Beberapa hari sebelum dijemput paksa Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan, Alvin Lim sempat bertemu dengan Imam Besar Front Persaudaraan Islam (FPI), Habib Rizieq Shihab. Dalam video yang diunggah channel YouTube Langkah Anies dengan judul “Setelah Anies Baswedan Kini Alvin Lim & Lieus Menemui Habib Rizieq. Ada Apa”
Dalam video tersebut Alvin Lim mengunjungi Rizieq Shihab bersama Lieus Sungkharisma. Keduanya memberikan piagam penghargaan kepada Rizeq karena menganggapnya telah berjuang menggalang persatuan umat demi keutuhan Republik Indonesia. Penghargaan ini ditandatangani oleh Natalius Pigai, Refly Harun, Rizal Ramli, Rocky Gerung, dan La Nyalla Mattalitti.
Menarik untuk direnungkan. Apa yang menjadi poin substansial, sehingga melahirkan penghargaan sebagai tokoh pemersatu itu? Padahal ini antithesis dengan sikap regime selama ini, yang terang-terangan, sosok HRS adalah pemecah belah bangsa. Penghargaan kelima tokoh itu, adalah pernyataan diametral dengan sikap regime Jokowi.
Penghargaan dari kelima tokoh nasional itu, yang selama ini kritis tajam mengkritisi berbagai kebijakan pemerintah, adalah investasi emosional, dengan HRS dan seluruh umatnya yang ada diseluruh Nusantara ini. Membangun solidaritas keumatan, untuk bersama-sama, turut serta menyelamatkan negara dan bangsa ini, dari kehancuran.
Kelima tokoh nasional itu, sebagai monument perlawanan konsep dan common sense, sementara figure HRS adalah etos moral religiusitas yang menjadi DNA nya bangsa ini.
Issue-issue korupsi yang terus mengemuka. Penegakan hukum yang tumpul keatas. Kinerja ekonomi yang terus memburuk, dengan ditandainya utang yang semakin membengkak. Kurs rupiah juga semakin terpuruk. Jauh dari keinginan Jokowi sendiri. Jumlah orang miskin terus membengkak. Last but not least stigma Jokowi sebagai pendusta, mengemuka berkaitan dengan penuntutan secara hukum oleh Bambang Tri Mulyono, yang menduga Ijazah SMA Jokowi itu paslu.
System politik yang chaos ini, telah melahirkan polarisai didalam masyarakat, yang dikeluhkan oleh Menkopolhukam sendiri. Dikatakan, lahir dari persoalan yang sangat mendasar, yaitu ideologis. Layak diduga, ini sinyalemen clash antara faham keagamaan dan komunisme.
Bahkan beliau sampai pada kesimpulan, Indonesia ini butuh “strong leader”, yang bisa meng-utuh-kan kembali persatuan dan kesatuan bangsa. Ini kritik yang teramat tajam sekali, karena datang dari lingkaran kekuasaan. Ungkapan yang tahu persis, apa yang terjadi didalam linkar kekuasaan, yang ia sendiri tak berdaya bisa mengatasinya.
Tidak perlu menyangiskan siapa Natalius Pigai. Ia dikenal sebagai sosok yang kritis, fair dan ahli dalam HAM. Refly Harun, setiap menit membahas persoalan-persoalan bangsa dengan tokoh-tokoh ahli. Rizal Ramli, tokoh pergerakan, dan begawan ekonomi. Rocky Gerung, pikiran-pikiranya cerdas dan cemat dalam menyikapi berbagai hal. Dan La Nyalla Mattalitti, tokoh representasi suara hati nurani rakyat dari daerah-daerah.


























