Oleh: Prihandoyo
Ada malam ketika segala kata berhenti bermegah,
ketika manusia berhenti berpura-pura kuat.
Malam itu datang tanpa suara, namun mengguncang jiwa—
malam yang oleh langit diberi rahasia:
malam dua puluh tujuh.
Di tanah suci, di bawah langit yang sama sejak zaman para nabi,
lautan manusia mengalir seperti arus yang tak mengenal henti.
Mereka datang membawa tubuh yang lelah,
membawa sejarah hidup yang penuh noda,
membawa hati yang retak oleh kesalahan sendiri.
Di sana, tidak ada pangkat.
Tidak ada kekuasaan.
Tidak ada kehormatan dunia yang bisa dipamerkan.
Semua luruh.
Manusia berdiri sebagai manusia:
Rapuh, kecil, dan penuh kekurangan.
Inilah anti-klimaks dari seluruh kesombongan hidup.
Segala yang selama ini dibangun dengan bangga—
nama besar, kedudukan, pujian manusia—
tiba-tiba kehilangan maknanya.
Yang tersisa hanyalah satu hal:
seorang hamba di hadapan Tuhannya.
Tidak ada sekat di malam itu.
Tidak ada yang tersembunyi.
Semua pecah dalam tangisan yang jujur.
Tangisan yang tidak lagi malu.
Tangisan yang lahir dari kesadaran paling dalam
bahwa manusia selalu gagal menjaga dirinya dari dosa.
Di antara jutaan doa yang melayang ke langit,
ada pengakuan yang tak bisa lagi ditunda.
Bahwa kita sering berpura-pura baik.
Sering menutupi luka batin dengan topeng kesalehan.
Sering mengira diri lebih benar daripada yang lain.
Namun di hadapan Ka’bah,
semua topeng itu runtuh.
Bahkan batin pun tak mampu lagi menyembunyikan apa pun.
Hati terbuka seperti lembaran yang tak bisa ditutup.
Dan dari kedalaman jiwa yang paling sunyi
keluar jeritan yang mungkin selama ini dipendam:
Ya Allah…
Ampuni aku.
Ampuni segala tingkah lakuku
yang penuh dosa dan kepura-puraan.
Ampuni langkah-langkah yang sering tersesat.
Ampuni kata-kata yang melukai.
Ampuni kesombongan yang diam-diam tumbuh di hati.
Malam itu manusia menjadi telanjang—
bukan telanjang tubuh,
melainkan telanjang jiwa.
Tidak ada lagi tempat bersembunyi
kecuali dalam rahmat-Mu.
Di malam dua puluh tujuh,
manusia akhirnya mengerti sesuatu yang sederhana
namun sering dilupakan sepanjang hidup:
bahwa kita hanyalah makhluk yang selalu jatuh,
dan hanya dengan ampunan Tuhan
kita bisa bangkit kembali.
Maka tangisan di tanah suci itu bukan sekadar air mata.
Ia adalah bahasa jiwa.
Bahasa penghambaan.
Bahasa manusia yang akhirnya jujur kepada Tuhannya.
Dan di sanalah puncak penghambaan itu terjadi—
bukan dalam kebanggaan ibadah,
melainkan dalam kerendahan hati yang paling dalam.
Sebuah anti klimaks yang justru
menjadi awal dari kelahiran jiwa yang baru.
Oleh: Prihandoyo





















