inggris sudah naik 200 basis poin selama 2022. Begitu pula dengan Amerika Serikat (AS) yang sudah naik 300 basis poin sejak awal tahun ini.
Langkah tersebut dilakukan sejumlah negara demi meredam lonjakan inflasi. Namun, Ani memastikan kebijakan itu akan menghambat laju pertumbuhan ekonomi sehingga ancaman resesi makin sulit dihindari. “Kenaikan suku bunga cukup ekstrem bersama-sama, maka dunia pasti resesi pada 2023,” tutur Ani dalam konferensi pers, Senin (26/9), dikutip dari CNNIndonesia.com.
Indonesia Aman
Meski begitu, Sri Mulyani menjelaskan perekonomian Indonesia masih cukup sehat dan aman dari ancaman resesi. Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,01 persen pada kuartal I 2022 dan inflasi yang masih terkendali di level 4,35 persen pada Juni lalu menjadi dasarnya.
“Kita (Indonesia) relatif dalam situasi yang tadi disebutkan risiko (potensi resesi) 3 persen,” tutur Sri Mulyani dalam konferensi pers di Nusa Dua, Bali, Rabu (13/7), mengamini survei yang dilakukan Bloomberg soal potensi resesi negara-negara dunia.
Di lain kesempatan, Ani mengatakan utang luar negeri pemerintah RI juga menurun. Begitu pula dengan utang korporasi yang semakin rendah. Menurut data Bank Indonesia (BI), utang luar negeri RI sebesar US$415 miliar pada akhir Mei 2022. Angka tersebut turun 4,9 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Sri Mulyani juga percaya diri dengan sinergi kebijakan fiskal, moneter, hingga riil yang diklaim membuat perekonomian Indonesia tetap kuat di tengah berbagai tekanan global. APBN menjadi “shock absorber” atau bantalan saat terjadi guncangan atau krisis, mulai dari energi, pangan, hingga keuangan. Namun, APBN tidak bisa terus menjadi penopang, terutama saat perekonomian mulai pulih.
Membayar pajak menjadi salah satu cara agar APBN bisa tetap sehat. Dengan begitu, APBN bisa terus membantu masyarakat ketika krisis lanjutan muncul di masa mendatang. “Menjaga pajak untuk menjaga Indonesia, menjaga agar keuangan negara jadi instrumen jangka panjang mendukung pembangunan dan pemulihan ekonomi lebih lanjut,” tegas Ani dalam Kuliah Umum UI 2022, Senin (8/8) lalu.
Sri Mulyani menegaskan, ekonomi Indonesia pada kuartal III-2022 diperkirakan bisa mencapai 5,6-6%. Capaian ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan posisi dua kuartal sebelumnya. “Kuartal III kita 5,6 – 6%,” ungkap Menteri Sri Mulyani di Gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta, Selasa (27/9).
Pendorong ekonomi Indonesia mampu melesat salah satunya adalah ekspor, kata dia. Nilai ekspor Indonesia pada periode itu berhasil tumbuh 30,15% secara year on year (yoy) mencapai US$ 27,91 miliar. Neraca perdagangan pada Agustus surplus US$ 5,76 miliar.
Selain itu, kata Sri, konsumsi rumah tangga dan investasi juga masih tumbuh baik. “Jadi kalau kita lihat source of growth, sumber pertumbuhan ekonomi dari ekspor, dari konsumsi dan dari investasi kita masih melihat adanya momentum itu masih cukup kuat, apalagi tahun lalu basisnya rendah, karena kena delta varian dan kita turun,” terangnya.
Sementara untuk keseluruhan tahun, Sri Mulyani belum mengubah proyeksinya, meskipun banyak lembaga internasional, seperti IMF, Bank Dunia dan ADB meramal ekonomi Indonesia tumbuh tinggi, antara 5,1-5,4%.
“Kita berharap di kuartal IV Oktober-November-Desember itu tidak terganggu terlalu banyak akibat gejolak yang sekarang ini terjadi,” kata Sri Mulyani.
Bank Dunia juga memprediksi ekonomi Indonesia mampu tumbuh 5,1 persen pada 2022 dan naik menjadi 5,3 persen pada 2023 mendatang. Ini didasarkan pada beberapa faktor pendukung, seperti kepercayaan konsumen yang meningkat, nilai tukar perdagangan (terms of trade) yang lebih baik, dan lonjakan permintaan yang tertahan (pent-up demand).
Menurut Bank Dunia, pemulihan ekonomi Indonesia masih berlanjut meski di tengah situasi global yang semakin menantang, baik karena tekanan inflasi dunia, pengetatan kebijakan moneter eksternal, dan pemburukan kondisi perekonomian global.
Setelah mampu tumbuh 3,7 persen di tahun 2021, momentum pemulihan ekonomi Indonesia terus berlanjut hingga triwulan I-2022. Pertumbuhan ekonomi tercatat cukup tinggi di tingkat 5,0 persen, meski sempat mengalami gelombang Omicron,” tulis Bank Dunia dalam laporan terbarunya Financial Deepening for Stronger Growth and Sustainable Recovery, dikutip baru-baru ini. (F-2)


























