Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik pada Konsultan dan Survei Indonesia (KSI)
JAKARTA– Setelah sempat menyorongkan tiga kandidat, akhirnya secara sepihak Partai Nasdem menetapkan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan sebagai calon presiden 2024. Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo pun kena “prank”. Nah, lho!
Betapa tidak? Tanpa ada proses lanjutan apa pun, tiba-tiba Nasdem menetapkan Anies sebagai capres. Andika sekadar pelengkap penderita. Ganjar pun ambyar!
Pengumuman Anies sebagai capres untuk Pemilihan Presiden 2024 disampaikan langsung Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh di Jakarta, Senin (3/10/2022).
Pertanyannya, Anies akan menjadi madu atau racun, dan akan menjadikan Nasdem panas atau adem? Mari kita coba urai indikatornya.
Anies menjadi madu yang manis dan menyegarkan? Bisa jadi. Sebab, sebagai kandidat capres ia selalu menempati posisi tiga besar dalam setiap survei berbagai lembaga kredibel setelah Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dan Ganjar Pranowo.
Kedua, Anies adalah satu-satunya kandidat capres terkuat dari kalangan “oposisi” pemerintah. Sedangkan kandidat capres terkuat di pihak koalisi pemerintah adalah Prabowo dan Ganjar.
Ketiga, karakter Anies adalah antitesis dari karakter Presiden Jokowi yang spontan dan ceplas-ceplos. Anies kalem dan prosedural.
Karakter tersebut menguntungkan Anies karena publik biasanya mencari sosok yang merupakan antitesis dari presiden sebelumnya. Ini siklus 5 atau 10 tahunan. Jika sebelumnya atau pada 2004 publik mencari sosok yang kalem dan prosedural seperti Susilo Bambang Yudhoyono, maka pada 2014 publik mencari sosok antitesis SBY, dan itu ada pada diri Jokowi.
SBY adalah antitesis dari Abdurrahman Wahid alias Gus Dur yang spontan dan ceplas-ceplos seperti Jokowi. Jadi, Jokowi merupakan penerus Gus Dur, dan Anies jika nanti terpilih adalah penerus SBY.
SBY dipecat Gus Dur dari jabatan Menteri Koordinator Politik, Sosial dan Keamanan. Sedangkan Anies dipecat Jokowi dari jabatan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Keduanya pernah sama-sama dipecat dari kabinet. Apakah kemudian yang dipecat justru menggantikan yang memecat, itu jamak dalam dunia politik.
Ketika Anies menjadi madu, maka Nasdem yang mengusungnya akan adem setelah mereguk manisnya suara rakyat yang memilihnya dan Anies dalam Pemilu/Pilpres 2024. Nasdem akan mendapat “coattail effect” (efek ekor jas) dari Anies.
Atau Anies justru akan menjadi racun yang pahit dan mematikan bagi Nasdem? Bisa jadi. Mengapa?
Pertama, Anies terlanjur dicitrakan sebagai politikus yang memanfaatkan, menikmati atau setidaknya permisif terhadap penggunaan politik identitas dalam kontestasi elektoral. Citra ini lekat dengan Anies sejak Pilkada DKI Jakarta 2017 yang ia menangkan bersama Sandiaga Uno.
Kedua, Anies identik dengan citra birokrat yang tidak disiplin dalam penggunaan anggaran. Betapa banyak dinas di DKI yang ternyata sering melakukan kelebihan bayar, dan hal itu baru diketahui setelah Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) turun tangan. Kalau tidak ada BPK, bisa kecolongan.
Semasa menjabat Mendikbud pun demikian. Anies mengalokasikan anggaran berlebih untuk sertifikasi guru, dan kelebihan itu mencapai Rp23,5 triliun. Tidak main-main. Untung “konangan” (ketahuan) Sri Mulyani, sehingga Menteri Keuangan itu langsung mencoretnya. Selamatlah angaran negara Rp23,5 triliun yang nyaris amblas itu!
Ketiga, Anies sering dikaitkan dengan dugaan korupsi Formula E 2022 yang sedang diselidiki Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Bahkan KPK sudah dua kali memeriksa Anies. Akankah Anies menjadi tersangka? Dalam gelar perkara yang dilakukan KPK, Senin (3/10/2022), sejauh ini belum ada tersangka.
Namun, selama hampir lima tahun Anies memimpin Ibu Kota, tak sedikit kasus korupsi yang melibatkan anak buahnya. Sebut saja kasus korupsi rekayasa pembelian tanah di Munjul, Jakarta Timur.
Keempat, Anies dicitrakan sebagai gubernur ahli tata kata, bukan ahli tata kota. Ia dinilai hanya pandai berwacana, tidak lihai dalam bekerja.
Selama memimpin Jakarta, ia sibuk bermain kata-kata. Misalnya, diksi “gusur” (permukiman) ia ganti dengan “geser”. Diksi “normalisasi” (sungai) ia ganti dengan “naturalisasi”. Padahal substansinya sama saja. Lalu, “rumah sakit” ia ganti dengan “rumah sehat”. Kota Tua ia ubah menjadi Batavia. Banyak pula jalan yang dia ganti namanya. Anies akhirnya dianggap sebagai simbol perubahan, tetapi perubahan kata dan nama.
Dari empat indikator tersebut, Anies bisa menjadi racun yang mematikan atau setidaknya membuat gerah atau panas Nasdem yang mencalonkannya karena suaranya bisa terjun bebas di Pemilu 2024.
Akankah Anies benar-benar menjadi madu yang membuat Nasdem adem, atau justru menjadi racun yang membuat Nasdem panas? Kita tunggu saja tanggal mainnya, 14 Februari 2024. Belanda masih jauh!


























