Fusilatnews – Abu Bakar Baasyir datang dengan pesan yang sederhana tapi sarat bobot politik: Jokowi harus mengabdi kepada Islam dan kembali menegakkan hukum Islam di Indonesia. Nasihat itu disampaikan langsung di kediaman pribadi Jokowi di Solo, Senin (29/9/2025), dalam sebuah pertemuan yang hanya berlangsung dua puluh menit.
Kedatangan Baasyir mendadak, tapi gestur Jokowi berbicara banyak. Dengan batik rapi dan peci hitam, ia menyambut sang ulama di depan rumah. Jokowi bahkan mencium tangan Baasyir—sebuah penghormatan yang langka bagi mantan presiden yang lebih sering dipotret sebagai figur modern, teknokratis, dan jauh dari simbol-simbol keagamaan yang kental.
Namun, pesan Baasyir memukul langsung ke jantung warisan Jokowi. Selama satu dekade berkuasa, Jokowi identik dengan infrastruktur, Ibu Kota Nusantara, dan narasi pembangunan sekuler yang dibiayai utang. Ia dipuji atas kerja konkret, tapi juga dikritik karena abai pada pendidikan, hukum, dan penegakan moralitas publik. Di hadapan figur seperti Baasyir, capaian itu seperti tak berarti: seorang pemimpin Muslim, kata Baasyir, wajib mengabdi kepada Islam, bukan sekadar meninggalkan jejak fisik berupa jalan tol dan gedung megah.
“Rakyat, pemimpin, bahkan orang kafir harus dinasihati,” ujar Baasyir, menegaskan bahwa menasihati Jokowi adalah kewajiban. Ia bahkan menyebut Jokowi sebagai sosok kuat yang seharusnya tampil membela Islam dengan kekuatan yang sama.
Pertemuan itu mempertemukan dua wajah Indonesia yang kerap bertabrakan: satu, negara yang mendorong modernisasi dengan logika ekonomi dan proyek pembangunan; dua, masyarakat yang terus bergulat dengan identitas keislaman dan tuntutan penerapan syariat. Jokowi berdiri di tengahnya, kali ini bukan sebagai presiden, melainkan warga Solo yang mendengar petuah seorang ulama.
Momen ini meninggalkan pertanyaan besar. Apakah nasihat Baasyir hanya sebatas pesan pribadi yang akan menguap bersama waktu? Atau justru menjadi pengingat keras bahwa di balik gegap gempita infrastruktur dan IKN, ada suara lantang yang terus menuntut agar Indonesia kembali ke akar ideologisnya sebagai negeri Muslim terbesar?





















