• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Bangsa yang Besar adalah Bangsa yang Berani Mengakui Pahlawannya

fusilat by fusilat
November 10, 2025
in Feature, Tokoh/Figur
0
Bangsa yang Besar adalah Bangsa yang Berani Mengakui Pahlawannya
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Malika Dwi Ana

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para pahlawannya.”
Kata-kata itu bukan sekadar slogan kosong. Itu darah, itu nyawa, itu harga mati yang dibayar para pendahulu kita. Tapi hari ini, kalimat itu sedang diinjak-injak di depan mata kita. Oleh siapa? Oleh elit politik yang lebih suka menggali kubur masa lalu daripada membangun masa depan.

Mereka menolak gelar Pahlawan Nasional untuk Jenderal Besar TNI (Purn.) H.M. Soeharto. Alasannya? “Pelanggar HAM”, “koruptor”, “diktator”. Lucunya, alasan yang sama tidak pernah mereka pakai ketika memberi gelar Pahlawan Proklamator kepada Soekarno, yang memenjarakan bahkan membunuh lawan politiknya tanpa pengadilan, membungkam pers, dan membiarkan PKI membantai ribuan santri di Madiun 1948.
Soekarno dapat dua gelar pahlawan. Dari tangan Soeharto sendiri. Saat giliran Soeharto tiba? Ditolak mentah-mentah. Ini bukan soal keadilan. Ini soal dendam politik yang sudah membusuk 57 tahun.

Siapa Yang Bilang Soeharto Bukan Pahlawan?

Coba tanyakan pada petani yang dulu menangis bahagia saat Indonesia swasembada pangan 1984.
Tanyakan pada anak SD yang dulu sekolah gratis karena Inpres SD.
Tanyakan pada buruh yang dulu gajinya naik tiap tahun karena Repelita tumbuh 7%.
Tanyakan pada rakyat Aceh, Papua, Timor Timur yang dulu tidur nyenyak karena NKRI utuh tanpa teror separatis.
Mereka semua akan menjawab:
“Soeharto adalah pahlawan kami.”

Lucu saja:
Mereka yang tidak pernah merasakan hidup dijaman Orba, tak pernah merasakan inflasi 650% tahun 1966, mereka yang tidak pernah antre beras karena kelaparan, mereka yang lahir setelah 1998 dan cuma bisa baca sejarah dari Wikipedia versi buzzer, yang bilang: “Soeharto tidak layak jadi pahlawan.”

Soeharto Adalah Murid Jenderal Sudirman yang Dikhianati Anak Cucu Bangsa

Tahun 1949, Letnan Kolonel Soeharto memimpin Serangan Umum 1 Maret.
Enam jam menguasai Yogyakarta. Bendera Merah Putih berkibar di atas kota yang dikuasai Belanda.
Jenderal Sudirman sendiri yang memuji:
“Tanpa Soeharto, Yogyakarta tidak akan pernah kembali.”

Tahun 1966, Mayor Jenderal Soeharto memimpin operasi penumpasan G30S/PKI.
Enam bulan membersihkan pengkhianat yang ingin ganti Pancasila dengan palu arit. Dokumen CIA (declassified 2017) sendiri bilang: “The Indonesian coup of 1965–66 was the biggest victory for the West in the entire Cold War after Cuba.”
Artinya: Soeharto mengalahkan komunisme di negara berpenduduk Muslim terbesar dunia.
“Kemenangan terbesar Barat di Perang Dingin.”

Sudirman selamatkan Indonesia dari Belanda.
Soeharto selamatkan Indonesia dari Belanda dan dari komunisme.
Sudirman jadi Pahlawan Nasional.
Soeharto? Ditolak!
Ini bukan logika. Ini pengkhianatan terhadap sejarah.

Soeharto Memberi Gelar Pahlawan pada Semua Musuh Politiknya. Kita Balas dengan Apa?

  • Soekarno → Pahlawan Proklamator (1986)
  • Mohammad Hatta → Pahlawan Proklamator (1986)
  • Sutan Sjahrir → Pahlawan Nasional (1966)
  • Mohammad Natsir → Pahlawan Nasional (2008)
    Semua diberi gelar di era Soeharto.
    Tanpa dendam. Tanpa syarat.
    Bukti bahwa Soeharto mikul dhuwur, mêndhêm jêro.
    Tapi ketika tiba giliran dia, PKI, anak-cucu Soekarno, dan para pembenci Orba berteriak:
    “Tidak! Dia diktator! Dia koruptor, dia dalang dibalik genosida ’65!”

Kalau Soeharto diktator, mengapa dia memberi gelar pahlawan pada musuhnya?
Kalau Soeharto koruptor, mengapa dia mati-matian tolak IMF tahun 1998 sampai detik terakhir?
Kalau Soeharto jahat, mengapa dia tidak pernah sekali pun jelekkan Soekarno di depan publik?
Ini bukan soal fakta. Ini soal dendam yang dijual sebagai kebenaran.

Bangsa yang Besar Bukan Bangsa yang Lupa Jasa Pahlawannya

Jerman menghormati Bismarck meski dia otoriter.
Prancis menghormati Napoleon meski dia diktator.
Amerika menghormati Washington meski dia budak pemilik.
Indonesia?
Kita lebih suka mengorek kubur Soeharto daripada mengakui dia yang membuat kita bisa makan nasi, sekolah, dan tidur tenang selama 32 tahun.

Kalau Soeharto tidak layak jadi pahlawan,
maka cabut saja gelar Soekarno.
Cabut gelar Sudirman.
Cabut gelar semua pahlawan yang pernah salah.
Tapi kita tidak akan pernah melakukan itu.
Karena kita tahu: pahlawan bukan malaikat. Pahlawan adalah manusia yang berani mengambil keputusan sulit di saat bangsa terancam hancur.

Soeharto sudah melakukan itu. Dua kali.
– 1949 melawan Belanda.
– 1966 melawan PKI.
– Bangun negara dari inflasi 650% jadi 6%, dari kelaparan jadi swasembada pangan, dari jalan tanah jadi jalan tol pertama.
– Jaga NKRI utuh 32 tahun tanpa satu pun provinsi minta merdeka (bandingkan era reformasi: Aceh, Papua, dll).

Hentikan Pengkhianatan Ini

Hentikan narasi dendam yang dijual dengan bungkus HAM.
Hentikan buzzer yang dibayar untuk menghidupkan kubur 1965 tiap tahun.
Hentikan elit politik yang lebih suka jadi budak narasi asing daripada tuan di negeri sendiri.

Jika kita tolak Soeharto jadi pahlawan,
maka kita sama saja menolak Serangan Umum 1 Maret 1949, menolak swasembada pangan 1984, dan menolak 32 tahun stabilitas yang membuat kita bisa sekolah, makan, dan hidup tenang.

Jenderal Besar TNI (Purn.) H.M. Soeharto
Pahlawan Penumpas G30S/PKI
Pahlawan Pembangunan Repelita
Murid Jenderal Sudirman yang melanjutkan perjuangan di era berbeda. Dia sudah menjadi pahlawan di hati rakyat, dengan atau tanpa gelar. Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang berani mengakui jasa pendahulunya, bukan yang terus mengorek kubur masa lalu untuk bahan dendam dan kebencian.

Salam dua jari dari generasi yang pernah merasakan Indonesia damai, murah sandang panghan, aman dan teratur di bawah bapak bangsa bernama Soeharto.

Sekarang saatnya negara berani mengakuinya.
Sebelum kita benar-benar jadi bangsa yang lupa daratan.

#SoehartoPahlawanNasional
#BangsaBesarMenghargaiPahlawannya
#SudahiDendamnya

Malika’s Insight – 10 November 2025

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Kamu, CEO Kehidupanmu Sendiri

Next Post

Penetapan Pahlawan Nasional Soeharto Perberat Beban Politik Prabowo

fusilat

fusilat

Related Posts

Asfiksia: Kematian yang Sunyi dan Pertanyaan yang Menggema
Feature

Asfiksia: Kematian yang Sunyi dan Pertanyaan yang Menggema

April 14, 2026
DEKONSTRUKSI SEKURITISASI DEMOKRASI
Feature

DEKONSTRUKSI SEKURITISASI DEMOKRASI

April 14, 2026
Siklus Baru Peradaban Palsu
Feature

Siklus Baru Peradaban Palsu

April 14, 2026
Next Post
Penulisan Ulang Sejarah Indonesia, Hendardi: Fadli Zon Jangan Cari Sensasi

Penetapan Pahlawan Nasional Soeharto Perberat Beban Politik Prabowo

Bukan Kartini, Tapi Rahmah El Yunusiyyah: Pelopor Kebangkitan Perempuan

Bukan Kartini, Tapi Rahmah El Yunusiyyah: Pelopor Kebangkitan Perempuan

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Tanah dan Bangunan di Jalan Teuku Umar No 2 Menteng Bukan Milik Kemenhan RI, Ini Alasannya!
Law

Tanah dan Bangunan di Jalan Teuku Umar No 2 Menteng Bukan Milik Kemenhan RI, Ini Alasannya!

by Karyudi Sutajah Putra
April 13, 2026
0

Jakarta-FusilatNews - Pemberitaan sejumlah media beberapa waktu lalu ihwal pembongkaran rumah tua di kawasan cagar budaya, tepatnya di Jalan Teuku...

Read more
Jawaban Nasdem Terkait Tudingan Uang Rp 30 M  Disita KPK, Akan Digunakan Untuk Keluarga Nyaleg

Tertipu, Ahmad Sahroni Berkasus dengan KPK?

April 11, 2026
Antara Retorika dan Realita: Bisakah Prabowo Tumbangkan Outsourcing?

Padamnya Api Demokrasi di Tangan Prabowo

April 9, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Asfiksia: Kematian yang Sunyi dan Pertanyaan yang Menggema

Asfiksia: Kematian yang Sunyi dan Pertanyaan yang Menggema

April 14, 2026
DEKONSTRUKSI SEKURITISASI DEMOKRASI

DEKONSTRUKSI SEKURITISASI DEMOKRASI

April 14, 2026
Siklus Baru Peradaban Palsu

Siklus Baru Peradaban Palsu

April 14, 2026

Citronella Oil Produk Andalan (Rencana Jangka Pendek 5 Tahun: Model Bisnis 2 untuk Kesejahteraan Petani melalui Koperasi)

April 13, 2026
Anomali Belanja BGN di Tengah Narasi Efisiensi Negara

Anomali Belanja BGN di Tengah Narasi Efisiensi Negara

April 13, 2026
Rakyat Takut Prabowo: Ketika Bayang-Bayang Militer Membungkam Demokrasi

Rakyat Takut Prabowo: Ketika Bayang-Bayang Militer Membungkam Demokrasi

April 13, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Asfiksia: Kematian yang Sunyi dan Pertanyaan yang Menggema

Asfiksia: Kematian yang Sunyi dan Pertanyaan yang Menggema

April 14, 2026
DEKONSTRUKSI SEKURITISASI DEMOKRASI

DEKONSTRUKSI SEKURITISASI DEMOKRASI

April 14, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...