Tulisan ini sebagai ilustrasi apa yang akan dilakukan Gibran, bila suatu saat tertaqdirkan Ia menjadi Presiden – karena satu dan lain hal – Prabowo tidak bisa lagi bekerja.
Sepengetahuan public, Gibran sejak Ia selesai sekolahnya, tak terekam bekerja disebuah perusahaan, kantor atau apapun. Ia tiba-tiba lebih dikenal sebagai Pengusaha Martabak itu. Namun demikian ada pengalaman-pengalaman yang penting untuk kita baca dan tela’ah. Ia mempunyai pengalaman yang unik. Tidak semua orang bisa seperti dia dan adik-adiknya. Ia mempunyai pengalaman khusus mulai usia 18 tahun.
Sejak di Solo, usia 18 tahun, ia menjadi anak Walikota Solo. Dengan penuh kesadaran, saat mulai memasuki usia dewasa, kemewahan dan fasilitas-fasilitas lainnya ternikmatinya selama 8 tahun bersama Ibu dan adik-adiknya.
Kemudian setelah itu berubah. Ia pindah ke Jakarta, lalu tinggal di Rumah Dinas Gubernur DKI Jakarta plus dengan segala fasilitas dan privilegenya pula yang melekat dengan jabatan Bapaknya.
Menempati Rumah Dinas di depan taman Suropati itu, hanya dua tahun. Ia kemudian pindah ke Istana Bogor. Ini luar biasa. Ia semakin jauh dari lingkungan rakyat biasa. Semakin terisolir dari lingkungan dan masalah-masalah social. Kemana saja didampingi ajudan security, dst.
Hidup yang seperti Gibran itu, saya kemudian teringat dengan kisah Sidharta Budha Gauthama.
Siddhartha tumbuh dalam kemewahan dalam istana kerajaan. Ia dilindungi dari penderitaan dunia luar dan diselimuti oleh kebahagiaan duniawi.
Siddhartha lahir sebagai putra Raja Suddhodana dan Ratu Maya. Menurut legenda, ketika ia lahir, para astrologer yang memeriksa tanda-tanda astrologis mengatakan bahwa ia bisa menjadi seorang pemimpin dunia atau seorang biksu suci.
Namun, suatu hari Siddhartha memutuskan untuk keluar dari istana. Ia kemudian menjelajahi dunia luar. Selama perjalanan ini, ia pertama kali melihat penderitaan, penyakit, penuaan, dan kematian, yang mengubah pandangan hidupnya secara drastis.
Cerita ini menunjukkan transformasi Siddhartha Gautama dari seorang pangeran yang hidup dalam kemewahan istana menjadi seorang guru spiritual yang mengajar ajaran Buddha kepada dunia. Kisah ini menggambarkan perjalanan menuju pencerahan dan pemahaman yang mendalam tentang sifat penderitaan manusia.
Kembali kesoal Gibran. Ia tidak sempat seperti Budha, hidup mencari pencerahan. Ia harus menjabat sebagai Wali Kota Surakarta yang dilantik pada 26 Februari 2021. Kini menjadi Pejabat public baru 2 tahun.
Akibatnya Sang Gibran, yang disebut sebagai bocah Ingusan oleh Panda Nababan, terlihat ia tidak mengerti harus melakukan apa, ketika ada yang mengadang-gadang mencawapreskan. Ia tidak menyadari dirinya miskin pengalaman hidup. Tidak punya prestasi apapun, selain menjadi anak Jokowi, bahkan bisa menjadi walikota pun karena diset oleh Bapaknya.
Ingat pepatah ini “Qui Ascendit Sine Labore, Descendit Sine Honore”. Seorang yang naik panggung tanpa pesiapan akan turun tanpa kehormatan. Gibran, bila saya ibaratkan sebagai petinju, ia baru berada di kelas bulu ringan. Tetapi Jokowi membiarkanya naik ring untuk tarung melawan petinju kelas berat.
Bila Jokowi ingin melanjutkan anak-anaknya menjadi penerusnya sebagai pimpinnan tertinggi di negeri ini, maka pelajaran yang harus ia tekankan adalah memberikan ilmu memahami kehidupan penderitaan orang-orang yang termarginalkan di negeri ini, mengapa mereka menjadi miskin. Ini masalah kita saat ini, bukan?
Ia tidak mengerti, mengapa kemudian orang-orang menjadi tua, lalu mati. Terus mau apa, cukup sampai dikremasi? Atau di kubur dalam peti mati bertabur emas dan berlian?
Tapi yang diajarkan Jokowi kepada anak-anaknya adalah seperti yang saat ini ia ajarkan, takut kembali menjadi warga dan rakyat biasa, produk dari cara berkuasa yang kemaruk.





















