Wolbachia pada Aedes aegypti tidak bisa berpindah ke serangga lain, begitu juga tidak bisa berpindah ke manusia. Aedes aegypti hanya menularkan empat penyakit, yaitu dengue, chikungunya, zika dan malaria. Jika ada penyakit lain yang disebabkan oleh vektor nyamuk lain, kejadian itu tidak dipengaruhi oleh nyamuk yang bukan vektor perantaranya.
Jakarta – Fusilatnews – Wolbachia menurut Prof. dr Adi Utarini yang biasanya dipanggil Prof Uut, adalah bakteri alami yang terdapat di sekitar 60 persen serangga, ternasuk pada lalat buah, kupu-kupu. Jika seekor serangga jantan wolbachia kawin dengan serangga betina tanpa wolbachia, maka telur yang dihasilkan tidak akan menetas. Jika serangga betina berwolbachia kawin dengan jantan tanpa wolbachia, maka telur akan menetas dan mengandung wolbachia. Jika keduanya memiliki wolbachia, telur akan menetas dan mengandung wolbachia.
Wolbachia pada Aedes aegypti tidak bisa berpindah ke serangga lain, begitu juga tidak bisa berpindah ke manusia. Aedes aegypti hanya menularkan empat penyakit, yaitu dengue, chikungunya, zika dan malaria. Jika ada penyakit lain yang disebabkan oleh vektor nyamuk lain, kejadian itu tidak dipengaruhi oleh nyamuk yang bukan vektor perantaranya.
Lantas, apa yang terjadi jika digigit nyamuk Wolbachia?
1. Tak berefek langsung pada manusia
Nyamuk yang terinfeksi Wolbachia biasanya tak menyebabkan efek langsung yang berbeda bagi manusia saat digigit. Wolbachia pada nyamuk umumnya hanya berdiam diri dalam tubuh nyamuk dan tak ditransmisikan kepada manusia saat nyamuk menggigit.
Menurut peneliti Wolbachia dari Universitas Gadjah Mada, Riris Andono Ahmad, walau efek gatal akibat gigitan nyamuk ber-wolbachia masih sama dengan nyamuk Aedes aegypti umumnya, nyamuk tersebut tak menularkan lagi virus dengue.
2. Pengaruh pada penyakit yang disebarkan oleh nyamuk
Peneliti yang kerap disapa Doni itu juga membantah soal bisa atau bakteri dalam tubuh nyamuk berpindah ke serangga lain, hewan, atau manusia. Menurut dia, bakteri Wolbachia hanya bisa tinggal di dalam sel tubuh serangga sehingga begitu keluar dari sel tubuhnya maka bakteri tersebut akan mati.
Artinya, Wolbachia dapat mengganggu reproduksi dan siklus hidup nyamuk. Penelitian telah menunjukkan bahwa ketika nyamuk Aedes aegypti (penyebab demam berdarah dan zika) terinfeksi Wolbachia, bakteri ini dapat mengurangi kemampuan nyamuk untuk menyebarkan virus-virus tersebut. Hal ini bisa menjadi metode kontrol vektor yang efektif untuk mengurangi penyebaran penyakit yang ditularkan oleh nyamuk.
3. Potensi dalam pengendalian populasi nyamuk
Melalui teknik pembebasan nyamuk yang terinfeksi Wolbachia ke populasi liar, upaya kontrol vektor sedang dikembangkan untuk mengurangi populasi nyamuk pembawa penyakit. Nyamuk yang mengandung Wolbachia ini, ketika dilepaskan ke alam liar, dapat membantu dalam menghambat penyebaran penyakit yang dibawa oleh nyamuk tersebut.
Dikutip dari Indonesia.go.id, Wolbachia menjadi inovasi yang dapat melumpuhkan virus dengue dalam tubuh nyamuk Aedes aegypti penyebab Demam Berdarah Dengue (DBD), sehingga virus dengue tidak akan menular ke dalam tubuh manusia.
Dikutip dari Centers for Desease Control and Prevention, komunitas di Texas dan Kalifornia yang telah melepaskan nyamuk ber-Wolbachia melaporkan adanya penurunan jumlah nyamuk Aedes aegypti. Nyamuk ber- Wolbachia telah berhasil digunakan di Singapura, Thailand, Meksiko, dan Australia.
























