• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Birokrasi

Menteri Luar Negeri Indonesia — Prabowo Atau Sugiono?

Ali Syarief by Ali Syarief
February 5, 2026
in Birokrasi, Feature, Tokoh/Figur
0
Evakuasi 380 WNI dari Iran Akan Lewat Jalur Darat, Pemerintah: Wilayah Udara Tidak Bisa Dilewati
Share on FacebookShare on Twitter

Sejarah diplomasi Indonesia tidak bisa dilepaskan dari peran besar para Menteri Luar Negeri (Menlu) yang pernah menjabat. Tiga tokoh klasik yang kerap disebut sebagai pilar diplomasi Indonesia di panggung global adalah Adam Malik, Mochtar Kusumaatmadja, dan Ali Alatas. Ketiganya menorehkan kiprah cemerlang yang sebagian besar terjadi karena dukungan kuat dari presiden pada zamannya — terutama Presiden Soeharto — sehingga memberi mereka ruang berstrategi yang luas dan mandiri.

Adam Malik adalah contoh klasik menlu yang menjadi wajah diplomasi Indonesia di dunia. Ia tidak hanya memimpin negosiasi penting seperti penyelesaian konfrontasi dengan Malaysia, tetapi juga menjabat Ketua Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada awal 1970-an — suatu prestasi yang jarang dicapai diplomat Indonesia sebelumnya. Kiprah diplomatiknya membuka ruang Indonesia untuk tampil sebagai negara yang kompetitif di panggung multilateralisme global.

Mochtar Kusumaatmadja, menggantikan Adam Malik, kemudian mengembangkan konsep diplomasi yang lebih sistemik, seperti mempromosikan konsep archipelagic state yang kemudian diakui oleh United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS). Ia juga memainkan peran penting dalam negosiasi regional yang kompleks, seperti isu Kamboja–Vietnam.

Ali Alatas kemudian membawa watak diplomasi Indonesia ke level yang lebih tinggi lagi. Ia dikenal luas karena perannya dalam merundingkan perdamaian Kamboja dan ikut merumuskan kerangka kerja ASEAN yang lebih terstruktur. Alatas adalah figur yang digadang-gadangkan untuk peran global lainnya seperti Sekretaris Jenderal PBB, sebuah peluang yang, menurut sejumlah analis, tertutup karena dinamika internal kekuasaan pada masa Orde Baru.

Dalam ketiga kasus tersebut, peran kepemimpinan presiden sangat menentukan. Di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto, ketiga menlu itu menerima kepercayaan besar untuk merumuskan dan menjalankan kebijakan luar negeri. Meski tetap dalam struktur kekuasaan yang kuat, Soeharto memberi mereka ruang strategis untuk mewakili Indonesia di kancah global — sebuah dukungan yang jarang ditemukan di era setelahnya.

Namun, sejarah diplomasi Indonesia pasca-Orde Baru mencatat tren yang berbeda. Di era Reformasi dan seterusnya, arah kebijakan luar negeri cenderung lebih dipengaruhi preferensi pribadi sang presiden daripada kapasitas profesional menlu itu sendiri. Sebagai contoh, di bawah pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY, 2004–2014), banyak analis berpendapat bahwa kebijakan luar negeri sering kali dipakai untuk memperkuat citra internasional sang presiden, yang berusaha membangun identitas Indonesia sebagai negara demokratis yang bertanggung jawab global. SBY bahkan memilih beberapa diplomat karier untuk posisi strategis, tetapi tetap menempatkan kepentingan pencitraan personal dalam banyak keputusan penting di luar negeri.

Situasi ini semakin jelas ketika mengamati dinamika terkini di era Presiden Prabowo Subianto. Kritik tajam terhadap kebijakan luar negeri Indonesia muncul karena keputusan-keputusan yang dinilai terlalu tersentralisasi. Misalnya, masuknya Indonesia ke Dewan Perdamaian yang dibentuk oleh tokoh-tokoh internasional tertentu menuai kontroversi karena dipandang lebih sebagai upaya politisasi nama dan posisi, ketimbang hasil diplomasi profesional yang matang. Kritik media seperti Tempo bahkan menyebutnya sebagai “diplomasi komando Prabowo” — sebuah istilah yang merujuk kepada dominasi keputusan presiden dalam urusan diplomasi, sementara peran profesional diplomat dipinggirkan.

Kritik serupa muncul ketika Presiden Prabowo menunjuk Sugiono sebagai Menteri Luar Negeri, yang dikenal sebagai politikus partai dan sosok dekat Prabowo, namun bukan karier diplomat profesional. Banyak kalangan menilai langkah ini sebagai simbol dominasi politik dalam ranah diplomasi, yang mungkin akan membatasi ruang inovasi dan kapabilitas diplomatik Indonesia di forum internasional.

Rekonstruksi perbandingan ini menunjukkan bahwa nasib seorang Menlu Indonesia sangat bergantung pada hubungan fungsional dengan presiden saat menjabat. Di era Soeharto, dukungan kuat memungkinkan tokoh-tokoh seperti Adam Malik, Mochtar Kusumaatmadja, dan Ali Alatas berkinerja di level profesional dan strategis global. Sebaliknya, di era sekarang, kecenderungan sentralisasi keputusan oleh presiden yang ingin mempertahankan citra dan pamor personal sering membayangi kesempatan Menu- untuk berkiprah secara independen dan profesional.

Akhirnya, ini bukan sekadar persoalan nama atau jabatan, tetapi model kepemimpinan nasional yang menentukan kualitas diplomasi Indonesia di mata dunia: apakah akan menjadi arena profesionalisme dan strategi kolektif, atau sekadar instrumen pencitraan politik personal.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

BPJS Kesehatan: Ini 3 Kriteria Peserta PBI yang Masih Bisa Aktifkan Lagi Kepesertaannya

Next Post

Bahlil Terang-terangan Menjelaskan Nepotisme

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Rakyat Tolak Gibran, Prabowo Terima; Rakyat Minta Adili Jokowi, Prabowo Malah Serukan ‘Hidup Jokowi’
News

Damai Hari Lubis Bantah Minta Maaf dan Terima Uang: Ini Rekayasa Politik, Bukan Proses Hukum

February 13, 2026
Hidayah yang Menemukan Akal  Ketika Al-Qur’an Berbicara tentang Peredaran Bumi
Feature

Hidayah yang Menemukan Akal Ketika Al-Qur’an Berbicara tentang Peredaran Bumi

February 13, 2026
Kalau Ijazah Jokowi Palsu, Terus Kenapa?: Ketika Moral Publik Dipatahkan dengan Santai
Feature

IF YOU CAN’T STAND THE HEAT, GET OUT OF THE KITCHEN

February 13, 2026
Next Post
Bahlil Terang-terangan Menjelaskan Nepotisme

Bahlil Terang-terangan Menjelaskan Nepotisme

Jeffrey Epstein Kekinian: Sejarah Berulang dan Menjadi Bola Liar

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
10 Isu Prioritas Bisnis dan HAM di Indonesia 2026 Versi Setara Institute
Bisnis

10 Isu Prioritas Bisnis dan HAM di Indonesia 2026 Versi Setara Institute

by Karyudi Sutajah Putra
February 12, 2026
0

Jakarta-Fusilatnews - Bisnis dan hak asasi manusia (HAM) adalah seperangkat prinsip yang berfokus pada tanggung jawab pelaku usaha untuk menegakkan...

Read more
Kuorum Tak Terpenuhi, DPR Tunda Paripurna Pengesahan RUU Pilkada

Habis KPK, Terbitlah MK: Dilemahkan!

February 7, 2026
Akankah Gibran Ancam Bunuh Prabowo Seperti di Filipina?

Ketika Prabowo Menantang Gibran Bertarung di 2029

February 7, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Rakyat Tolak Gibran, Prabowo Terima; Rakyat Minta Adili Jokowi, Prabowo Malah Serukan ‘Hidup Jokowi’

Damai Hari Lubis Bantah Minta Maaf dan Terima Uang: Ini Rekayasa Politik, Bukan Proses Hukum

February 13, 2026
Hidayah yang Menemukan Akal  Ketika Al-Qur’an Berbicara tentang Peredaran Bumi

Hidayah yang Menemukan Akal Ketika Al-Qur’an Berbicara tentang Peredaran Bumi

February 13, 2026
Prof Euis Amalia: Karya FKI Lebih Konkret Dibanding ICMI dan KAHMI

Prof Euis Amalia: Karya FKI Lebih Konkret Dibanding ICMI dan KAHMI

February 13, 2026
Ketua BEM UGM Dapat Teror Usai Suarakan Kasus Anak Bunuh Diri di NTT

Ketua BEM UGM Dapat Teror Usai Suarakan Kasus Anak Bunuh Diri di NTT

February 13, 2026
Kalau Ijazah Jokowi Palsu, Terus Kenapa?: Ketika Moral Publik Dipatahkan dengan Santai

IF YOU CAN’T STAND THE HEAT, GET OUT OF THE KITCHEN

February 13, 2026
Fenomena Langka Abad Ini: Gerhana Matahari Terpanjang Akan Mengubah Siang Menjadi Malam

Fenomena Langka Abad Ini: Gerhana Matahari Terpanjang Akan Mengubah Siang Menjadi Malam

February 13, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Rakyat Tolak Gibran, Prabowo Terima; Rakyat Minta Adili Jokowi, Prabowo Malah Serukan ‘Hidup Jokowi’

Damai Hari Lubis Bantah Minta Maaf dan Terima Uang: Ini Rekayasa Politik, Bukan Proses Hukum

February 13, 2026
Hidayah yang Menemukan Akal  Ketika Al-Qur’an Berbicara tentang Peredaran Bumi

Hidayah yang Menemukan Akal Ketika Al-Qur’an Berbicara tentang Peredaran Bumi

February 13, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...