• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Bahlil Terang-terangan Menjelaskan Nepotisme

Ali Syarief by Ali Syarief
February 5, 2026
in Feature, Tokoh/Figur
0
Bahlil Terang-terangan Menjelaskan Nepotisme
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Ali Syarief

Pada titik tertentu, demokrasi Indonesia tidak lagi mengalami kemunduran secara diam-diam. Ia dijelaskan secara terang-benderang, diumumkan tanpa rasa bersalah, bahkan seolah prestasi. Dan orang yang menjelaskannya kali ini bukan figur pinggiran, melainkan Bahlil Lahadalia—ketua umum partai besar, pejabat negara, sekaligus juru bicara paling jujur dari wajah politik kekuasaan hari ini.

Ketika Bahlil dengan enteng menyebut bahwa anak Adies Kadir akan menggantikan ayahnya di DPR, publik seharusnya tidak sekadar mengangguk. Ini bukan sekadar informasi teknis pergantian kursi. Ini adalah pengakuan terbuka bahwa politik telah diperlakukan sebagai urusan keluarga, dan parlemen sebagai ruang warisan.

Tidak ada lagi upaya menyamarkan. Tidak ada lagi bahasa moral, etika, atau bahkan kepura-puraan demokratis. Yang ada hanyalah kejujuran telanjang: kursi DPR bisa berpindah tangan seperti sertifikat rumah—asal masih satu garis, satu partai, satu kepentingan.

Di sinilah letak kebrutalan sesungguhnya. Bukan pada siapa yang menggantikan siapa, melainkan pada cara kekuasaan berbicara kepada rakyat. Pernyataan Bahlil seolah berkata: “Kami yang menentukan. Kalian cukup tahu dan terima.” Suara pemilih tidak lagi dianggap mandat, tapi izin sekali pakai yang bisa ditafsirkan ulang oleh elite partai.

Nepotisme, dalam pengertian klasik, biasanya dibungkus rapi. Ia disembunyikan di balik prosedur, disamarkan lewat kompetisi semu, atau dilapisi jargon profesionalisme. Tapi yang dilakukan Bahlil justru sebaliknya: nepotisme dijelaskan secara gamblang, tanpa rasa bersalah, tanpa malu, tanpa koreksi diri.

Lebih ironis lagi, semua ini terjadi di lembaga yang katanya mewakili rakyat. DPR bukan lagi arena gagasan, melainkan terminal estafet keluarga politik. Hari ini ayah, besok anak. Hari ini jabatan, besok silsilah. Rakyat tetap sama: hanya angka di kertas suara, tak pernah benar-benar diajak bicara.

Para pembela praktik ini tentu akan segera mengibarkan tameng legalistik. Akan disebutkan aturan, mekanisme, pasal, dan tafsir hukum. Tapi demokrasi bukan hanya soal legal, melainkan legitimasi moral. Dan ketika ketua umum partai merasa sah mengumumkan pewarisan kursi, maka yang runtuh bukan aturan, melainkan akal sehat demokrasi.

Bahlil, sadar atau tidak, sedang mengajari publik satu hal penting: bahwa di Indonesia hari ini, politik tidak lagi dikelola sebagai amanah, melainkan sebagai aset. Aset bisa dialihkan, dijaga, dan diwariskan. Bukan kepada yang paling layak, tapi kepada yang paling dekat.

Inilah bentuk paling jujur dari politik oligarkis: kekuasaan berputar di lingkaran sempit, sementara rakyat disuruh percaya bahwa semua ini adalah kehendak mereka sendiri. Sebuah ironi yang kejam, karena kebohongan itu kini bahkan tidak lagi diucapkan—cukup diumumkan apa adanya.

Jika praktik seperti ini terus dinormalisasi, maka jangan heran bila generasi mendatang tumbuh dengan keyakinan bahwa menjadi politisi bukan soal pengabdian, tapi soal kelahiran. Bukan soal gagasan, tapi soal nama belakang. Demokrasi pun berubah fungsi: dari sistem kedaulatan rakyat menjadi manajemen pewarisan kekuasaan.

Dan pada titik itu, pernyataan Bahlil tidak lagi sekadar kontroversial. Ia menjadi dokumen pengakuan—bahwa nepotisme bukan penyimpangan, melainkan metode. Bukan kesalahan, melainkan strategi. Bukan aib, melainkan kebanggaan.

Jika masih ada yang bertanya mengapa rakyat semakin sinis, apatis, dan marah terhadap politik, jawabannya sederhana: karena kekuasaan sudah berhenti berpura-pura peduli.

Dan Bahlil, dengan ucapannya sendiri, telah menjelaskannya dengan sangat terang.


 

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Menteri Luar Negeri Indonesia — Prabowo Atau Sugiono?

Next Post

Jeffrey Epstein Kekinian: Sejarah Berulang dan Menjadi Bola Liar

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Rupiah Menuju Rp22.000: Pemerintah Kehilangan Narasi, Rakyat Menanggung Konsekuensi
Economy

Rupiah Menuju Rp22.000: Pemerintah Kehilangan Narasi, Rakyat Menanggung Konsekuensi

June 6, 2026
Sony Siap Bongkar Nama Jokowi dan Nanik S Deyang dalam Kasus Korupsi BGN?
Birokrasi

Sony Siap Bongkar Nama Jokowi dan Nanik S Deyang dalam Kasus Korupsi BGN?

June 6, 2026
Maling Berkedok Gizi Terbukti!
Crime

Plot Twist Pencopotan Kepala BGN

June 6, 2026
Next Post

Jeffrey Epstein Kekinian: Sejarah Berulang dan Menjadi Bola Liar

KPK Sita Dokumen dan Barang dari Rumah Ridwan Kamil Terkait Kasus Bank BJB

OTT Demi OTT, Mengapa Korupsi Tetap Hidup?

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Feature

Pancasila: Lahir untuk Mati!

by Karyudi Sutajah Putra
June 2, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta - Baru pada 2016 lalu Bung Karno mendapat...

Read more
Evakuasi 380 WNI dari Iran Akan Lewat Jalur Darat, Pemerintah: Wilayah Udara Tidak Bisa Dilewati

Indonesia Kutuk Israel: Mengapa Kak Sugiono Kebakaran Jenggot?

May 25, 2026
Tangsel Ngotot Bangun PSEL Sendiri Tanpa Aglomerasi, Proyek Terancam Gagal

Tangsel Ngotot Bangun PSEL Sendiri Tanpa Aglomerasi, Proyek Terancam Gagal

May 24, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Rupiah Menuju Rp22.000: Pemerintah Kehilangan Narasi, Rakyat Menanggung Konsekuensi

Rupiah Menuju Rp22.000: Pemerintah Kehilangan Narasi, Rakyat Menanggung Konsekuensi

June 6, 2026
Sony Siap Bongkar Nama Jokowi dan Nanik S Deyang dalam Kasus Korupsi BGN?

Sony Siap Bongkar Nama Jokowi dan Nanik S Deyang dalam Kasus Korupsi BGN?

June 6, 2026
IPW Desak Propam Polda Metro Jaya Sidangkan Penyidik Polres Depok

IPW Desak Propam Polda Metro Jaya Sidangkan Penyidik Polres Depok

June 6, 2026
Maling Berkedok Gizi Terbukti!

Plot Twist Pencopotan Kepala BGN

June 6, 2026
Dari MOTAH 65 ke Jepang: Ketika Pengelolaan Sampah Masih Terjebak Cara Primitif

Dari MOTAH 65 ke Jepang: Ketika Pengelolaan Sampah Masih Terjebak Cara Primitif

June 5, 2026
Ketika Orang Jepang Menanam Bakau, Kita Menanam Vila

Ketika Orang Jepang Menanam Bakau, Kita Menanam Vila

June 5, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Rupiah Menuju Rp22.000: Pemerintah Kehilangan Narasi, Rakyat Menanggung Konsekuensi

Rupiah Menuju Rp22.000: Pemerintah Kehilangan Narasi, Rakyat Menanggung Konsekuensi

June 6, 2026
Sony Siap Bongkar Nama Jokowi dan Nanik S Deyang dalam Kasus Korupsi BGN?

Sony Siap Bongkar Nama Jokowi dan Nanik S Deyang dalam Kasus Korupsi BGN?

June 6, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Loading Comments...