Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik pada Konsultan dan Survei Indonesia (KSI)
Jakarta – Ada keserupaan yang sama antara Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Gibran Rakabuming Raka. Keduanya sama-sama masih muda. AHY 47 tahun, Gibran 37 tahun. Beda 10 tahun.
Keduanya juga sama-sama anak sulung bekas presiden dua periode. AHY anak Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Presiden ke-6 RI; Gibran anak Joko Widodo, Presiden ke-7 RI.
Namun, keduanya juga berbeda. Gibran seorang Wakil Presiden RI, AHY “hanya” seorang Menteri Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan.
Keduanya juga berbeda. AHY lulusan terbaik Akademi Militer tahun 2000 dan peraih Adhi Makayasa, serta lulusan kampus bergengsi di Amerika Serikat, sementara Gibran hanya lulusan kampus tak jelas di Australia.
Dari sisi politik, keduanya juga berbeda. Gibran maju sebagai calon wakil presiden di Pemilihan Presiden 2024 dan terpilih, sementara AHY pernah maju sebagai calon wakil gubernur dalam Pilkada DKI Jakarta 2017 namun tak terpilih.
AHY jadi Ketua Umum Partai Demokrat sejak 2020 dan kini terpilih kembali untuk jabatan yang sama pada Kongres VI Partai Demokrat di Jakarta, Senin (24/2/2025). Sementara Gibran bukan pengurus partai politik apa pun.
AHY juga punya kapasitas intelektual yang cukup memadai, sementara Gibran sebaliknya dan cenderung, maaf, plonga-plongo seperti bapaknya.
Kini, AHY siap menantang Gibran sebagai cawapres di Pilpres 2029 mendatang. Dengan catatan, Gibran maju lagi sebagai cawapres, bukan sebagai calon presiden.
Tantangan AHY kepada Gibran itu tercermin dari “body language” atau bahasa tubuhnya saat ditanya para peserta Kongres VI Partai Demokrat apakah siap mendampingi Prabowo Subianto sebagai cawapres di Pilpres 2029 atau tidak.
AHY hanya tersenyum menanggapi pertanyaan itu, sambil memberikan jawaban diplomatis bahwa dirinya akan fokus menyukseskan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Senyum AHY pun penuh makna. Di antaranya siap jadi cawapres di Pilpres 2029 mendampingi Prabowo.
Prabowo sendiri sudah menyatakan siap maju lagi di Pilpres 2029. Bahkan ia pun menawari parpol-parpol pendukungnya yang tergabung dalam Koalisi Indonesia Maju (KIM) Plus untuk membentuk koalisi permanen sampai Pemilu 2029 bahkan sampai kapan pun.
Gayung bersambut, parpol-parpol KIM Plus pun menyambut antusias tawaran Prabowo itu. Di antaranya Partai Demokrat, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang mengaku siap untuk mendukung kembali Prabowo di Pilpres 2029.
Selain Demokrat, PKB dan PKS, KIM Plus terdiri atas Partai Golkar, Partai Gerindra, Partai Nasdem, dan Partai Amanat Nasional (PAN).
Dari delapan partai politik (parpol) yang lolos ke Senayan (DPR RI) hasil Pemilu 2024, praktis hanya PDI Perjuangan yang tidak bergabung ke dalam KIM Plus. Namun, partai yang dinahkodai Megawati Soekarnoputri itu tetap mendukung pemerintahan Prabowo meski hanya di DPR RI alias di luar kabinet.
PDIP akan menjadi mitra pemerintah yang kritis, tapi tak mau jadi oposisi, karena dalam sistem pemerintahan presidensial seperti yang dianut Indonesia tak dikenal oposisi. Oposisi hanya ada dalam sistem pemerintahan parlementer.
Pecah Kongsi
Sayangnya, diprediksi Prabowo dan Gibran akan pecah kongsi di Pilpres 2029. Keduanya akan maju sendiri-sendiri sebagai capres.
Jika itu terjadi, maka AHY dan Gibran tak jadi berhadapan “head to head” sebagai sesama cawapres. Level AHY lebih rendah. Kecuali jika Gibran tetap berpasangan dengan Prabowo tetap sebagai cawapres. Ini artinya AHY harus mencari pasangan lain sebagai capresnya. Atau AHY akan maju sebagai capres?
Masih belum kuat. Demokrat bukan PDIP, Partai Golkar atau Gerindra yang merupakan juara 1, 2 dan 3 Pemilu 2024. Demokrat berada di posisi ke tujuh dari delapan parpol, alias hanya satu trap di atas juru kunci PAN.
Gibran pun sama. Bahkan bekas Walikota Surakarta, Jawa Tengah, ini sementara ini belum punya parpol. Kondisinya akan lebih parah daripada AHY.
Akan tetapi, peluang AHY menjadi capres juga terbuka. Sebab, pilpres itu seperti pilkada, lebih menonjolkan sosok personal, bukan parpol. Contohnya di Pilpres 2004. SBY yang partainya kecil, Demokrat, mampu menumbangkan Megawati yang partainya besar, bahkan jawara Pemilu 1999, yakni PDIP.
Politik adalah seni menjajaki kemungkinan-kemungkinan. Tak ada yang tak mungkin di dunia politik.






















