Oleh: Najmuddin M Rasul – Dosen Komunikasi Politik pada Program Doktor (PDSK), FISIP UNAND.
Hari-hari pelaksanaan Pilpres semakin dekat. Dinamika politik semakin tak terelakan. Hal itu semakin hangat dengan informasi yang sangat banyak di media sosial. Keperkasaan media dalam politik semakin penting. Para elit berusaha menggunakan medsos secara maksimal. Walaupun terkadang ada sebagian informasi yg bersifat miss bahkan cenderung malinformasi.
Bahkan media sosial seringkali Pertarungan antar Bacapres dan parpol pendukung semakin fluktuatif bahkan reaktif dan saling serang di media sosial.
Disini saya melihat siapa yang mampu mengusai medos maka besar kemungkinan berpengarus secara signifikan pada elektabilitas Bacapres.
Kalau selama ini pihak ganjar dan Prabowo sering di medsos mengklaim bahkan cenderung memojokan Anies, maka sekarang Anies mulai serangan balik ke rival politiknya.
Anies merubah pola komunikasi politik dari berdiam diri pada komunikasi langsung. Anies muncul dengan data dan angka statistik yang secara scientific bisadipertanggungjawabkan.
Anies sebagai aktor politik berusaha mengemas pesan-pesan politik dengan rangkaian bahasa yang runtut. Sehingga slogan “Perubahan dan Berkelanjutan” banyak direspon. Ini artinya, pesan komunikasi politik Anies berhasil reaksi publik termasuk kompetitor politik lainnya.
Namun sayangnya, ada sekelompok publik dan Pendukung Ganjar dan Prabowo cenderung menafikan keberhasilan Anies dalam menjabat Gubernur DKI.
Selama ini saya perhatikan Anies menggunak silent operation dan bahkan cenderung tidak merespon.
Bahkan Anies cenderung untuk diam dan minta pendukungnya untuk tidak melakukan serangan balik. Dari awal saya lihat Anies lebih memilih untuk debat terbuka antar Bacapres yang didukung dengan data yang valid.
Dalam minggu ini, Anies merubah pola komunikasi politik.
Anies keluar pakemnya. Anies bak singa yang keluar dari sarangnya.
Anies mulai melakukan serangkaian data pembangunan infrastruktur, bahwa SBY jauh lebih panjang pembangunan infrastruktur daripada jokowi.
Data yang diungkapkan Anies sebetulnya angka kementerian PUPR.
Statemen Anies dipandang sebagai “SERANGAN ” terhadap Jokowi. Pelbagai reaksi negatif dari elit-elit PDI-P, pendukung jokowi dan Pendukung jokowi mencoba mengklarifikasi serangan Anies. Sayangnya reaksi Pendukung Ganjar tidak didukung dengan data.
Menurut saya, Anies menginginkan perdebatan antar Bacapres/Capres dengan adu argumentasi, visi, misi, strategi untuk pembangunan nasional tahun 2024-2029.
Saya melihat “SERANGAN “, Anies sesungguhnya sebuah gagasan untuk membuka ruang kepada publik untuk mencari seorang pemimpin yang berkualitas, integritas nasional, punya kemampuan kepemimpinan yang mumpuni, seperti yang terdapat dalam Good Governance. Saya berharap semoga proses Pilpres dan Pileg berjalan sesuai regulasi. Jangan dirusak tatanan demokrasi kita. Pemilu itu adalah alat politik bukan tujuan.





















