Damai Hari Lubis-Pengamat Hukum & Politik Mujahid 212
Ada tiga Bakal Calon Presiden pada Pilpres 24yang akan dating, yang secara luas sudah diketahui public kita. Mereka adalah Anies Baswedan. Prabowo Subianto dan Ganjar Prabowo
Jika diskusi prediktif siapa dari ketiga bakal Capres yang akan keluar sebagai the winner? Estimsasi yang mudah disuguhkan sebagai standar bahan diskusi tersebut, dengan menggunakan nalar sehat dan tidak apriori, melainkan objektif beralaskan data empiric, terkait track record ketiga calon presiden, melalui jejak rekam dari semua sisi kehidupan sebelum menjadi bakal Capres termasuk pasangannya bakal Cawapres.
Track record jejak digital yang masih terekam dibanyak benak kepala publik, terkait sosok Ganjar adalah, dimata para pendukungnya Ganjar dianggap sebaga titisan Jokowi. Bahkan menurut Buzzer Denny Siregar, “Ganjar satu-satunya tokoh yang mirip dengan Jokowi”.
Tetapi teentu publik pun tahu, bahwa basis partainya Ganjar sama dengan Jokowi. Beberapa pengamat politik dan hukum menilai justru, Jokowi presiden yang “terburuk sepanjang sejarah Presiden RI”, dan viral dengan berbagai tagar di media sosial.
Sementara Ganjar, “diketahui oleh publik bersama dengan Puan Maharani pernah tersandung kasus E.KTP, sehingga mereka adalah seseorang yang terpapar kasus korupsi”.
Dimata mayoritas ummat muslim kepribadian Ganjar bercitra buruk, terlebih-lebih pada pengakuan dirinya yang menyatakan secara terbuka, saat podcast dengan Dedi C. “hobinya nonton fim bokep”. Bahkan mepertanyakan, tudingan public yang sumir kepada dirinya, “salahnya dimana?”
Sementara yang terkait sosok Prabowo, Ia terindikasi kuat, merupakan intellectual atau dader penculikan para tokoh mahasiswa, pada perisitiwa geralan mahasiswa reformasi 1998. Ini indikasi negatif ini dan dapat dibuktikan secara hokum; sebab publik telah memiliki data kronologis yang cukup booming, tersebar melalui channel youtube, yang sumber narasinya langsung dari sosok seniornya, Jend Purn Agum Gumelar, yang menyatakan, dirinya salah seorang dari para Jendral TNI. yang ” turut memeriksa Prabowo dalam kasus penculikan atau penghilangan orang pada tahun 1998, melaui tim mawar, akibat adanya peristiwa 27 Juli 1996, dan para anggota tim mawar dimaksud sudah menerima sanksi hukuman”.
Diantara para korban dari Prabowo, ada yang hingga saat ini, tidak ditemukan jasadnya. Selebihnya ada yang tetap hidup sebagai saksi sejarah, diantaranya Andi Arief, Pius Listru Lanang dan Alm. Desmond J. Mahesa.
Ketiganya terjun kedunia politik, namun melalui partai yang berbeda.
Lalu, Prabowo santer dianggap telah menghianati para ulama dibawah komando Tokoh Ulama yang ada pada bangsa ini, Imam Besar Habib Rizieq Shihab dan para simpatisannya temasuk kelompok Emak-Emak yang mendukungnya pada tahun Pilpres 2019.
Tidak tanggung tanggung, Prabowo justru menerima tawaran Jokowi untuk menjadi menteri dikabinet Jokowi. Sosok Jokowi sebagai orang yang menjadi lawannya, justru kemudian Prabowo adalah orang yang menjadi paling sering memuji kepempimpinan Jokowi, bahkan Prabowo berstatemen, “Jokowi is on the right track”. Jokowi lebih cerdas dari dirinya satu digit. Jika kelak dirinya menjadi presiden akan meniru kebijakan Jokowi, serta berbagai pujian lainnya ”
Ganjar dan Prabowo adalah “pecinta buta Jokowi”. Sebaliknya, dari kacamata publik yang juga tidak apriori, selain karena data, bahwa Jokowi selain sering berbohong, juga pada sektor pembanguan serta penegakan hukum yang dilakukan, tidak jarang, dia gugurkan sebuah ketentuan atau rule melalui diskresi yang overlapping. Pada bidang lain, utang negara hampir mencapai 8000 triliun, bahkan ada seorang politisi yang menyatakan, “sebenarnya utang negara sudah mencapai 20.000 triliun”.
Selain beberapa projek besar yang Ia gagas nir atau obscur hasil, juga sektor pembangunan fisik yang Ia kerjakan banyak yang mangkrak waktu maupun anggarannya. Diantaranya, projek rel kereta api cepat Jakarta-Bandung, Projek IKN., Projek Bandara Kerta Jati, dan lain lain, termasuk diskresinya mendatangkan warga asing untuk berbisnis di tanah air yang mendapatkan izin visa dan usaha yang dapat mencapai satu abad lebih.
Isu Jokowi akan menjual beberapa pulau, termasuk akan menjual pasir laut, yang highrisk akan bergesernya garis pantai, hingga beresiko mempersempit wilayah teritorial NKRI meluas. Dampak pasir yang dikeruk menyebabkan abrasi, setidaknya membuat rawan batas pantai, garis pantai, serta implikasinya terhadap sektor ZEE atau Zona Ekonomi Eksklusif, batas wilayah laut yang diukur 200 mil dari garis terluar suatu pulau. Sehingga “hampir semua kebijakan Jokowi, dirasakan riskan oleh banyak public”.
Sedangkan Anies, realitas selain eks Mendiknas 2014 – 2016, Anies adalah akademisi, sosok intelektual, Beliau memiliki figur dengan leadeship yang berintegritas tinggi, baik dari sisi kecerdasan dan piawai dalam manajemen kepemimpinan, sehingga banyak publik yang tidak jelas, apa alasan reshuffle Anies sebagai menteri pada tahun 2016 oleh Presiden Jokowi?
Sosok Anies mantan Gubernur DKI ( 2017 – 2022 ) yang banyak meraih kesuksesan dan penghargaan, baik dari lembaga formal dan non formal di tanah air, maupun berbagai penghargaan dari lembaga Internasional, selebihnya Anies sebagai Gubernur secara moral dari sisi pertanggung jawaban keuangan amat kredibel, akuntabilitasnya diakui oleh lembaga sah pengawas keuangan negara yakni BPK. BPK Menganugerahkan dirinya dengan sertipikasi sebanyak 4 kali berturut turut Opini WTP. YakniOpini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) atau unqualified opinion yang artinya, bahwa laporan keuangan entitas yang diperiksa, menyajikan secara wajar dalam semua hal yang material, posisi keuangan, hasil usaha, dan arus kas entitas tertentu sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.
Perbedaan lainnya, track record Anies yang riil kredibilitas, karena nyata mumpuni, namun kontradiktif selalu dihujat, bukan saja oleh oposan rasis ( para pembenci ), namun justru oleh beberapa orang menteri kabinet Jokowi.
Terakhir, sedang berlangsung saat ini, karya Anies JIS. Yang diakui layak menurut PSSI dan Fifa, sengaja akan direnovasi ( dibongkar ) oleh Jokowi dengan anggaran Rp. 5 trilun-an, biaya yang cukup aneh, karena melebihi anggaran pembangunannya sebesar Rp. 4 Trilun- an. Lalu ” ramai isu ” akan berganti nama dari JIS. Dengan inisial Jakarta International Stadium, menjadi JIS. dengan inisial Jokowi International Stadium.
Maka berdasarkan bio data serta sepak terjang dan hasil karya berdasarkan fakta dan data serta faktor ledership ( track record berikut attitude ) termasuk isu negatif yang tersebar tanpa rekayasa, terhadap pada ketiga capres 2024.
Diantara Anies, Ganjar & Prabowo, tentu perspektif bangsa yang memiliki Ideologi Pancasila (Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab) serta masyarakat yang bernalar sehat akan menutup diskusi, dengan menyatakan, bahwa Anies Baswedan selaku Capres dan Cawapres Pasangannya, memiliki chance yang besar akan memenangkan pemilu pilpres 2024 serta meraih Kursi RI. 1.
Dengan catatan para pemilih Anies, “harus super radikal menjaga dan mengawal, mengamankan suara kemenangan dari gejala gejala kecurangan, dan mendapatkan fakta dari bukti suara kemenangan yang autehentik disemua lokasi TPS di tanah air, termasuk sebagai alat bukti jika terpaksa harus ke mahkamah, untuk proses JR. Yang publik tahu MK. dipimpin oleh seorang Hakim Anwar Usman yang memiliki hubungan emosional dengan Jokowi yang sudah berikrar politik, ” Ia akan cawe-cawe dalam pemilu Capres”.
Makna super waspada dan hati – hati (radikal) dibutuhkan sebagai antisipasi terhadap adopsi daripada pola “hantu malam” melalui (SUARA) Desa Kepung Kota, manifestasi politik yang nyaris identik dengan pola yang digunakan Mao Tse Tung, yang bisa jadi akan dilakukan oleh pihak atau “Para oknum yang condong dengan pemahaman sosialis, sosok yang tidak bertanggung jawab”, namun pola kaum kiri dimaksud, sudah terendus, berencana, melalui tipu daya, intimidasi, bujuk rayu ( bingkisan ) kepada para bakal peserta pemilu (pilpres), disetiap TPS. yang berada di pelosok kampung, desa dan kota pada setiap propinsi ditanah air.
Maka, Insya Allah, demi meraih kemenangan, para simpatisan Capares Anies dan Cawapres pasangannya siapapun jatidirinya kelak yang diputuskan oleh KPP. Mesti dihormati, dan tunduk serta bersikap radikal namun konstitusional, demi menuju perubahan daripada gaya dan pola serta sistim kepemimpinan temasuk model SDM. Dari yang tercermin saat ini.
Untuk itu para simpatisan dari ketiga partai koalisi KPP (Koalisi Perubahan untuk Persatuan), wajib menangkan, mengawal dan menjaga kemenangan, jika tidak radikal, maka beresiko bangsa ini akan kembali menjadi bangsa terjajah oleh kepentingan oligarki.
Dengan pola kepemimpinan, yang tidak mustahil akan lebih buruk dari situasi dan kondisi kontemporer dan disayangkan serta dikhawatirkan, jika kepemimpinan yang otoritarian sebagai lanjutan gaya kepemimpinan dengan pola sistim kepemimpinan Presiden Jokowi, akhirnya kelak rakyat jemu serta kehilangan kesabaran lalu berakhir chaotic, tentu yang rugi adalah seluruh bangsa dan NKRI. Sehingga bangsa ini perlu perubahan didalam banyak bidang, demi kemajuan dan persatuan, serta tetap mempertahankan dan melanjutkan program yang sudah bagus untuk kemaslahatan bangsa ini, secara Lintas SARA.

























