Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)
Jakarta – Pokoknya ada. Pokoknya dibela. Itulah Teddy Indra Wijaya.
Saat Amien Rais mencerca dia, misalnya, banyak pihak yang membela Sekretaris Kabinet itu. Terutama para menteri dan purnawirawan jenderal. Sebut saja Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid. Pun AM Hendropriyono dan Dudung Abdurrahman. Akan tetapi, mengapa Teddy justru diam seribu bahasa?
Ya, cercaan terhadap Teddy datang dari Amien Rais. Mantan Ketua MPR ini menuding Teddy sebagai Gay, lelaki yang bersifat keperempuan-perempuanan, dan secara seksual lebih tertarik dengan sesama lelaki.
Saat ada yang mengancam akan melaporkannya ke polisi, mantan Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) itu justru balik menantang. Saat dalam proses hukum itu nanti, Amien mengaku akan menghadirkan dokter-dokter spesialis untuk memeriksa Teddy guna membuktikan apakah mantan ajudan Presiden Prabowo Subianto itu benar-benar Gay atau tidak.
Hendropriyono, mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) pun langsung membela Teddy. Begitu pun Dudung Abdurrahman, mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) yang kini menjabat Kepala Kantor Staf Presiden (KSP).
Intinya, apa yang dituduhkan Amien Rais bahwa Teddy Wijaya itu Gay tidaklah benar menurut mereka. Keduanya bahkan menyudutkan balik Amien yang mereka nilai menyebar fitnah dan provokasi.
Kalau memang Amien dianggap menyebar fitnah, mengapa Teddy tidak melaporkan Ketua Majelis Syura Partai Ummat ini ke polisi? Mengapa Teddy diam saja?
Itulah yang menjadi tanda tanya besar. Apakah Teddy akan mengapitalisasi tuduhan Amien Rais itu sebagai modal politik?
Apakah dengan tuduhan Amien itu Teddy akan memosisikan diri sebagai korban atau “playing victim” untuk meraup simpati publik?
Kita tidak tahu pasti. Yang jelas, isu ke-Gay-an Teddy telah lama menjadi konsumsi publik. Akan tetapi, untuk membuktikannya tidaklah mudah. Sebab, Teddy adalah pejabat tinggi negara. Siapa pun tahu, pejabat tinggi negara sulit dikalahkan. Apalagi disalahkan.
Apakah karena isu Gay itu merupakan ranah pribadi sehingga tak patut menjadi konsumsi publik? Sebagai individu, Teddy memang sesosok pribadi. Tapi sebagai pejabat negara, ihwal pribadi Teddy menjadi urusan publik pula, karena Teddy digaji dengan uang rakyat.
Mungkin karena itulah Amien Rais nekad. Vivere pericoloso. Menyerempet-nyerempet bahaya. Amien berdalih demi menyelamatkan Prabowo yang merupakan seorang Presiden atau pemimpin bangsa ini.
Memang, untuk melawan hal luar biasa, cara yang ditempuh pun harus luar biasa. Tidak bisa dengan cara biasa. Mungkin demikianlah batin Amien Rais sehingga ia nekad menyerang Teddy. Amien seakan hendak menarik Teddy dari sarangnya.
Ibarat pertandingan tinju, Amien Rais sudah naik ring. Ia menunggu Teddy untuk menyusul naik ring. Beranikah Teddy menjawab tantangan Amien?
Kita tunggu saja tanggal mainnya. Yang jelas, pembuktian Teddy Gay atau tidak itu perlu. Jangan bertele-tele seperti isu ijazah palsu Joko Widodo yang memang sengaja dikapitalisasi untuk kepentingan politik. Sementara rakyat jadi korban kegaduhan. Rakyat juga bertikai sendiri-sendiri.
Saatnya Teddy Wijaya naik ring untuk meladeni tantangan Amien Rais yang sudah menua dan kekuatan politiknya pun kecil pula.
Teddy Wijaya punya kekuatan raksasa seperti Goliath. Sementara kekuatan Amien Rais sangat kecil seperti David

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)



















