Damaskus, 8 Desember (Reuters) – Presiden Suriah Bashar al-Assad, yang bertahan selama bertahun-tahun perang saudara dengan bantuan kekuatan Rusia dan Iran, akhirnya harus menghadapi kekalahan yang tak terelakkan. Minggu dini hari, ia meninggalkan Damaskus menuju lokasi yang dirahasiakan, menurut dua perwira senior militer Suriah.
Para pemberontak menyatakan Damaskus “bebas dari tiran Bashar al-Assad,” mengakhiri 50 tahun kekuasaan keluarga Assad. Patung ayah dan saudara Assad ditumbangkan di berbagai kota, sementara gambar-gambarnya di baliho dan kantor pemerintah dihancurkan, dibakar, atau diberondong peluru.
Assad naik ke tampuk kekuasaan pada tahun 2000, menggantikan ayahnya, Hafez al-Assad. Pemerintahannya ditandai dengan dominasi sektarian Alawite di negara mayoritas Sunni, serta aliansi erat dengan Iran dan permusuhan terhadap Israel dan Amerika Serikat.
Dari Harapan Reformasi ke Perang Saudara
Ketika menggantikan ayahnya, Assad sempat memberikan harapan akan reformasi melalui kebijakan yang dikenal sebagai “Musim Semi Damaskus.” Namun, harapan itu pupus ketika ia menekan para pembangkang dan melanggengkan nepotisme serta korupsi.
Protes damai yang muncul saat Arab Spring 2011 segera berubah menjadi perang saudara setelah rezim Assad menggunakan kekerasan brutal. Dengan dukungan serangan udara Rusia dan milisi yang didukung Iran, Assad berhasil merebut kembali sebagian besar wilayah yang hilang. Namun, Suriah tetap terpecah, ekonominya terpuruk akibat sanksi internasional, dan rakyatnya hidup dalam kesengsaraan.
Kejatuhan Assad
Sepekan terakhir, pemberontak merebut kota Aleppo, menandai eskalasi besar yang akhirnya memaksa Assad melarikan diri. Seorang perwira militer Suriah mengatakan kesepakatan telah dicapai dengan oposisi untuk menjamin keamanan pangkalan militer Rusia, termasuk pangkalan strategis di Laut Mediterania.
Dalam panggilan telepon dengan Presiden Iran, Assad menuduh pemberontakan itu sebagai bagian dari konspirasi yang didukung Barat. Namun, retorika itu gagal menghentikan momentum pemberontak yang kini menguasai sebagian besar Suriah.
Peninggalan Assad
Selama masa jabatannya, Assad dicap sebagai “penjahat perang” oleh komunitas internasional, terutama setelah menggunakan senjata kimia terhadap rakyatnya—sebuah tuduhan yang selalu ia bantah.
Meskipun demikian, beberapa negara Arab yang sebelumnya memutuskan hubungan dengan Suriah mulai membuka kembali pintu diplomasi dalam beberapa tahun terakhir. Namun, bagi banyak pihak, Assad tetap menjadi simbol kekejaman dan kegagalan rezim otoriter.
Kini, dengan runtuhnya kekuasaan Assad, masa depan Suriah memasuki babak baru yang penuh ketidakpastian. Pemberontak berjanji untuk melindungi kelompok minoritas di tengah transisi kekuasaan, tetapi tantangan besar dalam membangun kembali negara yang hancur masih membayangi.
























