Yus Dharman, S.H., M.M., M.Kn
Advokat / Ketua Dewan Pengawas FAPRI (Forum Advokat & Pengacara Republik Indonesia)
Rakyat yang lapar tidak hanya membutuhkan makanan, tetapi juga kesadaran. Namun sejarah berkali-kali menunjukkan, ketika perut kosong menuntut keadilan, yang disodorkan justru janji-janji langit. Agama dijahit sedemikian rupa menjadi selimut bagi dinginnya kemiskinan—menghibur, menenangkan, serta mengajarkan keikhlasan dan kesabaran tanpa batas.
Sementara itu, hukum kerap dijadikan alat pembenar untuk melanggengkan kekuasaan dan membentengi tirani. Demonstrasi dibubarkan demi menjaga kosmetik kekuasaan, sekadar untuk memoles wajah buruk sebuah rezim agar tampak tetap bersih di hadapan publik.
Di sisi lain, mereka yang duduk di singgasana kekuasaan menikmati bumi, laut, dan udara dengan segala kemewahannya, tanpa pernah merasa perlu menengadah kepada Sang Pencipta. Mereka berbicara tentang moral kepada rakyat kecil, tetapi hidup dalam kemewahan yang dibangun dari penderitaan banyak orang.
Tulisan ini bukan untuk mempersoalkan iman sebagai lentera batin manusia. Persoalannya adalah ketika ajaran agama diperalat sebagai instrumen kekuasaan. Ketika surga dijadikan iming-iming untuk meredam kemarahan kaum tertindas, agar mereka tetap diam dan tidak menuntut upah yang layak di dunia.
Penderitaan lalu dianggap sebagai takdir, padahal ia lahir dari sistem yang dirancang secara sadar oleh segelintir manusia rakus dan korup untuk menumpuk kekayaan dari keringat jutaan rakyat. Mereka menyebutnya hukum alam, menyebutnya kehendak Tuhan, menyebutnya stabilitas nasional. Padahal, apakah Tuhan pernah menandatangani kontrak eksploitasi? Apakah Tuhan pernah memerintahkan manusia untuk menindas sesamanya?
Ketika agama berubah menjadi candu yang mematikan keberanian dan nalar kritis manusia, saat itulah agama telah dibelokkan dari hakikat sucinya. Sebab hakikat agama seharusnya membebaskan manusia dari penindasan, bukan justru melanggengkannya.
Manusia merdeka bukanlah manusia yang hanya diajarkan sabar dan pasrah, melainkan manusia yang sadar. Sadar bahwa kemiskinan bukanlah kutukan, melainkan hasil dari sistem yang amburadul; sistem yang diciptakan oleh segelintir elite politik untuk mengendalikan mayoritas masyarakat demi kepentingan mereka sendiri.
Rakyat tidak membutuhkan penghiburan kosong. Rakyat membutuhkan keadilan. Dan keadilan tidak akan turun begitu saja dari langit—ia harus diperjuangkan di bumi.
Yus Dharman, S.H., M.M., M.Kn























