Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri Brigadir Jenderal Mukti Juharsa menyatakan Fredy beroperasi sejak 2009. dengan dilengkapi jaringan narkoba yang rapi, terstruktur dan terorganisir.
Jakarta – Fusilatnews – Perburuan terhadap gembong narkoba Fredy Pratama yang dijuluki Escobar Indonesia masih terus dilakukan tiada henti
Direktorat Tindak Pidana Narkoba (Dittipidnarkoba) Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Kepolisian Republik Indonesia (Polri) berhasil menemukan sejumlah fakta baru terkait l sepak terjang Frerdy.
4 Temuan baru trkait siapa Fredy Pratama.
Bareskrim Buru Pasutri Pengelola Keuangan Gembong Narkoba Fredy Pratama
Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri Brigadir Jenderal Mukti Juharsa menyatakan Fredy beroperasi sejak 2009. dengan dilengkapi jaringan narkoba yang rapi, terstruktur dan terorganisir.
Bareskrim, berhasil menangkap 884 anggota jaringan Fredy sejak 2020 hingga saat ini. Sejak Mei lalu, Bareskrim telah membuat operasi khusus dengan nama Escobar Indonesia.
Dalam periode Mei hingga saat ini, bareskrim telah menangkap 39 kaki tangan Fredy. Sejak 2020-2023, Polti berhasil menyita 10,2 ton sabu milik jaringan ini.
Mukti menyatakan bahwa barang bukti itu menjadikan Fredy Pratama sebagai salah satu gembong narkoba terbesar di Indonesia.
Bareskrim pun telah menetapkan Fredy sebagai buronan sejak 2014.
Mukti menyatakan pihaknya menduga Fredy mengendalikan operasi jaringannya dari luar negeri. Di Indonesia, menurut dia, Fredy memiliki dua orang kepercayaan.
Kedua orang kepercayaan itu diberi jatah untuk mengendalikan jaringan narkoba di dua wilayah berbeda, yaitu Barat dan Timur.
“Kalimantan-Sulawesi Mr. W dengan keuangan sendiri dan narkoba sendiri. Di bagian barat itu Sumatra-Jawa itu adalah Mr. K,” kata Mukti saat dihubungi, Kamis, (14/9)
Mereka memiliki tugas yang beragam, mulai dari mendistribusikan narkoba, mengumpulkan uang hasil penjualan narkoba, hingga membuat berbagai dokumen palsu.
Mukti menyatakan jaringan ini mendapatkan narkoba dari luar negeri dan memasukkannya ke Indonesia dalam kemasan teh.
Dalam satu bulan,i, jaringan ini bisa memasukkan 100-500 kilogram narkoba jenis sabu dan ekstasi ke Indonesia.
Menurut Mukti selain menjual narkoba, jaringan Fredy Pratama juga melakukan tindak pidana pencucian uang (TPPU). Bareskrim Polti telah menyita uang tunai sebesar Rp 65 miliar.
Selain itu, Bareskrim juga telah memblokir 406 rekening milik jaringan ini. Total dana yang tersimpan dalam rekening itu mencapai Rp 28,7 miliar. Bareskrim juga telah menyita 13 unit kendaraan dan 4 bangunan milik jaringan ini.
Saat ini, Bareskrim tengah memburu pasangan suami istri bernama Frans Antony (FA) dan Petra Niasi (PN) yang disebut sebagai pengelola keuangan jaringan ini.
4. Jejak di Taiwan hingga Thailand
Menurut Mukti, awalnya Fredy Pratama mengendalikan operasi jaringannya dari Taiwan. Tetapi Direktur Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri Komisaris Besar Jayadi menyatakan mereka menduga Fredy saat ini berada di Thailand.
Untuk menelusuri keberadaan Fredy dan anak buahnya yang tersisa, Polri telah bekerja sama dengan Kepolisian Thailand dan Kepolisian Malaysia. Selain itu, Polri juga bekerja sama dengan Interpol.
“Prioritas pertama Thailand, berikutnya negara-negara tetangga. Dugaan sementara di sekitar Thailand. Tetapi juga kita tidak fokus wilayah itu, negara lain juga akan terus komunikasi,” kata Jayadi saat dihubungi pada Kamis, 14 September 2023.
Mukti pun menyatakan mereka menduga Fredy telah melakukan operasi plastik untuk menghindar dari buruan aparat kepolisian. Dia juga menduga Fredy memiliki banyak dokumen identitas palsu. Fredy juga diketahui memiliki nama samaran Miming, The Secret, Cassanova, Air Bag, dan Mojopahit.
“Ya ada kemungkinan dia mengubah wajahnya. Ya mau operasi plastik, kami tidak tahu, dia mengubah identitasnya,” kata Mukti.
Fredy Pratama mendapatkan julukan Escobar Indonesia tak lain karena sepak terjangnya sebagai bandar narkoba besar dan juga jaringannya yang rapi.























