Di sebuah sudut restoran cepat saji di bilangan Jakarta Pusat, waktu hampir menginjak tengah malam. Lampu neon menyala dingin di langit-langit, menerangi meja-meja kosong yang mulai lengang ditinggal pelanggan. Aku duduk sendirian, mengaduk kopi sachet yang terasa terlalu manis, menunggu hujan reda agar bisa kembali mengemudi pulang ke Depok.
Seorang karyawan perempuan datang merapikan meja di dekatku. Umurnya mungkin dua puluhan, wajahnya letih tapi tetap ramah. Kami mulai bercakap ringan.
“Sudah malam, Mbak. Nanti pulangnya aman?” tanyaku.
Dia tersenyum. “Aman, Pak. Saya tinggal di Cikini, deket kok.”
Aku tertegun sejenak. “Cikini? Wah, keren dong. Daerah mahal itu. Saya aja tinggal di Depok. Rumah di sana masih bisa kebeli.”
Dia tertawa kecil. “Waduh, saya cuma ngekost, Pak. Bertiga sekamar. Supaya kuat bayar sewa, dua setengah juta sebulan.”
“Ukuran kamar berapa?”
“Dua setengah kali tiga meter, Pak. Tapi cukup, asal akur.”
Aku ikut tertawa. “Cewek semua, kan?”
Dia mengangguk, wajahnya tampak ringan. Tapi di balik tawa itu, aku menangkap sorot mata yang menyimpan kenyataan: bahwa hidup di Jakarta bukan sekadar tentang bertahan, tapi juga berdamai dengan sempitnya ruang dan besarnya mimpi.
Di tempat lain, di gang sempit yang hanya bisa dilalui satu sepeda motor, kamar-kamar kost berdempetan, seperti petak-petak sarang lebah. Isinya manusia. Tiga, kadang lima dalam satu ruangan 2×3 meter. Ada kasur lipat, rak plastik, kipas angin tua, dan gantungan pakaian yang menumpuk bau keringat dan harapan.
Itulah Jakarta. Megapolitan yang menjanjikan banyak hal, tapi menyediakan begitu sedikit ruang untuk bernapas.
Pemerintah bicara tentang subsidi rumah. Ukuran 28 sampai 30 meter persegi. Orang-orang menyebutnya “kandang ayam”. Tapi bagi para penghuni kamar kost sempit, kandang itu mungkin lebih baik dari sangkar mereka sekarang.
“Kalau rumahnya di Cikini, atau dekat Sarinah, terus harganya 160 juta, saya beli, Pak!” kata Mbak karyawan itu, matanya berbinar.
Tentu. Karena harga tanah di sana sudah seperti mimpi — satu meter saja bisa setara harga satu sepeda motor. Dengan 160 juta, jangankan beli rumah, beli tanah 10 meter saja sudah seperti menukar emas dengan debu.
Tapi lalu bagaimana?
Orang bilang solusinya adalah rumah susun, apartemen subsidi. Di atas kertas, semua tampak logis. Lahan sempit? Bangun ke atas. Tapi realitanya 75% dari hunian tinggi itu kosong. Bukan cuma karena mahal, tapi juga karena rasa takut: takut gempa, takut terjebak saat kebakaran, takut tinggal dalam kotak tinggi yang asing dan dingin.
“Takut, Pak. Tinggal di apartemen itu kayak masuk peti. Kalau mati lampu, susah. Kalau banjir, mati kutu. Kalau gempa, habis.”
Begitu kata seorang teman. Dan aku mengangguk.
Mungkin solusinya adalah rumah tapak. Kecil, mungil, sempit, tapi membumi. Dua lantai. Kredit ringan. Bisa dicicil sejuta rupiah per bulan. Jika berdiri di Jakarta — atau minimal di tepiannya — rumah seperti ini akan diburu seperti sembako murah.
Atau, jika memang tak bisa, kembalikan program transmigrasi. Mereka yang tak sanggup bertahan di kota bisa memilih hidup baru di tempat yang lapang. Dengan rumah luas dan sawah lebar. Hidup tak harus selalu bertarung di ibu kota.
Malam makin larut. Mbak karyawan berpamitan pulang. Aku menatap punggungnya yang menjauh, lalu menatap lampu kota yang berkedip samar di kejauhan.
Jakarta, kadang terlalu sempit untuk manusia, tapi terlalu luas untuk harapan yang tak pernah diurus negara.
Balada kamar kost sempit itu bukan hanya tentang ukuran ruang, tapi tentang ruang hidup yang sempit di negeri yang terlalu sibuk membangun gedung, dan lupa membangun manusia.





















